Yudisium Sarjana ke XI STKIP Taman Siswa Bima

KM TNC. (11/11) Tidak seperti biasanya, Yudisium kali ini penuh dengan moment istimewa, resonansi, apresiasi, dan rasa haru yang cukup mengesankan para sarjana dan semua hadirin. Rasanya, saya kehabisan kata-kata untuk menggambarkan betapa istimewanya Yudisium Sarjana kali ini. Hal ini terjadi, berkat totalitas kinerja Panitia pak Suratman, M.Pd BI Dkk serta supporting dari Ketua STKIP Taman Siswa Bima Dr Ibnu Khaldun Sudirman, M.Si yang selalu memberi ruang bagi mahasiswa dan civitas akademika untuk menampilkan kreatifitasnya di setiap moment Yudisium seperti ini.

Di kampus ini, Yudisium Sarjana didesain, tidak hanya menjadi moment pengukuhan Sarjana, tetapi juga menjadi ajang untuk menampilkan karya dan kedalaman intelektualitas seluruh civitas akademika STKIP Taman Siswa Bima. Dalam sambutannya, ketua STKIP Taman Siswa Bima, menjelaskan bahwa betapa pentingnya menjadi sarjana yang beradab dan kreatif. Sarjana atau pribadi yang beradab adalah pribadi yang memiliki kecerdasan intelektual emosional, dan spriritual sekaligus. Peradaban sebuah bangsa akan terwujud melalui pribadi-pribadi yang beradab atau yang berakhlakul Karimah. Nah, inilah makna visi kampus kita yang sesungguhnya.

Yudisium Sarjana ini menjadi istimewa karena selain pengukuhan empat ratusan orang mahasiswa menjadi sarjana Pendidikan dan apresiasi terhadap karya ilmiah terbaik para calon sarjana, Panitia juga menampilkan film Dokumenter karya para mahasiswa tentang perjuangan mahasiswa dalam menggapai gelar sarjana dan segala suka dukanya dengan iringan musikal yang menyentuh hati. Suasananya semakin menarik dengan orasi Ilmiah yang disampaikan oleh Dosen Muda Saudara Ramli, M.Pd dengan materi, vokal, dan diksi bahasa yang sempurna menggugah hati seluruh hadirin. Semua mahasiswa terkesima dan khidmat mendengarkan orasi. Satu persatu mahasiswa bahkan dosen meneteskan air mata, larut akan kedalaman makna setiap ungkapan yang disampaikan oleh sang Orator Muda ini.

Setelah orasi ilmiah usai, Ketua STKIP Taman Siswa tak sabaran untuk memberikan ungkapan apresiasi terhadap sang Orator meski terbata-bata karena masih menyisakkan tangis dan rasa haru. Salah satu Dosen senior, Syarifuddin, M.PdI mengatakan, ini adalah orasi ilmiah yang bernas bak seorang motivator yang menghipnotis banyak orang untuk berani menatap dunia penuh optimis. Kata-katanya nendang bangat yang keluar dari pribadi yang selalu mendahulukan rasa. Kekuatan orasi ilmiah ini, menurut pak Ketua dan Bung Suhardin ada pada sosok oratornya yang memiliki keshalehan pribadi, kejernihan hati dan pikirannya. Hingga larut malam, di WA Group Dosen Beradab tak habis-habis membicarakan orasi yang hebat ini.

“Sejarah suatu bangsa, banyak bermula dari peran besar pemuda, apakah itu reformasi ataupun revolusi selalu pemuda yang menjadi Actor sejarahnya, yang senantiasa hadir dan bangkit ketika bangsa membutuhkan energi dan ide besar dalam suatu perjuangan perubahan kearah yang lebih baik. Tentunya, energi positif dan Ide besar ini muncul dari kemurnian akal dan kebersihan nurani para pemuda yang belum terkontaminasi oleh instrik dan konspirasi sempit. Jika generasi muda tumbuh dan berkembang dengan baik maka bangsa ini akan maju peradabannya. Jika yang terjadi adalah sebaliknya maka habislah negeri ini.

Katanya, bahwa Motto Kampus kita tentang “Pendidikan Untuk Peradaban” adalah cita-cita besar bersama dalam mewujudkan peradaban daerah dan bangsa. Peradaban mesti bermula dari dunia kampus dengan menempa mahasiswa dan semua civitas akademika secara fisik, mental, dan moral agama agar menjadi insan yang berkarakter, berbudaya, dan dapat mengemban tugas sebagai Khalifah di atas muka bumi yang menebarkan rahmah di seluruh alam. Iklim Zikir dan Iklim Pikir yang sudah berjalan selama dua tahun terakhir adalah salah satu tradisi menuju peradaban yang dicita-citakan tersebut. Tradisi ini menjadi penyejuk dikala sibuk, Penenang jiwa dan pikiran di kala capek, dan menjadi penyeimbang dikala dinamika dan dialektika yang menantang.

Kami bangga dan apresiatif dengan kemampuan pak Ramli, M.Pd dalam menyampaikan orasi yang berbobot ini. Semoga para sarjana yang telah diyudisium dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari orasi tersebut, sehingga ketika berada dimasyarakat dapat menjadi Agen of Change, Social Control, dan Moral Force menuju terwujudnya daerah dan bangsa yang mandiri dan berdaya saing tinggi ungkap Damar Damhuji. []

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru