PSG Di SMKN 1 Woja, Ada Salah Paham Soal Biaya

KM Bali 1 Dompu - Pendidikan Sistem Ganda ( PSG ) sebagai alternatif pola pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan ( SMK ) yang hal itu dilakukan oleh SMK Negeri 1 Woja khusus kelas 3 semester ganjil dan dilakukan dibeberapa titik yakni Mataram Sebanyak 31 Orang siswa, Bima Sebanyak 71 Orang Siswa dan Di Dompu sendiri sebanyak 40 Orang Siswa. PSG dilakukan selama 3 Bulan dimulai dari tanggal 1 Agustus 2017.

Khusus Mataram pihak sekolah menarik iuran per siswa sebanyak Rp. 450.000 untuk biaya transportasi dan untuk biaya lainnya, sementara Di Bima sebanyak Rp. 250.000 per siswa dan di Dompu sendiri sebesar Rp. 100.000 per siswa.

Hal itu sudah dimusyawarahkan oleh pihak sekolah bersama orang tua wali pada hari Rabu, tanggal 26 Juli 2017 berdasarkan keterangan Imam Khaerudin, St. Selaku Sekertaris Pokja PKL saat dikonfirmasi oleh wartawan Koran Kampung Media Via telepon Selulernya, “kami sudah rapat dengan orang tua wali pada hari rabu tanggal 26 Juli 2017 dan ada arsipnya”, Jelasnya.

Sementara itu, pernyataan dari sejumlah orang tua wali yang didatangin oleh wartawan Koran Kampung Media ke kediamannya masing – masing, bahkan salah satu siswa tidak mengikuti PSG karena tidak mampu membayar biaya tersebut. Mereka menyampaikan tidak pernah terima undangan rapat atau diskusi terkait masalah penarikan iyuran untuk keperluan PSG. 

“kalau saya, tidak pernah terima undangan atau rapat dari pihak sekolah membahas terkait masalah itu, bahkan saya sempat pertanyakan ke salah satu guru, pengumpulan uang ini untuk apa, kalau bisa buatkan rinciannya, manfaatnya untuk apa saja, pihak sekolah mengatakan insya Allah sampai saat ini tidak ada”, ungkap Edi A. Rajak salah satu orang tua wali.

Sementara itu, Kepala sekolah setempat Drs. Abdul Jabar yang ditemui oleh wartawan Koran ini beberapa waktu lalu mengatakan cukup menyesalkan adanya kesalah pahaman antara pihak sekolah dengan Orang tua Wali terkait program rutin Sekolah ini (PSG_red). Menurutnya, pihak sekolah sudah menyampaikan rencana kegiatan ini kepada orang tua dan para wali murid melalui rapat komite. Namun disayangkan Abdul Jabar, para wali murid yang hadir tidak kurang dari 10 orang saja. “Kalau memang kita ini dikomplain oleh orang tuanya dianggap oleh mereka itu tidak melaksanakan undangan rapat itu, rapat komite aja 10 orang yang hadir, ketika ada komplain masalah duit begini dan masalah anaknya tidak naik tidak lulus baru mereka bicara”, ungkap Abdul Jabar.

Lebih lanjut Kepsek SMKN 1 Woja ini mengharapkan agar orang tua dan wali murid dapat berkunjung ke sekolah untuk mengkomunikasikan ini dengan baik sehingga dapat dicarikan solusinya yang terbaik pula sehingga tidak perlu ada pihak yang dirugikan. “Sebaiknya orang tua itu datang ke sini (sekolah_red), kalau ada hal - hal yang tidak disepakati, kalau ada titik temunya di sini kita selesaikan di sini, dan saya yakin semua masalah pasti dapat diselesaikan dengan baik”, harapnya.[poris]

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru