Kenapa Siswa Dilarang Membawa HP ke Sekolah?

Pembelajaran Dengan Media Elektronik

Saat ini media dan bahan pembelajaran tidaklah sulit di dapat karena di setiap kelas siswa memiliki alat tersebut seperti apa yang dilakukan pada video pembelajaran berikut ini, yaitu lapto bahkan bisa menggunakan handpone yang android, adapun materi siswa bisa mendownload melalu jaringan internet, atau hotspot jika sudah ada di sekolah, jika tidak ada bisa menggunaan modem atauhandpone dengan isi pulsa sesuai kebutuhan, atau daftar unlimitet. Materi bisa juga dengan mengcopy melalui flashdicd adapun pendekatan yang kita gunakan ketika media/alat ajar terbatas menggunakan kooferatif learning dengan metode diskusi, stat, jigsaw dan sebagainya dengan menggunakan strategi inkuiri, atau ekspositori sehingga langkah OQAEN (observing, questioning, associating, experimenting, networking) dapat dilalui, 

1. anak setelah mendownload materi atau mengcopy dia dapat mengamati tentang materi atau gerakan gambar atau video yang mereka lihat atau tonton dan yang mereka baca.

2. dari pengamatan mereka siswa diarahkan untuk dapat menyusun pertayaan di masing-masing kelompok untuk di tanyakan kepada kelompok lain atau guru. disamping itu guru juga menyiapkan pertanyaan yang berbeda untuk masing-masing kelompok untuk mengantisifasi adanya pertaan yang dibuat siswa yang tidak mewakili materi yang sedang dibahas.

3. dari pertanyaan tersebut siswa di arahkan untuk mulai menalar apa solusi jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan oleh teman mereka/kelompok lain kepada mereka ataupun pertanyaan yang bersumber dari guru.

4. siswa di persilahkan mencoba menyusun jawaban dari hasil penalaran mereka setelah mengamati apa yang mereka baca, lihat dan mereka tonton dari hasil pencarian mereka tentang materi yang sedang dibahas yang berasal dari hasil temuan mereka melalui media elektronik/internet baik yang di download atau di copy paste. kemudian siswa diberikan waktu untuk menguraikan jawaban yang mereka temukan/ merepresentasikanya jawaban mereka baik pertanyaan dari teman kelompok lain atau dari pertanyan teman sendiri atau pertanyaa dari guru. ini sangat penting untuk melatih kemampuan mereka agar mampu tampil dan menyapaikan pendapat secara akademis dengan menggunakan pola atau sistem yang benar.

5. dari hasil penyampaian jawaban dari keompok siswa yang mendapat kesempatan presentasi, kemudian meminta pendapat dari jawaban tersebut untuk dinilai kebenarannya. disamping itu mereka meminta masukan dari kelompok lain sebagai solusi jawaban atas pertanyaan yang sedang dibahas, termasuk meminta masukan dari guru sehingga terjadi jaringan intraksi antar siswa dengan siswa,antara siswa dengan kelompok antar kelompok dengan kelompok antara siswa dengan guru antara kelompok dengan guru dan sebalinya.

Dari apa yang penulis sampaikan penulis mengharap dari pemegang kebijakan idak melarang siswa membawa laktop, handpone dan alat elektro lainya ke sekolah karena bukan alatnya yang salah tetapi arah penggunaannya yang perlu di guide dan consling siswa. karena banyak sekolah dalam kebijakannya melarang siswa membawa media elektronik seperti tersebut di atas karena ketakmampuan personal sekolah mengarahkan, membimbing, membina dan mengajrkan cara penggunaan alat tersebut sebagai alat bantu media pembelajaran. Jadi penulis mengkaji karena sebagian besar tenaga guru ketinggalan dalam perkembangan teknologi, sehingga dalam rapat penyusunan tata tertib sekolah memberikan masukan larangan membawa media elektronik khususnya handpone, karena para guru sebagian besar memberi alasan sisi negatifnya. Padahal kegiatan negatif siswa lakukan karena media itu tidak maksimal digunakan untuk kegiatan positif sehingga ada peluang untuk menggunakannya kearah negatif, ini dikarenakan tidak semua guru dalam satu sekolah mampu menggunakan atau mengopersaikan alat/media tersebut. Sekarang sudah zaman canggih sudah modern kenapa justru guru malah memaksakan konsep belajar secara ortodhok. Jadi kalau hal ini terus terjadi maka sekolah sebagai ujung tombak pengemban kemajuan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) justru menurut pemikiran saya malah jadi penghambat. Kembali lagi alasan mengorbankan keinginan siswa menguasai iptek terpsung oleh tata tertib sekolah akibat sebagian besar bahkan mungkin semua guru di sekolah tesebut tidak mampu menggunakan/mengoperasikat media tersebut di atas.

Padahal kalau kita mengkaji semua bahan yang baik kalau penggunaannya tidak diarahkan ke yang berguna justru jadi petaka. Salah satu contoh ketan itu sangat berguna sebagai sumber krbohidrat jika di gunakan untuk bahan komsumsi yang halal, karena ketan memang halal, tetapi kalau penggunaanya salah bisa menjadi bahan minuman yang memabukkan (miras). Ini berarti dapat petaka karena miras dapat membuat gangguan pada otak juga pada jiwa manusia. Jadi dapat penulis simpulkan apapun media/alat/bahan kalau tidak mampu digunakan/dioperasikan oleh pembimbing pelatih dan pengajar kearah positif maka akan menjadi perbuatan negatif yang ujung-ujungnya lahir peraturan-peraturan larangan. [] - 05

(Jurit, 12 Desember 2014)-Hasan A.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru