Korupsi? Pendidikan Karakter Salah Satu Solusinya

KM. Begibung. Korupsi yang merajalela di negeri kita diibaratkan penyakit akut yang sangat sulit untuk disembuhkan, betapa tidak perilaku koruptif sudah menjadi budaya bagi setiap pejabat baik pejabat di tingkat atas hingga pejabat di akar rumput seperti kepala dusun bahkan sampai RT dan RW.

Penyakit korupsi telah memporakporandakan berbagai sendi kehidupan yang membuat rakyat menderita terkapar lunglai dan tak sanggup berdiri lagi. Betapa tidak kekayaan negara yang seharusnya diperuntukkan  sebesar-besarnya untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya, namun dirampok secara masiv oleh orang-orang yang haus harta untuk memperkaya diri sendiri dan kelompoknya. Mark up, pencucian uang, sogok menyogok, kasus pemerasan hingga menyelewengkan uang negara dengan berbagai kelicikan adalah modus-modus yang dilakukan oleh mereka.

Masih segar diingatan kita korupsi yang dilakukan di bank century yang sampai saat ini tidak ada ujung pangkalnya. Gayus sang PNS golongan rendah memiliki kekayaan fantastis yang ternyata diperoleh secara haram dengan merampok uang pajak. Belum lagi sang Ratu koruptor Ratu Atut dan keluarganya membangun sebuah dinasti keluarganya dari hasil merampok pada APBD Provinsi Banten.

Korupsipun terus berlanjut ke kasus Hambalang yang dilakoni oleh beberapa petinggi politisi Demokrat seperti Nazarudin, Angelina Sondag, Annas Urbaningrum, Andy Malarangeng dan lain-lain. Bukan samapi di situ, korupsi tidak saja dilakukan oleh pejabat pusat, namun juga merambah samapi ke pejabat daerah seperti yang terjadi baru-baru ini adalah kasus korupsi yang diduga dilakukan oleh Bupati Lombok Barat Zaeni Arony.

Terus berulangnya kasus-kasus korupsi yang mengakibatkan penderitaan rayat perlu mendapatkan perhatian yang serius. Kasus korupsi terus berlanjut bukan saja disebabkan karena lemahnya kontrol pemerintah namun hal ini menunjukkan masih lemahnya pola pendidikan yang berbasis karakter di sekolah. Atau, mungkin saja pendidikan karakter tidak disertai dengan keteladanan. Banyak pendidik yang tidak menunjukkan sikap disiplin, jujur, bertanggung jawab dan sikap ketidakpedulian terhadap sesama. Patut diingat dalam membentuk karakter, sikap dan keteladanan haruslah lahir dari keseharian pendidik.

Ketidakberhasilan pendidikan karakter dan pendidikan agama dalam membentuk karakter yang jujur, peduli dan bertanggung jawab lebih disebabkan kecendrungan para pendidik lebih menekankan pendidikan karakter pada tataran tekstual atau hafalan-hafalan tentang pendidikan karakter tersebut. Padahal, yang dibutuhkan siswa bagaimana memaknai konsep-konsep karakter untuk dapat diimplementasikan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Bahkan, dalam pendidikan agama di sekolah-sekolah siswa hanya diajarkan masih sebatas tataran ritual bukan pada tataran kontekstual. Artinya, pembelajaran agama masih lebih menekankan pada tataran kulit luar dan belum sampai menyentuh esensi nyata di balik perintah agama, dengan kata lain agama masih belum dijadikan sebagai tuntunan.

Hal lain yang menjadi persoalan pendidikan pada saat ini adalah tidak semua pendidik mengerti tugas dan fungsinya. Banyak guru yang hadir sekadar menggugurkan kewajiban saja. Sehingga, ia lupa dalam mengobservasi perilaku siswanya. Inilah tantangan nyata pendidikan kita pada saat ini. Orang pintar banyak, tapi minim yang terpelajar. Pun guru banyak tapi hanya sedikit yang bisa mendidik.

Sudah saatnya kita mengingat kembali ide dan visi Bapak Pendidikan kita Ki Hajar Dewantara, yang menekankan bahwa pendidik identik dengan keteladanan. Ia harus hadir menjadi pencerah dan pembawa prilaku baik bagi siswanya. Ini diikuti dengan kultur saling asah, saling asih, dan saling asuh. Kultur ini bagian karakter wajib yang harus dimiliki pendidik. Sebab, hal ini akan diwariskan kepada siswanya melalui sikap kesehariannya.

Jadi, kasus korupsi yang terus bersemayam di di negara kita akan bisa diobati melalui pendidikan karakter khususnya pembentukan karakter jujur, disiplin, peduli (empati) dan bertanggung jawab, dengan cara memberikan  keteladanan, penciptaan lingkungan, dan pembiasaan. Semoga! (Zul). [] - 05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru