Eksistensi Mahasiswa Sebagai Agent of Change Part II

Montong Beter, 21 Dzulhijjah 1437 H / 23 September 2016 M

Mahasiswa, sebuah gelar baru yang hingga kini “dibanggakan”oleh sebagian besar masyarakat.Mahasiswa konon adalah para generasi harapan yang kelak mampu membawa perubahan bagi negara Indonesia untuk bisa bersaing dengan negara-negara di dunia. Sebutan itu hendaknya bisa menjadi cambuk bagi mahasiswa itu sendiri yang dipandang sebagaiAgent of change– agenperubahan. Mahasiswa dituntut mampu untuk mengontrol keadaan negara; bukan untuk sekedar mengkritik, tetapi juga memberikan kontribusi yang riil untuk perubahan yang lebih baik (agent of social control). Sebagai kaum intelektual mahasiswa harus bersikap berani dan kritis, berani untuk mendobrak zaman ke arah kemajuan dan kritis terhadap kebijakan para pemegang roda pemerintahan. Mahasiswa berperan sebagai transportasi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi mereka.. Namun, itu semua hanya akan menjadi label yang hampa tanpa makna jika mahasiswa tidak mampu memberikan perubahan yang signifikan bagi masyarakat dan negara. Mahasiswa bangga akan gelarnya namun lupa akan tanggung jawabnya. Tetapi itu semua tidak berarti apa-apa, jika untuk kedepan, implementasinya untuk lingkungan sekitar adalah kosong alias “nol besar”. Akan jauh lebih baik jika mahasiswa itu belajar untuk aktif, kritis dan tanggap sejak dini, yakni dimulai dari lingkungan kampus mahasiswa sendiri. Kampus adalah miniatur negara dan warga kampus yang terdiri dari mahasiswa, dosen dan karyawan adalah masyarakat negara tersebut, mahasiswa hendaknya tidak lupa akan perannya sebagai generasi harapan. Ketika mahasiswa berikrar dalam sumpah mahasiswa “bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan”, maka kewajiban untuk membela dan memperjuangkan bangsa yang selalu gandrung akan keadilan ini adalah hukum wajib. Sejak pelajar tercatat sebagai mahasiswa, mahasiswa harus belajar peduli dengan masyarakat dan itu semua tidak cukup hanya dengan kata-kata di lisan saja tetapi perlu implementasi atau tindakan riil. Atribut dan status sebagai mahasiswa sudah disandang.maka wajib hukumnya meninggalkan atribut dari pelajar SMA yang masih mengutamakan dunia hedonisme dan manja, menjadi mahasiswa yang mengutamakan kepentingan sosial, demokratis, kritis dan progresif. Sungguh ironis, padahal jika kita menilik akan definisi mahasiswa adalah sebagai kaum intelektual yang akan membawa perubahanke arah progresif, seharusnya mahasiswa mampu memberi solusi bagi negara untuk mengurangi angka pengangguran yang kian tahun kian bertambah besar. Namun harapan hanyalah tinggal harapan belaka jika keadaan mahasiswa sekarang hanya mengandalkan gelar belaka tanpa ada skill yang mumpuni. Perubahan, adalah satu kata yang sangat didambakan untuk membawa kemajuan bagi bangsa, dan mahasiswa dituntut untuk memulai perubahan itu. Merubah iklim hedonisme di kampus menjadi iklim yang penuh dengan hawa intelektualitas dan progresifitas. Mahasiswa seharusnya bisa mengimplementasikan kemampuannya di kampus dan juga lingkungan tempat tinggalnya sehingga keberadaannyasebagai mahasiswa akan sangat berpengaruh positif. Mahasiswa bisa menggunakan kampus yang merupakan miniatur negara sebagai tempat belajar sekaligus praktek berbirokrasi yang positif melalui organisasi-organisasi yang ada sehingga mahasiswa tidak menjadi mahasiswa yang vakum dan pasif. Kampus, ketika kaum elit intelektual yang tidak lain adalah mahasiswa memasuki dunia ini sebenarnya banyak sekali sarana dan fasilitas yang bisa mahasiswa fungsikan untuk belajar menjadi manusia sejati, mahasiswa dengan peran dan tanggung jawabnya, asal mahasiswa tidak buta dan tuli dengan berbagai realita sekitarnya.

Setelah belajar bermasyarakat di sekitaran kampus, mahasiswa diharapkan bisa mengimplementasikan segala ilmu dan kemampuan yang didapatkan dan dimilikinya selama proses pembelajaran di bangku perkuliahan di dalam bermasyarakat. Dan salah satu cara untuk mewujudkan hal itu adalah dengan pengabdian kepada masyarakat yang terdapat di dalam mata perkuliahan Kuliah Kerja Nyata (K2N).

Salah satu fungsi mahasiswa sebagai kaum intelektual adalah mahasiswa sebagai Iron Stock atau persiapan pengganti generasi sebelumnya. Ini  merupakan peranan mahasiswa yang tidak kalah penting, dengan idealisme yang dimilikinya membuat mahasiswa menjadi tangguh untuk menggantikan generasi-generasi sebelumnya. Mahasiwa adalah aset yang penting di dalam melakukan pergerakan dan perubahan. Tentunya di dalam menjalankan peran ini mahasiswa harus memiliki skill yang di dapat dari pengalaman organisasi di kampus dan mahasiswa harus memiliki akhlak mulia agar ilmu yang ia dapat dapat dipergunakan untuk melakukan hal-hal yang baik.

Dalam masalah ini mahasiswa dituntut mampu untuk berjiwa gotong royong membantu masyarakat dalam segala hal yang tentunya bergerak di bidang kebaikan dan juga untuk kemajuan masyarakat sebuah negara.

Mahasiswa diharapkan mampu untuk menunjukkan kepekaannya terhadap masalah yang sedang dihadapi oleh suatu masyarakat dan dituntut mampu memberikan solusi terbaik untuk pemecahan masalah

Seperti yang kami lakukan sebagai peserta K2N di desa Montong Beter, menyadari bahwa secara meteorology dan klimatologi merupakan daerah yang panas, kami memberikan solusi berupa penghijauan dengan memberikan bibit pohon kepada masyarakat untuk ditanam di tempat-tempat yang strategis dan kemudian dirawat supaya tumbuh dan mengurangi pemanasan global.

Pembagian bibit dan penanaman ini juga diniatkan untuk menyelamatkan bumi dari berbagai bencana seperti longsor, banjir dan lain sebagainya. Terutama untuk menyelamatkan bumi dari pemanasan global, karena kami percaya bahwa satu pohon akan memiliki seribu manfaat untuk kehidupan kita.


 
 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru