Dirikan Ponpes dari Satu Sendok Beras

Berawal dari keperihatinannya melihat banyaknya anak putus sekolah di kampungnya karena keterbatasa biaya dan jauhnya jarak rumah dengan sekolah, Ustad Karimudin bersama warga  di dusun Dasan Baru desa Lembar,  Kecamatan Lembar mendirikan lembaga pendidikan Pondok Pesantren Nurul Hidayah. Kamis (16/3) di Lembar, Karimudin menyatakan, berdirinya Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Nurul Hidayah terbilang unik dan langka. Berawal dari diskusinya bersama warga disepakati bahwa setiap keluarga yang ada mengumpulkan satu sendok beras yang ditaruh dan dikumpulkan di dalam kaleng depan rumah. Beras yang sudah terkumpul ini selanjutnya sekali seminggu diambil Ustad Karimudin. Setelah di rasa cukup Beras kemudian di jual. Kegiatan ini berlangsung bertahun – tahun lamanya. 

Karimudin menambahkan, pada tahun 1997 setelah merasa uang hasil menjual beras cukup banyak. ia di bantu warga memberanikan diri mendirikan bangunan sekolah diatas tanah wakaf dan membentuk Lembaga Pendidikan Ibtidaiyah. Seiring berjalannya waktu muncul masalah baru. Pondok pesantren Nurul Hidayah kekurangan ruang kelas akibat makin banyaknya peserta didik dan siswa yang akan menamatkan sekolah Ibtidaiyah. Solusipun diambil ditahun 2007 di bangunlah lembaga pendidikan Madrasah Tsanawiyah. Dilanjutkan dengan berdirinya lembaga pendidikan Aliyah di tahun 2009.
” Awal mula berdiri Pondok Pesantren ini dari diniyah. Melihat antusiasme dan sambutan yang besar dari warga akhirnya saya memberanikan diri membentuk lembanga pendidikan formal. Niat saya hanya ingin agar anak-anak kampung menjadi orang yang berilmu dan banyaknya remaja putus sekolah akibat dari keterbatasan biaya bisa mengenyam lagi dunia pendidikan,” terang Karimudin.

Keterbatasan bangunan pondok , ruang belajar, ruang Guru dana alat –alat penunjang pelajaran seperti buku dan alat praktik merupakan masalah yang berarti yang dirasakan ditempat ini. Saat ini jumlah bangunan ruang kelas yang tersedia sebanyak enam ruangan dan yang layak terpakai hanya Lima ruangan saja. Untuk mensiasatinya, kepala sekolah Madrasah Tsanawiyah ustad Tabuh Spdi mengatur jadwal jam masuk sekolah. “Untuk jadwal sekolah pagi bagi siswa Ibtidaiyah dan Tsanawiyah. Sementara untuk jadwal sekolah siang bagi siswa Aliyah,” tutur Tabuh salah seorang Pengurus Ponpes.

Tabuh menambahkan, kualitas tenaga pengajar Pondok Pesantren Nurul Hidayah tidak kalah dengan sekolah – sekolah negeri dan swasta lainya. Mereka rata- rata bergelar sarjana S1. Saat ini jumlah tenga pengajar sebanyak sebanyak 40 orang dengan honor yang diambilkan dari dana BOS. Mengenai biaya pendidikan para siswa hanya membayar sekali ketika akan menghadapi ujian nasional. (Budi/Wardi) - 05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru