Gerakan Literasi Sekolah di SMK NW Kokok Putik

KM. Sukamulia – Rendahnya minat baca adalah permasalahan yang sudah lama dihadapi oleh bangsa Indonesia. Hal itu dibuktikan oleh hasil uji literasi, dimana PIRLS 2011 Inter International Results in Reading, Indonesia menduduki peringkat ke-45 dari 48 negara peserta dengan skor 428 dari skor rata-rata 500 (IEA, 2012). Hal ini-lah yang mendasari pemerintah mencanangkan Gerakan Literasi Sekolah (GSL) yang dijadikan sebagai wajib bagi jenjang pendidikan SMA/MA/SMK dalam penerapan Kurikulum 2013 di tahun pelajaran 2017/2018. Terkait dengan hal itu maka pengelola SMK NW Kokok Putik melaksanakan program dimaksud demi meningkatkan minat dan kemampuan membaca warga sekolahnya.

Dalam buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan 2016, dijelaskan bahwa uji literasi membaca mengukur aspek memahami, menggunakan, dan merefleksikan hasil membaca dalam bentuk tulisan. Dalam PIRLS 2011 International Results in Reading , Indonesia menduduki peringkat ke-45 dari 48 negara peserta dengan skor 428 dari skor rata-rata 500 (IEA, 2012). Sementara itu, uji literasi membaca dalam PISA 2009  menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-57 dengan skor 396 (skor rata-rata OECD 493), sedangkan PISA 2012 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-64 dengan skor 396 (skor ratarata OECD 496) (OECD, 2013). Sebanyak 65 negara berpartisipasi dalam PISA 2009 dan 2012.  Data PIRLS dan PISA, khususnya dalam keterampilan memahami bacaan, menunjukkan bahwa kompetensi peserta didik Indonesia tergolong rendah.

Rendahnya keterampilan tersebut membuktikan bahwa proses pendidikan belum mengembangkan kompetensi dan minat peserta didik terhadap pengetahuan. Praktik pendidikan yang dilaksanakan di sekolah selama ini juga memperlihatkan bahwa sekolah belum berfungsi sebagai organisasi pembelajaran yang menjadikan semua warganya sebagai pembelajar sepanjang hayat.

Mengacu dari hal itulah sehingga pemerintah Indonesia menyematkan kepada setiap pengelola lembaga pendidikan, supaya lembaga pendidikan setingkat SMA/MA/SMK supaya melaksanakan Gerakan Literasi Sekolah (GSL). GLS memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015. Salah satu kegiatan di dalam gerakan tersebut adalah “kegiatan 15 menit membaca buku non pelajaran sebelum waktu belajar dimulai”. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik (Sumber: Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan 2016).

Terkait dengan penjelasan di atas maka pengelola SMK NW Kokok Putik Desa Bilok Petung Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur memperogramkan Gerakan Literasi Sekolah (GSL) sesuai dengan aturan yang tertera pada Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan 2016, yakni dengan memperogragkan pelaksanaannya sebagai kegiatan rutin yang dilaksanakan 15 menit sebelum mulai belajar pada setiap harinya.

Gerakan Literasi Sekolah di SMK NW Kokok Putik dilaksanakan mulai sejak awal tahun pelajaran 2017/2018 dan itu dilaksanakan secara berkelanjutan. Di dalam pelaksanaannya, setiap peserta didik diberikan waktu selama 15 menit sebelum belajar untuk membaca berbagai sumber bacaan yang tersedia di sekolah, membaca artikel onlne, membaca koran dan berdiskusi yang dilaksanakan setelah selesai membaca Al-Qur’an pada setiap paginya.

Program literasi ini dilaksanakan dengan serius oleh pengelola sekolah tersebut, dimana pada setiap hari selasa dan kamis, guru yang ditugaskan sebagai pemandu Gerakan Lterasi Sekolah meminta setiap peserta didik untuk membaca dengan nyaring sehingga diketahuia siapa peserta didik yang belum lancar dan yang sudah lancar membaca. Bagi peserta didik yang kemampuan membaca masih rendah diberikan pelayanan yang lebih dengan mengikuti program membaca yang diprogramkan di luar jam belajar (Les Membaca).

“Setelah tiga bulan berjalan, terlihat peningkatan yang cukup signifikan dimana beberapa peserta didik yang awalnya memiliki kemampuan membaca rendah, kini sudah mulai lancar membacar. Dengan demikian, program GSL memang sangat penting untuk dilaksanakan pada setiap lembaga pendidikan sebab jika diteliti secara mendalam maka masih banyak peserta didik SMA/SMK/MA yang kemampuan membacanya masih rendah”, jelas ketua pelaksana Program GSL SMK NW Kokok Putik (Sahabul Aowalin, S. Pd).

Kiranya program GSL yang dicanangkan pemerintah sebagai bagian dari implementasi Kurikulum 2013 ini dapat terlaskana dengan baik pada setiap lembaga pendidikan yang ada di seluruh Indonesia, khususnya pada lembaga pendidikan jejang SMA/MA/SMK sehingga pada masa mendatang minat dan kemampuan membca masyarakat bangsa Indonesia lebih baik dari kemarin dan hari ini.

_By. Asri The Gila_

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru