Restorasi Dan Revitalisasi Fungsi Sekolah Sebagai The Best Trauma Healing Untuk Anak-anak Pasca Gempa

Sudah maklum bahwa gempa adalah satu bencana yang menyeramkan. Tidak hanya tentang bagaimana selamat dari bencana, warga yang menjadi korban juga harus berfikir keras tentang bagaimana hidup dan beraktifitas layaknya tidak ada bencana. Usaha-usaha pasca gempa di Nusa Tenggara Barat adalah satu PR bersama. Salah satu yang menjadi fokus adalah penyembuhan dari trauma pasca gempa. Dalam tulisan ini, saya akan mengulas tentang sekolah sebagai trauma healing paling ampuh untuk anak-anak korban gempa.

Ada banyak hal yang menjadi kesedihan para korban gempa. Selain kematian dan kehilangan tempat tinggal, mereka, terutama anak-anak, kehilangan sekolah sebagai tempat belajar sekaligus tempat bermain mereka. Fakta yang terjadi di lapangan adalah di mana fungsi sekolah harus terhenti, tidak hanya karena bangunan sekolah sudah tidak layak pakai, tapi karena para guru juga termasuk sebagai korban gempa. Dengan kondisi seperti ini, khususnya di Lombok Utara, selalu ada guru yang berinisiatif meneruskan kegiatan belajar dan bermain, walau hanya di bawah tenda darurat. Inisiatif demikian pada dasarnya bukan hanya untuk memberikan kesan bahwa kegiatan belajar mengajar terus berjalan walaupun tidak maksimal, tetapi juga untuk meminimalisir duka terutama pada mereka yang masih anak-anak.

Bagi anak-anak, sekolah adalah rumah kedua mereka. Ada guru-guru yang menghibur, teman-teman yang mendamaikan, dan lingkungan yang selalu memberikan kesan kesejajaran dan kesetaraan. Seragam mereka melambangkan kesetaraan bahwa dari manapun mereka dan dari keluarga siapapun, mereka punya hak yang sama untuk sukses. Sekolah lah yang membuat mereka merasa aman dan bebas dari intimidasi kehidupan apapun di keluarga mereka. Sekolah lah yang menjadi perhatian paling banyak seorang anak. Setiap pulang ke rumah masing-masing, mereka tidak banyak berfikir bagaimana menyelesaikan masalah yang ada di rumah mereka, melainkan berfikir bagaimana menyelesaikan tugas dan kepentingan-kepentingan sekolah mereka. Ketika ini terhenti, psikis anak akan sangat terganggu. Bagi mereka, kehilangan sekolah adalah kehilangan segala-galanya. Oleh sebab itu, sangat penting untuk memperkecil periode antara datangnya bencana gempa dan restorasi penuh fungsi sekolah.

Hal yang menjadi refleks ketika bencana gempa dahsyat terjadi adalah bagaimana memastikan bahwa para korban mengungsi atau diungsikan ke tempat yang layak. Tidak ada yang salah dengan hal demikian. Akan tetapi, tidak tepat untuk menafikan pentingnya aktivasi sekolah kembali. Karena sekolah atau kegiatan belajar mengajar merupakan kebutuhan pokok bagi anak-anak, maka penyediaan tempat tinggal sementara dan kegiatan belajar-mengajar harus ditempatkan pada prioritas yang sama sebagai aksi pasca bencana.

Kegiatan belajar mengajar pasca gempa yang dibutuhkan adalah kegiatan yang menghibur dan menyenangkan bagi anak. Tidak perlu terlalu banyak materi menghafal. Yang terpenting adalah menyeimbangkan kerja otak kiri dan kanan anak. Saat kegiatan mereka berhenti, di situlah trauma itu berakibat fatal pada psikis anak, yang kemudian kalau ini terjadi dalam kurun waktu yang lama, dikhawatirkan dapat menyebabkan childhood depression, yakni kondisi psikologis anak yang dapat mengakibatkan anak mengalami masalah dalam perkembangan otak. Dengan demikian, perlu disediakan fasilitas-fasilitas yang responsif dan dapat menunjang kegiatan belajar dan bermain mereka. Kegiatan dimaksud adalah kegiatan yang lebih terkontrol walaupun dengan fasilitas-fasilitas yang sederhana.

Kendala yang sudah umum terjadi selain mengenai fasilitas adalah keterbatasan sumberdaya manusia. Menjadi satu tantangan yang besar ketika kebutuhan psikologis anak harus dianaktirikan karena kebutuhan yang lebih bersifat fisik. Namun pada praktiknya, para relawan juga sangat peduli akan pentingnya hiburan dan belajar bagi anak-anak korban gempa. Tidak sedikit Lembaga-lembaga peduli anak yang sudah mencoba melakukan restorasi kembali kegiatan belajar mengajar untuk mereka. Hal ini akan sangat baik jika dikolaborasikan dengan program penanganan yang dilakukan oleh pemerintah daerah sehingga kegiatan-kegiatan tersebut dapat lebih sistematis.

Penyelenggaraan pendidikan pasca gempa tentu harus dilakukan secara bertahap. Seyogyanya kurikulum juga harus menyesuaikan dengan kondisi psikis anak-anak. Dalam hal ini, kurikulum pengajaran mungkin harus fleksibel di mana anak-anak, terutama siswa-siswi TK dan SD yang menjadi korban gempa bisa lebih dipapar pada kegiatan-kegiatan yang bersifat menghibur, tidak hanya permainan, tapi juga pembelajaran yang lebih aplikatif dan menggugah.

Program-program trauma healing sudah banyak dicanangkan untuk para korban gempa. Tentu setiap program memiliki kelebihan dan kekurangan. Permasalahan yang biasa terjadi adalah di mana program-program tersebut hanya bersifat temporer, yang dikarenakan oleh keterbatasan dalam hal sumberdaya dan waktu. Sebagai solusi, tujuan-tujuan program ­trauma healing atau yang kerap disebut juga dukungan psiko-sosial dapat juga diintegrasikan dengan kegiatan belajar mengajar, yakni dengan meningkatkan entertainability dari kegiatan pembelajaran di sekolah. Dengan demikian, bantuan psiko-sosial tersebut tidak lagi bersifat sementara namun berkelanjutan dan bahkan tidak hanya menjadi trauma healing semata, melainkan juga sebagai penunjang mereka di dunia pendidikan untuk masa depan yang lebih cerah. Inilah mengapa trauma healing terbaik adalah melalui restorasi dan revitalisasi fungsi sekolah.

Dengan fasilitas sesederhana apapun, kegiatan belajar mengajar tidak boleh diberhentikan dalam waktu yang terlalu lama. Mereka juga harus didukung dengan kegiatan dan materi pembelajaran yang menyenangkan karena dunia anak adalah dunia belajar dan bermain. Bencana apapun yang terjadi, pendidikan untuk mereka adalah hal yang mutlak harus selalu diprioritaskan sebab anak-anak-anak adalah generasi penerus yang akan menentukan nasib bangsa ke depan. Hal ini adalah tugas setiap elemen sosial baik pemerintah maupun masyarakat.

#LombaNTBKita

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru