SEMANGAT BELAJAR NOVA

GADIS ini namanya Nova. Duduk dibangku kelas 3 MTs . Berasal dari Rean, Gerung, Lombok Barat. Jarak rumahnya sekitar 3 kilometer dari madrasah. Saya melihat semangat belajarnya sangat besar dan patut disupport. Namun lahir dari keluarga biasa dan kurang secara ekonomi. Itu terlihat dari pakaian yang ia pakai sekolah. Saya tanya, pekerjaan orang tuanya? Ia jawab tukang jual beli berang di sekitar Sekotong.

Di banding teman-temannya, sekilas saya perhatikan Nova siswi yang paling rajin dan paling duluan datang kemadrasah. Ia datang kemadrasah paling pagi dan langsung menyapu membersihkan halaman madrasah. Pulangnya juga ia paling akhir, karena menunggu bapaknya menjemput. Dia juga saya perhatikan paling nurut dan cepat diminta oleh guru-guru di Madrasah. Kamarin ia mambawa bibit cabai, tomat dan lain-lain untuk ditanam dibelakang madrasah.

Saya tanya lagi, setelah selesai MTs mau melanjutkan lagi Aliyahnya di Hidayatuddarain kan? Tidak jawabnya. "Mau masuk SMK" katanya. Saya berondong lagi dengan pertanyaan, kenapa mau pilih SMK. "Mau belajar komputer. Kata ibu, biar nanti kalau sudah bisa langsung cari kerja" jelasnya. Saya agak kaget mendengarnya, ternyata ia tidak tertarek melanjutkan pendidikannya di Madrasah Aliyah (MA) Hidayatuddarain.

Saya jelaskan kepadanya, mencari pekerjaan dimasa yang akan datang tidak semudah tahun-tahun sebelumnya. Tidak cukup hanya bisa komputer, lalu dapat pekerjaan. Sarjananya saja banyak yang mengalami kesulitan mendapatkan pekerjaan. Makanya ia harus kuliah. "Tapi tidak ada biaya pak" jawabnya singkat. Ini jawaban yang paling susah dijawab. Bukan jawabannya yang susah tapi menjelaskannya kepada orang bahwa lemahnya ekonomi keluarganya mestinya tidak mematahkan semangatnya untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi.

Belajar dari apa yang dialami Nova dan masih banyak lagi teman-temannya yang bernasip sama diberbagai pelosok desa, mestinya kita tidak berhenti pada tahap menyediakan tempat belajar sampai disana. Namun bagaimana memikirkan dan menyiapkan pendidikan selanjutnya. Dengan pemgetahuan dan keterampilan hidup terbatas yang mereka miliki tentu akan menyebabkan mereka mengalami kesulitan bersaing merebut lowongan pekerjaan dan kesempatan untuk maju.

Pengelola madrasah, pondok pesantren dan tokoh-tokoh Ormas Islam seharusnya serius memikirkan dan menyiapkan terobosan strategis untuk menyelamatkan pendidikan anak-anak sepertu Nova yang jumlahnya ribuan supaya bisa mengakses pendidikan lebih tinggi. Kalau ditunggu lama-lama, tidak dibuat terobosan bisa-bisa mereka diambil oleh orang lain. Buktinya disekitar kita kini sangat anak-anak pesantren dan madrasah dibajak oleh orang lain. Capek-capek dididik dimadrasah dan pesantren, malah dipakai orang lain. Cilakanya lagi, setelah besar berani melawan ideologi keagamaan gurunya.

Saatnya bergandeng tangan mrnyiapkan generasi masa depan yang siap mengawal dan menjaga ajaran da n tradisi keislaman Nusantara. []

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Advertisement

Artikel Terbaru