Nikah Diusia Sekolah, Siap Putus Sekolah

Masih banyak orang yang belum tahu secara pasti tentang pengertian putus sekolah. Terbukti, ketika saya membawakan materi ”putus sekolah” di Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan (FKIP) Universitas Gunung Rinjani (UGR), yang mana masih ada beberapa mahasiswa yang mengklem dirinya kalau telah mengalami putus sekolah, walaupun sebenarnya mereka tidak pernah putus sekolah. Lantaran mereka pernah menjadi TKI ke Malaysia di saat tammat dari SLTA dan tidak langsung melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, tapi mereka justru memilih untuk merantau di negeri seberang. Olehnya itu, sangat penting untuk dipahami pengertian putus sekolah biar tidak ada kekeliruan dalam menilai seseorang dalam pendidikan.

Umar Tirtaraharja dalam bukunya yang berjudul Pengantar pendidikan, tahun 1997, mendefinisikan bahwa putus sekolah adalah jika seorang anak atau peserta didik yang tidak sempat menyelesaikan pendidikannya di dalam suatu jenjang pendidikan, dan tidak memperoleh ijazah. Artinya bahwa jikalau seorang anak yang mampu menyelesaikan pendidikan di dalam suatu satuan pendidikan, seperti di Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, atau Sekolah Mengah Atas, dan mendapatkan ijazah berarti mereka tidak boleh dijuluki sebagai putussekolah. Berarti putus sekolah terjadi pada seorang anak atau peserta didik, yaitu ketika tidak menyelesaikan pendidikan pada suatu jenjang pendidikan atau satuan pendidikan. Misalnya seorang anak berhenti ketika masih kelas 3 SD, atau kelas dua SMP, ataupun pada kelas 1 SMA. Demikan juga anak tersebut tidak mengikuti ujian akhir nasional dan tanpa ijazah yang diperoleh. Tapi bila sempat menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Dasar dan berijazah lantas tidak melanjutkan ke jenjang selanjutnya karena sesuatu faktor, berarti anak tersebut tidak mengalami putus sekolah, akan tetapi hanya tidak sempat menlanjutkan kejenjang pendidikan selanjutnya.

Namun yang lebih penting untuk dipahami pada persolan putus sekolah adalah faktor-faktor penyebab terjadinya putus sekolah. Penye bab terjadinya putus sekolah itua dalah beragam. Terkait dengan hasil penelitian saya di beberapa titik yang ada pulau Lombok dan Sumbawa bahwa penyebab terjadinya putus sekolah sangat beragam. Namun yang paling mendominasi adalah factor ekonomi orang tua yang tergolong rendah sehingga tidak mampu untuk menlanjutkan atau menyelesaikan pendidikan anaknya di sekolah formal. Hal ini dapat disebabkan karena masih ditemukannya beberapa warga masyarakat di Lombok-Sumbawa yang kondisi penghsilan orang tua tidak menentu, dan kebanyakan bekerja sebagai buruh tani, buruh nelayan, atau pun bekerja di sektor informal dengan penghasilan yang memprihatinkan.

Faktor lain terjadinya putus sekolah di Lombok-Sumbawa dapat kita lihat pada pergaulan lingkungan bebas. Khususnya di Lombok, factor kawin cerai, poligami juga turut berdampak pada kegagalan pendidikan anak. Kita dapat melihat bahwa ketika orang tua (laki-laki) yang menjadi tulang punggung keluarga, namun kawin lagi dengan perempuan lain, sementara setiap istrinya memiliki kebutuhan serta penghasilan tidak seimbang dengan tuntutan kebutuhan anak-anaknya, hal inilah yang dapat menggagalkan pendidikan anak, sehingga terjadi putus sekolah.

Faktor tekonologi modern juga merupakan salah satu penyebab terjadinya putus sekolah. Kita melihat bahwasanya hasil tekonologi modern berupa video atau handphon, anak-anak seringnya menyalahgunakan dengan menonton film porno. Hal ini tentu dapat berdampak negative pada prilaku anak sekolah sehingga berujung pada putus sekolah.

Jika kita menjelajah di wilayah pesisir pantai atau desa nelayan, seperti di pulau bungin atau pulau marigkik-Lombok Timur, beberapa orang tua berkomentar kalau enggan mendukung anaknya untuk lanjut pendidikan atau menyelesaikannya di dalam suatu jenjang pendidikan. Mereka beralasan bahwa untuk apa sekolah tingi-tinggi sementara banyak sarjana yang menganggur. Dengan melibatkan anak untuk ikut melaut, anak-anak pun dapat memperoleh nafkah dan bahkan membantu perekonomian orang tuanya. Mereka bertutur bahwa cukup anak-anak itu bias membaca, menulis dan menghitung, toh pada ujungnya juga akan mencari uang. Itulah pemikiran mereka yang tidak paham pentingnya pendidikan terhadap pembentukan keperibadian dan kemandirian anak pada suatu kelak.

Masih ada beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya anak putus sekolah, namun kali ini saya lebih terkhusus membahas tentang nikah dini yang juga salah satu penyebab terjadinya putus sekolah. Nilkah dini juga terkait dengan dampak tekonolgi modern, pergaulan bebas, kehendak orang tua, dan lain-lain. Namun nikah dini yang paling memperihatinkan adalah tatkala mereka masih duduk di bangku sekolah.

Nikah dini di saat sekolah adalah suatu perbuatan yang memang bertentangan aturan undang-undang perkawinan, yang mana seharusnya anak itu menikah pada usia kedewasaan, sebab anak remaja yang masih duduk di bangku STP atau SLTA itu masih tergolong labil. Masih butuh perhatian untuk pembentukan keperibadian. Tapi bagaimana nasibnya jikalau jodoh telah datang, apakah harus dikeluarkan dari bangku pendidikan.

Terkait dengan masalah nikah di usia dini, seorang mahasiswa UGR di didalam kelas bertanyakepada saya bahwa kenapa banyak sekolah negeri dan swasta mengeluarkan siswa dari sekolah dan tidak diperbolehkan untuk lanjut lagi, sementara siswa-siswa yang suka melacurkan diri masih diberi kesempatan untuk sekolah.

Dalam menanggapi pertanyaan mahasiswa tersebut, saya pun langsung mengkaitkan dengan kasus Sudirman (17) siswa SMA Negeri 7 Tangerang yang tidak sempsat mengikuti ujian akhir nasional pada 15 april 2013. Alasannya sudah menikah di usia dini dengan teman sebayanya dan telah menlanggar tata tertib sekolah.

Selain itu, saya memberikan jawaban-jawaban yang bias diterima  oleh akal bahwa adapun pihak sekolah mengeluarkan anak yang menikah di usia dini karena selain anak tersebut sulit lagi untuk konsentrasi dalam mengikuti pelajaran, tentu juga akan menjadi ejekan dan hinaan teman-temannya. Selain itu, kalaupun anak tersebut dibiarkan untuk tetap mengikuti pendidikan di sekolah, nanti akan diikuti oleh teman-teman lain atau siswa lain. Ada kemungkinan juga merupakan sebuah peringatan atau ancaman kepadasiswa-siswa agar tidak melakukan pernikahandini. Sebab nikah di usia d ini memang adalah sesuatu yang masih memprihatinkan. Anak usia remaja masih perlu bimbingan, belum memasuki usia kedewasaan. Itulah mungkin yang dikwatirkan oleh penentu kebijakan dari pihak sekolah.

Sedangkan memberikan kesempatan pendidikan bagi siswa yang suka melacurkan dirinya itua dalah sesuatu yang wajar. Justru jika dipikir bahwa siswa yang terlibat dalam pergaulan bebas adalah sosok siswa yang belum memilki kesadaran diri dalam bermasyarakat. Mereka kurang menghargai dirinya sebagai manusia. Olehnya itu, justru sekolah sebagai tempat untuk merubah dirinya, yaitu dengan melalui bimbingan agar dapat mampu menunjukkan sosok diri yang dapat diterima oleh masyarakat denganbaik.

Terkaitdenganmasalahnikahdini yang berdampakpadaputussekolah, diharapkankepada orang tua agar benar-benardapatmendidikanaknyadenganbaik, yaitudenganmenanamkanniulai-nilaikemanusian yang sesuaidengan 5 siladaripancasila, karenabiarbagaimana pun pancasilaadaahpedomankitauntukmenjadiwarganegara yang baik. Demikian pula kepadapemerintah agar dapatmenemukansuatupolabaru yang dapatmebentukkarakteranakmenujukedewasaan. Demikianjugapadamasyarakat, agar dapatmenjadicontoh yang baikkepadaanak-anakbangsadantidakmembiarkansajamerekadalamlembah yang hitam. [] - 05

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru