Perlunya Mengajak Siswa Empat Mata

Proses belajar mengajar akan lancar ketika 2 pokok komponen yaitu guru dan siswa damai. Damai dalam artian setiap komponen memahami bagaimana fungsinya masing-masing. Guru menyampaikan materi dengan metode yang baik sehingga siswa dengan mudah memahami. Siswa pun demikian, mendengarkan guru hingga akhirnya mencoba untuk memahami materi yang dijelaskan guru. Selain hal demikian, untuk guru, bukan hanya sekedar mengajar di depan kelas, namun tugasnya yang paling berat adalah mendidik.


Apakah mendidik itu sulit? Untuk tahap siswa tingkat remaja mendidik sangatlah sulit. Banyak hal yang menyebabkan hal demikian. Salah satu penyebabnya karena masa remaja ini, siswa akan mencoba melakukan berbagai eksperimen. Contohnya; memerahkan rambut, mencoba diam-diam merokok, bolos, dan lain-lainnya. Permasalahan inilah yang menyebabkan mendidik itu sulit.

Sebagai guru, ketika menemukan hal ini tentunya harus bertindak lebih lanjut. Guna mengurangi permasalahan demikian. Mungikin, bisa dikatakan juga pada tahap ini dikatakan ‘kenakalan anak remaja’. Nah, saat guru menemukan hal ini, tindak lanjut apa yang dilakukan?

Baiklah, mungkin di sini, saya ingin berbagi cerita saja. Ini berdasarkan pengalaman saja. Intinya, ini hanya cara saya untuk menyelesaikan yang terjadi di siswa. Apakah ampuh? Tentu saja tidak. Tapi, setidaknya bisa mengurangi.

Di skeolah saya, ada banyak permasalahan yang terjadi atau saya temui; jarang masuk, bolos, rambut merah, dan ada lain-lainnya. Untuk mengatasi ini, saya hanya melakukan empat mata dengan siswa yang bersangkutan. Jadi, ketika menemukan siswa yang mengalami permasalahan di atas, maka saya akan mencoba memanggil mereka. Setelah memanggil, ajak mereka berbicara. Saat inilah, sebagai guru akan menemukan beberapa permasalahan siswa tersebut.

Contoh, ketika saya memanggil siswa yang jarang masuk. Ada beberapa hal penyebab mereka tidak masuk; tidak ada ongkos, tidak ada kendaraan, permasalahan orangtua, bekerja, dan masih ada alasan lainnya. Dengan menemukan ini, tentu guru harus menemukan jalan keluar bagi siswa tersebut. Jalan keluar biasanya melapor ke kepala sekolah, siapa tahu akan ada jalan keluar. Pengalaman saya, di tempat saya sekolah, banyak siswa yang kesulitan masalah transportasi. Dengan sigap, kepala sekolah baiasanya akan menyewakan kendaraan untuk dipakai siswa.

Contoh permasalah lainnya, terkait dengan rambut merah. Ketika saya memanggil mereka empat mata, saya akan mencari tahu alasan siswa tersebut kenapa bisa sampai memerahkan rambutnya. Kemudian, saya akan memberikan pilihan bagi mereka; kira-kira rambutnya dimerahkan semua atau dihitamkan. Saat pilihan itu ada, maka tentu mereka akan memilih menghitamkan rambutnya.

Apakah hal itu memiliki efek? Oke, jadi di sini tantangannya. Selain melakukan empat mata, tentu sebagai guru memberikan petuah, motivasi, nasehat, hingga lain-lainnya. Intinya, memberikan pandangan mana yang baik dan tidak setidaknya akan memberikan renungan pada siswa tersebut. Jadi... pada dasarnya, melakukan empat mata cukup efektif untuk merubah siswa.

Walaupun efektif, pada dasarnya ada saja siswa yang sulit diatur. Bahkan, ada siswa yang hanya peduli ketika guru yang sering menasehatinya saja. Maksudnya, ada siswa yang segan terhadap gurunya karena guru tersebut sering memebrikannya nasihat atau lainnya. Maka dari itu, diharapkan kepada semua guru untuk peka terhadapa siswa.

*****

Oke, pada intinya, di sekolah mana pun, banyak permasalahan yang terjadi di siswa. Setiap guru juga memiliki kinerja untuk mencoba memecahkan masalah siswa. Tinggal sekarang, guru dituntuk benar-benar peka terhadap siswa. Biasanya, guru yang peka terhadap siswa akan disegani oleh siswa.

Contoh berdasarkan pengalaman saya ini bukan bermaksud apa-apa. Toh, saya juga masih berusaha mendidik siswa. Walau saya dicap sebagai guru pemarah, nyiyir dan lain-lain. Apa saya akan marah dikatakan seperti itu? Tidak sama sekali. Apalagi dilihat dari siswa jaman sekarang, mereka akan lebih brutal jika tidak ada yang memarahinya. Memarahi dalam artian baik. Ingat, tidak ada guru yang menyalahi siswa jika siswa tidak memberi ulah.

*****

Semoga apa yang saya tulis ini bermanfaat. Walau terlihat tidak tersusun rapi, smeoga enak dibaca. Sampai bertemu dipostingan lainnya.

image source: pixabay.com

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru