Nasib Pendidikan Ada Di Pundakmu Oh Guruku

Guru merupakan komponen inti (core component) dalam sistem pendidikan khususnya di sekolah. Komponen-komponen lain, mulai dari kurikulum, sarana-prasarana, biaya, dan sebagainya tidak akan banyak berarti apabila seorang guru dalam mengelola proses belajar mengajar tidak berkualitas. Semua komponen lain, akan “bermakna” apabila dilaksanakan oleh guru yang prefesional. Guru merupakan motor penggerak dari sumber daya selebihnya (dana, sarana prasarana,dan perangkat lain) dalam penyelenggaraan pendidkan di sekolah terutama dalam proses Belajar Mengajar (PBM). Begitu pentingnya peran guru dalam mentransformasikan input-input pendidikan, sampai-sampai banyak pakar menyatakan bahwa di sekolah tidak akan ada perubahan atau peningkatan kualitas tanpa adanya perubahan dan peningkatan kualitas guru.

Keberhasilan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar sangat ditentukan oleh empat standar kompetensi guru, seperti yang dipersyaratkan oleh  Permendiknas Nomor 16 tahun  2007. Ke-empat kompetensi yang dimaksud adalah; (1) kompetensi pedagogik, (2) kompetensi profesional, (3) kompetensi kepribadian dan (4) kompetensi sosial. Salah satu kompetensi pedagogik tersebut diantarannya  adalah ketrampilan mengajar. Keterampilan mengajar (teaching skill) merupakan kemampuan atau  keterampilan khusus (most spesific instructional behaviours) yang harus  dimiliki oleh guru agar dapat melaksanakan tugas mengajar secara efektif, efisien dan profesional mulai dari perencanaan pembelajaran hingga evalusi.

Peningkatan kinerja guru dalam pelaksanaan pembelajaran terus diupayakan oleh kepala sekolah dan pengawas sekolah melalui supervisi akademik. Seperti yang dikemukakan Usman (2005) dalam Umiarso (2010) bahwa kegiatan supervisi akademis merupakan suatu bentuk layanan profesional yang dikembangkan untuk meningkatkan profesionalisme komponen sekolah, khususnya guru dalam menjalankan tugas utamanya, yaitu sebagai pendidik dan pengajar yang merupakan ujung tombak dalam menjalankan roda pendidikan.

Fakta yang terjadi adalah pelaksanaan proses pembelajaran keseharian yang dilaksanakan guru berbeda kualitasnya pada saat disupervisi. Ketika disupervisi, guru selalu berusaha menunjukkan kinerja yang tinggi kepada supervisior, sehingga segala sesuatunya dipersiapkan secara profesioanal utuk pencapaian tujuan pembelajaran. Kinerja tersebut akan kembali seperti semula ketika tidak disupervisi, persiapan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran tidak matang dan  mengabaikan pelayanan maksimal kepada siswa. Terkadang apa yang telah direncanakan oleh guru  dalam bentuk RPP (Rencana Pelaksaaan Pembelajaran) tidak sesuai dengan pelaksanaannya, bahkan ironisnya, masih ada oknum guru yang mengajar tampa persiapan apapun juga.

Kinerja guru  pada dasarnya merupakan kinerja atau unjuk kerja yang dilakukan oleh guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. Kualitas kinerja guru akan sangat menentukan pada kualitas hasil pendidikan, karena guru merupakan pihak yang paling banyak bersentuhan langsung dengan siswa dalam proses pembelajaran di sekolah. () -03

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru