Membaca Ekosistem Sastra di Kampus

Menguraikan topik yang membahas persoalan sastra di lingkup pendidikan tak dapat dipungkiri akan menghadirkan sengkarut yang tak usai perihal betapa asing sastra di medan di mana seharusnya sastra itu dapat tumbuh. Banyak hal yang akan disinggung seperti mengapa sastra itu tidak memperoleh tempat, mengapa kerja sastra seperti kerja “angker” yang kehadirannya seolah ada tapi ternyata tidak ada atau sebenarnya tidak ada tapi dibuat seolah-olah penuh dengan gegap gempita. Orang membicarakan sastra dan melontarkan sejumlah keluhan perihal betapa praktisi pendidikan tidak menaruh minat pada kesusastraan dan itu berdampak tidak adanya minat membaca dan menulis di kalangan peserta didik. Pertanyaannya, apakah sastra itu memang ada di lingkup pendidikan kita? Kalau ada, sejauh mana pembelajarannya? Di sisi lain, semarak sastra tampil secara permukaan melalui lomba-lomba menulis dan membaca karya sastra di lingkungan akademisi yang sekonyong-konyong banyak melahirkan penulis dadakan. Ada yang kemudian berbicara tentang puisi, menyanyikan puisi, lomba penulisan cerpen dengan mengusung tema-tema tertentu, serangkaian aktivitas yang seperti menampilkan kesaksian bahwa sebenarnya sastra itu “ada”, sastra itu tidak “asing”, sebuah antithesa dari kematian sastra di lingkup pendidikan yang selama ini dipersoalkan. Sengkarut sastra di berbagai jenjang pendidikan rupanya tidak memiliki perbedaan yang menonjol jika dilihat dari sudut pandang permasalahannya. Posisi terpencil, kehadiran bak “anak tiri”, bidang perhatian yang tersisih, merupakan beberapa pandangan yang muncul apabila mencoba lagi melihat keterlibatan sastra di lingkup pendidikan.

Kita mencoba merapatkan lensa kepada objek yang lebih khusus yaitu perihal sastra di kampus. Apa yang terlintas di benak kita ketika mendengar kata “sastra” dan “kampus”? Apa hubungan antara keduanya? Apakah sastra di kampus itu ada? Sehingga istilah pembacaan ekosistem sastra di kampus dalam tulisan kali ini tidaklah terlalu mengada-ada terkait simpul yang coba diuraikan untuk melihat sejauh mana dinamika sastra di kampus itu sendiri.

Perguruan Tinggi sebagai tingkat pendidikan paling atas memang memiliki peranan penting sebagai wadah yang dapat menerapkan nilai-nilai kesusastraan, tidak hanya sebatas memenuhi tugas akademik, melainkan juga menerapkan bagaimana pentingnya laku yang ada dalam karya sastra dapat menjembatani sekian laku lain baik yang berkaitan dengan bidang sosial, ekonomi, politik, sejarah, dan sebagainya. Kita perlu mula-mula melihat dari yang paling dekat yaitu kegiatan kritik atau kemampuan mengadakan evaluasi terhadap sesuatu. Bukankah sudah merupakan kewajiban mahasiswa untuk mengekspresikan kritik mengenai persoalan yang dianggap belum beres? Bukankah sudah lazim diketahui bahwa cara belajar mahasiswa berbeda dengan cara ketika masih duduk di bangku sekolah menengah? Mahasiswa harus berani berbicara, melontarkan argumen yang dilandasi dengan alasan-alasan logis, memberi nilai pada sesuatu yang ditinjau setelah melalui gulat pikir yang kritis. Bagaimana kemudian menumbuhkannya? Atau bagaimana mengasah kepekaan perihal berpikir kritis dalam kepentingannya berargumen itu?

Sastra menjadi ladang yang amat subur untuk memunculkan sekian banyak pemantik yang akan melahirkan argumen-argumen. Dalam karya sastra terdapat banyak kenyataan yang memiliki dasar dengan realita yang ada dalam masyarakat. Pembaca tidak sekedar menikmati cara penyajian realitas yang tertuang dalam karya sastra, namun juga melakukan pembacaan kritis terhadapnya. Perkara-perkara yang memiliki pertalian dalam kehidupan sehari-hari mendapat tempat untuk memperoleh evaluasi yang akan melahirkan argumen-argumen, yang akan membuka peluang lahirnya kritik. Sehingga, mahasiswa yang sering membaca karya sastra lebih memiliki keterampilan dalam mengemukakan pendapatnya sebab dengan membaca karya sastra ia dilatih untuk meninjau dengan mencoba berdiri pada kepentingan-kepentingan di luar dirinya, melihat segala sesuatu dari berbagai macam sudut pandang.

Judgment dan Orisinalitas

Beberapa waktu lalu, dalam salah satu rangkaian acara Festival Sastra OctoFest 2017 bertajuk “Ekosistem Sastra di Kampus” (26/09/2017), masing-masing perwakilan kampus di Mataram duduk bersama-sama menerangkan perihal kehidupan sastra di kampus mereka. Ada yang datang dari kampus UNRAM, UIN Mataram, UNW Mataram, IKIP Mataram, UNU NTB, dan Universitas Muhammadiyah Mataram. Berdasar pemaparan, terlihat batu sandungan khas yang menimpa perkembangan sastra di hampir semua kampus di Mataram yaitu minat baca sastra yang rendah di kalangan mahasiswa, ada sekat yang tercipta di kegiatan kesenian (sastra) antara mahasiswa sebagai penyelenggara dan dosen yang jarang terlibat bersama, serta kurangnya wadah apresiasi di UKM-UKM kampus untuk merangkul sastra.


Benturan yang paling menyolok terlihat: oleh karena ruang apresiasi yang sedikit di kampus maka sastra menjadi sesuatu yang terletak di “pinggir”. Jangan lagi berharap ada usaha yang mencoba menjadikan sastra sebagai pusatnya, minat membaca di kalangan mahasiswa saja sudah terlanjur berada pada tahap “ogah-ogahan”. Yang dianggap “ogah-ogahan” ini ternyata kemudian berdampak pada kerja akademik mahasiswa itu sendiri yakni ketika tiba masa penyusunan skripsi, sering yang terjadi mahasiswa kalang kabut hanya untuk menentukan sebuah judul penelitian. Penentuan judul itu tentu saja memiliki pertalian dengan kebiasaan berargumen yang telah dipaparkan di awal tulisan ini. Kebiasaan berargumen tidak timbul manakala berpikir kritis pun tidak dibiasakan oleh sebab kemalasan membaca yang bukannya menurun tingkatannya tapi malah bertambah semakin kental.


Padahal ide-ide cemerlang dapat muncul dengan berimajinasi dan sastra telah membuka gerbang yang sangat lebar untuk melahirkan imajinasi-imajinasi baru. Bukankah pendidikan kita selalu mengharapkan judgment untuk sesuatu yang menjadi objek evaluasi? Bagaimana mungkin dapat memberikan judgment kalau tidak ada argumen? Dan bukankah pendidikan kita selalu menuntut orang-orang yang terlibat di dalamnya menghasilkan orisinalitas baru? Bagaimana mungkin menghasilkan orisinalitas kalau judgment yang dipaparkan sendiri lemah, tidak berdasar pada apa pun oleh sebab wawasan si pencetus judgment (mahasiswa) sangat kurang akibat dari kebiasaan membaca yang juga kurang.

Maka tak heran, sering ditemukan judul-judul penelitian yang tak lain merupakan pengulangan dari skripsi-skripsi tahun lalu atau kita menemui juga sekian banyak teori, kutipan-kutipan dalam sebuah laporan mahasiswa yang hanya disertai judgment receh macam begini, “Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat dikatakan penelitian ini telah sesuai dengan… bla…bla…bla...

Rupanya banyak cabang yang terkuak dari suatu cabang pokok perihal keterasingan sastra di kampus. Semuanya memiliki hubungan dan memberi dampak problematis pada kerja akademik maupun internal mahasiswa itu sendiri. Barangkali akan sangat sulit menjungkirbalikkan status sastra yang terlanjur dianggap sesuatu yang bersifat “sampingan”. Namun, yang perlu diingat pula bahwa meski keasingan sastra merupakan realitas yang tak dapat ditolak, ada banyak juga sebenarnya bakat-bakat kreatif yang sudah lama mendekam dan menunggu untuk disalurkan. Suara-suara mahasiswa yang berbicara perihal ekosistem sastra di kampus, juga menyuarakan harapan perlunya wadah di kampus yang menampung bakat-bakat itu. Sebab, si pemilik bakat bukanlah orang yang berada di luar kampus, melainkan sang mahasiswa itu sendiri.

Keterangan:

Esai ini pernah terbit di Halaman Opini Harian Suara NTB Edisi 17 November 2017

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru