Dalam Pembelajaran, Gunakan Prinsip Ilmiah

KM TNC. Salah satu materi ajar dalam pertemuan “Pengingkatan Kompetensi Guru 2015”, di Kota Bima (29/10 adalah pembelajaran Bahasa Indonesia menggunakan pendekatan Ilmiah/Saintifik. “Apakah itu pendekatan ilmiah itu? Pendekatan ilmiah/saintifiks adalah sebuah pendekatan pembelajaran yang meggunakan prinsip-prinsip ilmiah. Oleh karena itu, kebenaran yang diperoleh berupa atau dikenal sebagai kebenaran ilmiah” demikian ungkap Kasman, M.Hum dari Kantor Bahasa Provinsi NTB dalam topik Pembelajaran Bahasa Indonesia Menggunakan Pendekatan Ilmiah/Saintifik.

“Apa saja prinsip-prinsip ilmiah?” lanjutnya. Menurut Kasman, prinsip-prinsip ilmiah itu, antara lain: sistematis, terkontrol, empirik, kritis. Sitematis, antara satu tahapan dengan tahap berikutnya memiliki memiliki hubungan pendasaran/tidak boleh dibolak balik antara tahapan yang satu dengan tahapan yang lainnya.

Terkontrol, dalam pelaksanaan setiap tahapan harus dapat dikendalikan. Kapan harus kita memulai tahapan pertama dan kapan harus kita akhiri harus dapat dikendalikan . Empirik, kegiatan itu harus didasari dari hasil pengamatan. Kritis, apa yang dihasilkan oleh para saintis tidaklah lahir dari ruang hampa melainkan dilahirkan dari kegiatan ilmiah sebelumnya. Hal ini berarti bahwa suatu kegiatan ilmiah/saintifik dengan kegiatan melakukan kegiatan saintifik berikutnya, kita harus menelaah proposisi-proposisi ilmiah yang telah ditemukan sebelumnya dengan demikian, kita terhindar dari penduplikasian hasil penelitian dan sebagai titik tolak agar apa yang kita lakukan selanjutnya dapat menghasilkan sesuatu yang baru.

Selain itu, kritis juga dapat diartikan sebagai sikap selalu mempertanyakan keruntutan pelaksanaan kegiatan ilmiah (pengumpulan, analisis, dan penyajian hasil analisis) termasuk mempertanyakan capaian dari setiap tahapan (apakah konklusi yang diambil telah sesuai dengan kegiatan ilmiah yang dilakukan).

Dalam proses pembelajaran, pendekatan ilmiah/saintifik tidak dapat diabaikan karena pengetahuan/ilmu yang akan ditransfer kepada peserta didik itu sendiri diperoleh dari pendekatan saintifik. Kasman memberi contoh “dalam menciptakan sebuah teks deskripsi, guru dapat memualai pembelajaran dengan mengambil objek tentang deskripsi tumbuh-tumbuhan yang terdapat di sekitar sekolah”.

Tahapan empirik demikian tidak hanya berahir pada mempersoalkan/mempertanyakan gejala-gejala alam, melainkan diikuti dengan tahapan lainnya berupa pengumpulan impormasi/data, selanjutnya dilakukan penganalisaan data dengan cara menghubungkan antara suatu data dengan data lainnya, sampai pada tahap penyajian dan pelaporan.

"dalam tahap kritis, dilakukan telaah keterkaitan antara satu fakta dengan fakta lain yang menjadi temuan. Apakah data, informasi, atau fakta yang diperoleh sudah cukup relevan dengan tujuan yang ingin dicapai", sambung Kasman di depan peserta. (Usman D Ganggang) - 01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru