Siswa Disabilitas Juga Bisa

KM Taliwang – Hari Sabtu bagi kami terutama siswa merupakan hari paling membahagiakan. Tak hanya berolahraga pada pagi hari, pasca olahraga siswa disabilitas berksempatan mengasah kemampuan. Terutama soal kemandirian. Yatu membuat Ote-Ote. Dalam bahasa Tangerang, saya menyebut Bakwan.

Panganan yang terdiri dari adonan tepung terigu, sayur mayur seperti tauge, wortel, jagung dan sebagainya, sangat digemari masyarakat kita untuk camilan disaat menyeruput kopi atau teh. Baik dikala sendiri atau dalam satu komunitas. Tanpa cemilan satu ini, diskusi terasa hambar. Ibarat sayur tanpa garam.

Kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), bak·wan merupakan makanan terbuat dari jagung muda dan sebagainya yang dilumatkan, dicampur dengan tahu atau udang, kemudian diadon bersama telur dan tepung terigu dan digoreng

Bagi siswa Disabilitas SLB Negeri Taliwang, membuat Ote-ote merupakan sebuah tantangan sekaligus kesempatan menyenangkan sembari melatih diri untuk tidak ketergantungan keada orang lain. Hal ini senada dengan hadits Rasul SAW. “...Khairun naas anfauhum linnaas. Artinya, ...Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama manusia..." [HR. Thabrani dalam Al-Ausath].” Paling tidak bermanfaat bagi keluarga. Bisa diandalkan bantu-bantu di dapur. Sederhana, namun sangat berarti bagi mereka dan orang disekelilingnya.

“Kami hanya mengarahkan. Selebihnya mereka. Selebihnya mereka yang menuntaskan,” ungkap Yuliana Indra Kswaraningsih sebagai salah satu guru pembimbing.

“Dari mencuci sayuran, memotong dan mengolah menjadi adonan siap goreng, mereka yang melakukan,” timpal Afiana.

“Mereka sangat menikmati momen membuat Ote-ote,” lanjut Afiana.

“Dandi Roliwansyah misalnya. Dengan bangganya dia menaruh adonan ke dalam wajan. Siswa tunagrahita ringan ini, menatanya satu persatu. Seperti sudah professional. Sementara Abdulah semangat sekali mencuci pring dan perlengkapan memasak. Begitu juga Lusi (siswa tunagrahita sedang), ia memotong bahan-bahan ote-ote. Pun demikian dengan Arga, Riswand, Ana, Tendri, Sabila hingga Nel. Semua sangat semangat,” papar Yuliana.

Kedepan, baik Yuliana maupun Afiana, bertekad untuk memberikan bimbingan berkelanjutan. Tidak hanya membuat ote-ote tapi panganan lain yang lebih menantang. 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru