Penggunaan Dana BOS SMAN 1 Monta Sarat Penyimpangan

Pasca perseteruannya dengan salah satu guru atas indikasi penyalah gunaan dana BOS beberapa waktu lalu yang berakhir di meja Inspektorat dengan satu pernyataan yang ditandatangani kepala sekolah. Yang kemudian memancing reaksi sejumlah pihak baik LSM maupun awak media sampai reaksi keras dari Himpunan Mahasiswa Monta (HMM) yang menggelar aksi tuntutan di depan dinas Dikpora Kabupaten.

Menyusul desakan pemuda peduli pendidikan monta agar kepala sekolah turun tahta atas indikasi amoral yang dilakukan salah satu guru di sekolah tersebut, yang melahirkan surat pernyataan undur diri kepala sekolah.

Persoalan itu belumlah tuntas namun kini kepala SMAN 1 Monta H. Sulistyo Widodo, S.pd kembali dirundung masalah yang hampir sama yakni diduga telah menggunakan dana Bos lalu berusaha untuk mengelabui guru dan pegawai dengan alasan membayar hutang sekolah mencapai 83 juta.

Hal lainnya dengan modus memakai angggaran komite sekolah sebesar 40 juta dengan alasan pinjaman dan akan dikembalikan setelah pencairan dana BOS periode juli s/d desember 2014 sehingga kebutuhan sekolah pada periode berjalan ditutupi dengan dana talangan komite namun setelah anggaran BOS cair, dana talangan yang seharusnya masuk kembali ke kas Komite tersebut hingga berita ini ditulis hanya sekitar 15 juta yang masuk kembali  pada bendahara komite sementara 25 juta masih di tangan kepala sekolah.

Seharusnya tunjangan guru dan pegawai telah dibayarkan dengan anggaran komite untuk  bulan berjalan terpaksa tidak dapat dilakukan dan hal ini menjadi taruhan bagi kesejahteraan guru dan pegawai yang ada.

Jika pun dana tersebut akan dikembalikan akan muncul asumsi bahwa dana BOS dapat digunakan untuk pinjaman pribadi kepala sekolah dengan mengandalkan dana komite dan atau lebih parahnya bahwa sumber dana yang ada di sekolah dapat digunakan sebagai modal usaha bagi kepala sekolah yang sewaktu-waktu sesuka hati kepala sekolah untuk mengembalikannya.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa laporan pertanggungjawaban penggunaan anggaran-angaran tersebut secara formalitas dapat diatur fiktif.

Anehnya, hutang 83 jt tersebut tidak termasuk yang 25 juta dana komite yang digunakan secara pribadi oleh kepala sekolah dan terkesan uang tersebut sengaja ditutupi. Sementara laporan kepala sekolah saat dikonfirmasi di ruang kerjanya rabu (1/4) dari total hutang 83 jt itu terdiri atas pinjaman pada rentenir plus menjadi 30 jt, hutang pajak tahun 2014 sebesar 20 juta, hutang buku K13 mencapai 30 juta, dan hutang pengeluaran untuk kegiatan tryout sampai ujian sekolah 31 juta. Dan pengeluaran lainnya yang menjadi beban hutang.

Anggaran untuk triwulan pertama 2015 sebesar 170 jt hanya tersisa tidak lebih dari 10 juta dan saat ditanya terkait pembiayaan untuk kesejahteraan guru dan pegawai, Sulis hanya menanggapi ringan dengan memberikan janji untuk triwulan berikutnya, “Insya Allah BOS yang berikut akan kita biayai,” terangnya.[Leo] 

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru