Program Tahfiz di Sekolah Umum

SMPN 3 KOPANG-Perubahan demi perubahan terus diupayakan, tak terkecuali program yang diarahkan menuju pembentukan akhlakul karimah (karakter) yang sudah mulai terkikis akibat perkembangan globalisasi dan westernisasi.

Pendidikan sebagai pondasi penting dalam persiapan dan penguatan generasi bangsa, menjadi sebuah keniscayaan untuk dijaga dan memeliharanya dari pengaruh-pengaruh kepentingan politik praktis. Jika tidak, maka pendidikan yang harusnya steril akan terus digrogoti oleh virus-virus jahat yang akan merusak jiwa dan karakter anak bangsa.

Pendidikan yang didalamnya terdapat banyak komponen penting yang mendukung keberhasilan sebuah sistem, harus terus terpelihara sinergitasnya, bahkan pemerintah sebagai penanggung jawab atas keberlangsungan dan kemajuan pendidikan harus mampu melakukan control yang massif dalam semua lini dan aspek pendidikan strategis. Dan salah satunya adalah para guru sebagai pendidik, pembina dan pelatih.

Ketika peran guru mulai diabaikan dan terancam dari kata nyaman dan aman, maka hal tersebut akan sangat berpengaruh terhadap kinerja dan loyalitasnya dalam proses pembinaan dan pendidikannya.

Maka salah satu upaya yang mestinya dilakukan oleh para pemangku kebijakan adalah memberikan fasilitas yang memadai baik kepada peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan agar tidak ada lagi alasan kesejahteraan menjadi kendala dalam upaya memenuhi kehausan intelektualitas (intellectual curiocity) para peserta didiknya.

Sebagai pembelajaran kita, sekilas masih ingatkah kita ketika Kennedy (Presiden Amerika kala itu), mempertanyakan kompetensi para guru ketika pesawat luar angkasa Amerika Serikat kalah dengan Rusia dalam misi luar angkasanya pada saat itu. Dia berujar “ ada apa dengan guru-guru kita?”

Nah, bagaimana dengan pendidikan kita di Indonesia tercinta ini? Pernahkah kita memberikan kesejahteraan yang pantas bagi para guru, khususnya para guru honorer yang puluhan tahun mengabdi dengan gaji dibawah UMP? Jika hari ini untuk meningkatkan kompetensi harus melalui PKG/UKG diyakini oleh pemerintah sebagai solusi meningkatkan kompetensi, maka hal tersebut salah besar. Bagaimana dengan para guru-guru senior yang masih puluhan tahun pensiun seolah dipaksa mengikuti UKG online yang bagi mereka teknologi adalah momok yang sangat menakutkan. Apalagi sudah tersebar dimedia-media bahwa TPG (Tunjangan Profesi Guru/Sertifikasi) akan dihapus dan para guru akan dinilai sesuai dengan kompetensi dan kinerjanya. Jika ini benar terjadi, maka sungguh akan sangat berdampak besar terhadap kinerja para guru beberapa tahun kedepan. Baik buruk, positif dan negatifnya jelas ada, namun pemerintah mesti mempertimbangkan cara lain yang lebih berkeadilan demi keselarasan pendidikan dimasa depan.

Terlepas dari kisruh dan problematika di atas, di SMPN 3 Kopang sepertinya tidak terpengaruh dengan berbagai aspek eksternal yang terjadi. OSIS sebagai provider dan pioneer program telah mampu membangun kemandirian dalam upaya menciptakan suasana belajar sesuai dengan amanah UUD 1945 yaitu membangun peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dalam bingkai kegiatan TAHFIZ Al-Qurʻan pada jam ke-0 (07.00). hery

Semoga bermanfaat... [] - 05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru