Berkah Kampung Media

Hidup itu memang penuh dengan kejutan bahkan keajaiban tak terduga. Kita tak pernah tahu kapan ia datang dan turun menyapa. Sebab kejutan apalagi keajaiban tak bisa direncanakan. Ia datang tak diundang dan pergi pun sesukanya. Kita hanya bisa menangkapnya pada kesempatan terbaik.

Dulu, saya hanya bisa bermimpi tentang melanjutkan pendidikan ke S2. Saya hanya bisa berkhayal, tanpa tahu kapan kesempatan itu akan datang menyapa. Bahkan ketika para sahabat mengirimkan sejumlah aplikasi untuk meraih beasiswa, saya hanya bisa tersenyum, tanpa terbersit ingin mencoba keberuntungan itu. Terus terang, saya kerap pesimis saat hendak mengikuti sebuah seleksi beasiswa.

Seorang sahabat pernah berbisik bahwa saat dirimu tak pernah berani mencoba, dirimu tak pernah punya kesempatan. Karena itu selagi ada kesempatan cobalah. Saat dirimu mencobanya maka dirimu punya kesempatan untuk mencetak keajaiban. Kalimat ini seperti mantra yang menyalakan sesuatu pada jiwa saya. Ada inspirasi yang tiba-tiba menyusup. Barangkali kehidupan adalah sebuah panggung tempat kita mesti menjemput beragam peluang dan keberuntungan.

Kita mesti menghadapi hidup sebagaimana seorang nelayan yang setia menebar jaring di lautan lepas. Tak semua jaring menghasilkan ikan, tetapi dengan cara menebarnya di lautan lepas, ia sedang membesarkan peluang. Kita sedang menebar harapan. Memang iya, hidup ini tentang menabung harapan yang kelak akan berbuah sesuatu. Kita takn pernah tahu kapan jaring itu akan menjerat ikan. Namun saat momen itu datang, kita akan menyadari bahwa semua diawali dengan ikhtiar untuk menebar harapan itu.

Semuanya adalah hasil kerja keras dan keberanian menjemput peluang. Kita Keajaiban tak akan hadir pada mereka yang hanya bisa berpangku tangan, mereka yang hanya menungu. Mereka yang hanya memelihara rasa pesimis sehingga tak mau melakukan apa pun. Keajaiban adalah milik mereka yang menyingsingkan lengan baju untuk melakukan sesuatu dan menebar jejaring harapan.

Kampung Media

Saya telah pasang niat untuk melamar beasiswa Lembaga Penggelola Dana Pendidikan (LPDP). Satu persatu syarat saya baca dan pahami dengan seksama. Kelebihan LPDP adalah tidak terlalu mensyaratkan TOFEL yang tinggi bagi anak daerah tertinggal di Indonesia. Beasiswa ini menyediakan biaya penuh bagi mahasiswa, termasuk di Amerika dan Eropa.

Banyak juga teman yang berbisik, untuk bisa memenangkan beasiswaLPDP ini tidaklah mudah. Saya sendiri sempat minder juga. Saya merasa tidak bakal lolos dalam seleksi. Di sisi lainnya, tekad saya sudah bulat, beasiswa harus saya dapat. Sebab jika tidak, cita-cita untuk melihat dunia yang lebih luas bisa layu sebelum mekar. Saya lalu menjalani serangkaian seleksi.

Selain mengumpulkan semua berkas yang diminta, saya juga lampirkan puluhan artikel yang sebagian besar saya tulis di Portal Kampung Media. Ternyata belakangan tidak saya sangka, ratusan tulisan itu menjadi salah satu alasan utama mengapa saya lulus menerima beasiswa. Ketika menjalani wawancara dengan tim seleksi, mereka menanyakan lebih jauh apa itu Kampung Media dan mengapa saya menulis di sana? Kampung Media memang berkesan mendalam buat saya. Di sinilah saya menulis lebih intens dan mengali informasi langsung dari lapangan.

Kampung Media adalah program unggulan NTB yang digagas di awal masa Tuan Guru Bajang menjadi gubernur. Kampung Media berkehendak membangun Strength in Own Page. Kekuatan di halaman sendiri. Di mana komunitas warga memiliki akses atas informasi dan hak penuh mengelola informasi tersebut. Kampung Media dihajatkan untuk membangun sikap kritis yang konstruktif, sekaligus merekatkan kohesitas sosial di antara sesama komunitas warga.

Mengapa pemerintah NTB menggagas Kampung Media? Setidaknya ada tiga alasan. Pertama, ingin mendekatkan informasi kepada kalangan akar rumput atau komunitas masyarakat kampung. Kedua, merupakan pilihan strategi

penyebaran informasi yang massif, murah dan mencerdaskan. Ketiga, menciptakan ruang kreasi bagi warga. Dirintis pertama kali di 10 desa dan kelurahan di NTB pada 2009, pada akhir 2015 tercatat tumbuh 150 komunitas Kampung Media yang tersebar di ratusan desa dan puluhan kecamatan. Tak kurang dua ribu orang terlibat aktif didalamnya. 150 komunitas Kampung Media itu setiap harinya mengelola lalu lintas informasi melalui laman blog di internet dan website Kampung Media.

Kampung Media sebagai sebuah inovasi keterbukaan informasi, meraih penghargaan top inovasi nasional 2014 dan mewakili Indonesia dalam kompetisi top inovasi tingkat dunia. Beragam informasi tersajikan di Porta kampung Media. Dari soal pembangunan di desa, kisah inspiratif warga, hajatan di kampung, sampai memperkenalan kuliner, tenun dan lokasi wisata.

Kuliah di IPB

Pada 17 November 2014, penantiansaya berbuah manis. Dalam sebuahform pengumuman di LPDP, nama saya tercatat sebagai satu dari 80penerima beasiswa untuk tahun itu. Hampir tak percaya rasanya, saya anak petani bisa melanjutkanpendidikan ke jenjang pendidikan master. Saya kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB) mengambil

jurusan Sosiologi Pedesaan. Satu jurusan yang menyelami lebih jauh aspek sosial kehidupan masyarakat pedesaan. Bagi saya kajian pedesaan selalu menarik minat saya. Masa depan Indonesia menurut saya ada di desa.Jika Republik Indonesia kita ibaratkan rumah besar, desa adalah “halaman belakang”dari rumah besar itu. Selama ini halaman

belakang itu hampir tak pernah diperhatikan dengan serius. Sesekali memang didatangi, tetapi kemudian dilupakan. Desa tidak menjadi fokus perhatian. Pembangunan terpusat dihalaman depan, terpusat dikota-kota besar. Kota menjadi magnet, orang desa datang menyerbu kota, persis laron mengelilingi lampu yang berpijar terang.

Membangun dari pinggiran merupakan ikhitar menata desa yang merupakan “halaman belakang”rumah Indonesia. Menata desa,berarti menata rumah Indonesia. Memberdayakan penghuni desa,berarti meningkatkan harkat dan derajat penghuni rumah Indonesia. Sebab Indonesia adalah desa, sebab desa adalah Indonesia.Untuk kurun waktu yang panjang,desa menjadi termarginal.

Terpinggirkan. Marginalisasi desa itu terwujud setidaknya pada tiga lapangan kehidupan. Pertama, lapangan ekonomi berbentuk kemiskinan struktural. Kedua, lapangan politik berwujud ketidakberdayaan politik. Ketiga, lapangan kultural berupa tercerabutnya modal sosial. Mengabdi untuk masyarakat dan terus menjadi pembelajar adalah mimpiku setelah selesai dari studi. Wallahu a'lam bish-shawab.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru