Optimalkan Pemanfaatan Air di Lahan Kering

Mataram- Sebagai bentuk tanggungjawab pelaksanaan Tri Darma Perguruan Tinggi kepada masyarakat, sejumlah dosen Unram melakukan pengabdian di masyarakat. Sebagaimana dilakukan dua orang dosen Prodi Budidaya Perairan Unram. Mereka adalah Zaenal Abidin dan Bagus Dwi Hari Setyono.

Melalui kegiatan pengabdian dengan topik “Optimalisasi pemanfaatan air melalui kegiatan budidaya ikan di  lahan kering di Desa Gumantar Kecamatan Kayangan Kabupaten Lombok Utara", mereka  mengajak beberapa anggota salah satu kelompok petani lahan kering di KLU agar dapat  memanfaatkan air secara optimal melalui kegiatan pemeliharaan ikan lele.

Zaenal menjelaskan bahwa sebelumnya masyarakat hanya memanfaatkan air untuk mengairi lahan pertanian mereka. Air tersebut dialirkan melalui pipa menuju ke lahan warga dan langsung digunakan untuk mengairi tanaman hortikultura seperti cabe, tomat, pepaya, dan jagung.  Padahal air itu bisa saja digunakan untuk memelihara ikan lele sebelum dialirkan ke lahan pertanian.

Hal ini akan menambah nilai guna air tersebut untuk kegiatan ekonomi masyarakat. Maka untuk mendorong masyarakat melakukan hal tersebut, pihaknya telak melakukan pelatihan, pendampingan, dan penyediaan sarana dan bahan produksi untuk digunakan dalam memproduksi ikan lele. 

Dengan kegiatan ini, maka air yang biasanya digunakan langsung untuk menyiram tanaman tersebut bisa digunakan terlebih dahulu untuk memelihara ikan.  Dikatakan bahwa air bekas pemeliharaan ikan mengandung bahan organik berupa feses ikan yang bisa menjadi pupuk untuk tanaman.

Melalui pelatihan ini, pihaknya menargetkan budidaya  ikan lele sistem kombinasi bioflok dan resirkulasi dapat menghasilkan minimal 400 kg per bak yang bervolume 7 ton. Teknologi ini disebut mampu menyempurnakan teknologi yang sebelumnya yang hanya mengandalkan kerja bakteri untuk membentuk bioflok dalam memperbaiki kualitas air.  Dengan sistem sebelumnya, bakteri yang  mengalami gangguan akan menyebabkan kualitas air memburuk dengan cepat sehingga bisa menyebabkan kematian ikan.

Namun dalam teknologi kobinasi bioflok dan resirkulasi, kegagalan kerja bakteri untuk memperbaiki kualitas air dapat teratasi. Hal ini dikarenakan jumlah limbah atau feses yang ada dalam air tetap terkontrol melalui proses pengendapan. 

Kegiatan yang telah dilakukan membuat 2 unit kolam yang dilengkapi dengan bak pengendapan. Semua peralatan untuk menunjang proses produksi juga telah disediakan. Termasuk melakukan penyuluhan dan pelatihan tentang teknik budidaya ikan lele sistem bioflok resirkulasi," ungkap Zaenal. 

Sementara itu Bagus menambahkan bahwa kini sudah dimulai proses produksi ikan dengan menebar 500 ekor per kolam. Pemeliharaan  ini dimaksudkan sebagai pelatihan awal  dan pada pemeliharaan selanjutnya akan dinaikkan bertahap menjadi 1500 ekor, 3500 ekor hingga 4200 ekor per kolam dengan target produksi minimal 400 kg per kolam. 

Bagus Dwi berharap kegiatan ini dapat menjadi contoh tentang bagaimana cara meningkatkan nilai guna air yang awalnya hanya untuk menyiram tanaman hortikultura tapi sekarang bisa untuk memelihara ikan tanpa mengurangi volume air yang digunakan untuk tanaman hortikultura itu sendiri. Termasuk di antaranya juga adalah dapat meningkatkan pendapatan petani dan memenuhi kebutuan gizi akan protein hewani. (*)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru