Mewaspadai Bias Kata

Sebanyak 104 siswa-siswi SMA dan SMK se Kota Mataram dan Lombok Barat begitu aktif dan antusias. Kehadiran Kepala Kampung Media Fairuz Abadi sontak menghidupkan suasana Pelaksanaan Kawah Kepemimpinan 2019, di Hotel Puri Saron Senggigi, Batulayar Lombok Barat.

Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan Dikbud NTB ini, di daulat mengajak pelajar, Cerdas dan Bertanggung Jawab Menggunakan Media Sosial.

Untuk urusan menghidupkan kebosanan dalam aktivitas kegiatan, pria yang akrab disapa Abu Macel ini memang jagonya.

Mengawali materinya, Fairuz mengajak pengurus Osis bermain kata-kata. "Coba berikan awalan me dan akhiran i pada kata sayang," perintahnya kepada siswi-siswi yang ikut pelatihan.

Dengan serentak dan riuh mereka menjawab, "Sayang, menyanyangi," jawab siswa serentak. 

Kemudian dilanjutkan dengan kata dasar Berita, Duata, Pesta dan Cerita. Dijawab pula dengan setentak "Memberitai, Mendustai, Mempestai dan Menceritai," 

Dengan memberikan penekanan pada ucapan maka kata dasar yang diberikan awalan "me" dan ahiran "i" tentu akan terdengar lucu.

Itu semua adalah permainan kata, maka maknanya, hati-hati dengan kata-kata. Setiap orang akan memaknai berbeda. Artinya, begitupun dalam kehidupan baik dalam bermasyarakat dan bermedia sosial di era perkembangan Teknologi Informasi.

Maka, setiap kata-kata atau pembicaraan atau tulisan harus dipikirkan agar meneduhkan dan tidak menyinggung orang. "Ini berlaku juga pada dunia maya, yang kalian kenal dengan Media Sosial saat ini," kata Fairuz.

Pelaksanaan Kawah Kepemimpinan yang diselenggarakan pada tanggal 24 s.d. 26 Oktoberber 2019, jelas menjadikan kalian pembeda dengan siswa lain. Dan ilmu ini harus ditularkan kepada teman-teman disekolahnya.

Penggagas Kampung Media ini juga mengingatkan agar hati-hati dalam merekam foto atau video pribadi. Karena era IT, HP android terkoneksi dengan jaringan internet. Namun sebaliknya dalam UU ITE akan ada UU perlindungan data pribadi.

Tujuannya jelas, melindungi privasi, berhati-hatilah mengunggah foto teman di media sosial, kemudian ia keberatan, ini menjadi persoalan hukum.

Fairuz juga menerangkan, keterbukaan informasi tidak dapat dibendung. Kenali informasi dengan baik. Caranya, cek lewat alamat websitenya. Bila milik pemerintah menggunakan go.id. Bila Universitas ac.id.

Tidak kalah menarik, pada sesi tanya jawab, siswa-siswi SMA ini begitu kritis menyampaikan berbagai pertanyaan. Salahsatunya tentang undang-undang pidana yang sempat viral.

Siswa SMA 10 Mataram Nurul Anisa Irwandi, Naldi dari SMA 5 Mataram dan Shmad Zakaria siswa SMK 1 Kediri, mempertanyakan urusan ayam tetangga masuk dihalaman rumah tetangganya kena denda. "Kok lucu pemerintah urusan ayam kok dipermasalahkan," tanyanya.

Dengan memberikan perumpamaan dan pemahaman pada tingkatan SMA, Fairuz menjawab relakah bila ayam tetangga membuang kotoran di ruang tamu kita, nah ini yg diatur oleh pemerintah karena uu itu akan berlaku hingga kedepan. "Maka, baca dan pahami, kita terjebak dalam permainan kata tadi, terlalu berlebihan menanggapinya," jawab mantan Sekdis Kominfotik NTB ini.

Kepala Cabang Dinas Dikbud Lombok Barat dan Mataram Drs. H. Abdurrosyidin R., M.Pd. usai sesi penyampaian materi Cerdas Bermedsos, mengatakan generasi SMA/SMK saat ini harus diperkuat karakternya.

Kawah Kepemimpinan ini diharapkan mampu menanamkan dan membentuk dan mencetak siswa yang berkarakter pemimpin.

Keterbukaan Informasi juga menjadi masalah bagi pelajar, sehingga jiwa kritisnya kebablasan.

"Nah, kegiatan 3 hari ini semoga mampu
menguatkan sikap perilaku positif, memilki kompotensi,  kecakapan emosi, mental, iman dan ketaqwaan dalam membentuk karakternya," tutur Abdurrosyidin. (Edy)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru