Proses Pembelajaran di Sekolah Adat Bayan Belum Lancar

Gempa yang menimpa pulau Lombok sejak tanggal 29 Agustus 2018 sampai bulan September menyebabkan beberapa bangunan roboh dan retak. Meskipun  kegiatan pembelajaran di Sekolah Adat Bayan (SAB) bersifat out door atau diluar ruangan, tetap saja pembelajaran belum bisa dilaksanakan seperti biasanya waktu sebelum gempa. Hal ini disebabkan karena trouma yang dialami oleh peserta belajar maupun totur atau gurunya, penyebab lainnya adalah karena kesibukan untuk menyiapkan tempat tinggal untuk keluarga bagi para tutor, sedangkan untuk peserta didik yang rata-rata masih remaja, mereka sibuk membantu keluarga untuk memperbaiki tempat tinggal mereka.

Kondisi pembelajaran yang tidak bisa berjalan dengan normal di Sekolah Adat Bayan bukan berarti proses pembelajaran terhenti total, karena pembelajaran di Sekolah Adat Bayan adalah memahami tradisi dan lingkungan sekitar.  Kegiatan yang ada di Masyarakat tetap diperhatikan, dipeelajari, bahkan ditanyakan kepada orang tua atau pihak yang memanng memahami dengan baik terkait keggiatan yang dilaksanakan, hal ini disampaikan oleh tutor atau guru kepada para peserta didik SAB.

Kegiatan secara umum yang dilakukan oleh pihak SAB adalah ikut membantu trouma heeling yang dilaksanakan oleh beberapa pihak untuk korban gempa yang ada di Bayan. Beberapa kegiatan tersebut adalah pementasan wayang interaktif oleh Sekolah Pedalangan di 2 titik, yaitu di posko pengungsian Ancak, Desa Karang Bajo, dan di depan Pasar Anyar, Keecamatan Bayan. Kegiatan lain yaitu Pelatihan Psikososial untuk Pendamping Anak selama 2 hari, lokasi pelatihan adalah di Aula Kantor Desa Anyar.

Pendamping Anak yang tersebar dibeberapa wiilayah yang ada di sekitaran Kecamatan Bayan, baik menjadi guru sekolah maupun menjadi guru ngaji, bahkan mendampingi beberapa anak yang di posko pengungsian sebagai peserta Pelatihan Psikososial Terstruktur tersebut.

Proses pembelajaran secara reguler kemungkinan akan bisa dilaksanakan sekitar awal tahun 2019, hal inipun harus didukung tempat tinggal masyarakat sudah selesai dibangun, minimal untuk hunian sementara (huntara). Demi mengejar target tersebut, SAB juga bekerjasama dengan Majelis Pengemban Adat Bayan (MAPAN) untuk mendampingi Masyarakat Adat dalam proses pembangunan rumah atau tempat tinggal, dan dibantu oleh pihak lain seperti Santiri Faoundation, Solidaritas Masyarakat Untuk Transparansi Nusa Tenggara Barat ( Somasi NTB).

Dalam menjaga ilmu/pengetahuan lokal melalui generasi, SAB juga ikut dalam beberapa kegiatan pentas seni di Mataram. Pentas seni lokal ini bertujuan untuk menjaga semangat tutor dan juga peserta didik. Tujuan lainnya adalah untuk ikut berpartisipasi dalam membantu korban gempa dan tsunami yang ada di Sulawesi Tengah. Pentas Seni dilaksanakan di Art Coffeelago Mataram  dalam rangka penggalangan dana.

Membangun beberapa diskusi secara langsung maupun lewat media sosial SAB, hal ini untuk mengetahui beberapa informasi terkait kondisi peserta didik dan tutor SAB, tentunya terkait dengan Masyarakat Adat Bayan juga.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru