Membangun SMK Lebih Maju

Definisi  Pendidikan Kejuruan dalam UU Sisdikanas disebutkan sebagai pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu.  Selanjutnya dalam PP no. 20 Tahun 1990 disebutkan bahwa pendidikan kejuruan  adalah bagian dari pendidikan menengah yang mengutamakan pengembangan kemampuan siswa untuk pelaksanaan jenis pekerjaan tertentu.

Jadi disimpulkan bahwa pendidikan kejuruan  adalah proses pendidikan untuk membekali siswa dengan kompetensi-kompetensi sesuai kebutuhan dunia kerja sehingga  setelah lulus dapat menjadi tenaga terampil dan tenaga berkualitas.

Untuk  mampu membekali siswa dengan kompetensi – kompetensi dunia kerja, maka SMK harus mampu mengenali karakter diri dan melewati tantangan- tantangan yang siap menghadang.  Beberapa tantangan tyang dihadapi dalam mempersiapkan SMK dapat diidentifikasi yakni;

Pertama, Internalisasi sikap Profesional, calon tenaga kerja yang dipersiapkan, agar dapat diterima oleh dunia kerja harus memiliki kompetensi dan sikap profesional. Penanaman sikap profesianal adalah hal yang paling rumit, dikarenakan sikap profesional tidak dapat diajarkan secara teori, melainkan melalui pembiasaan selama proses Sekolah dan di Industri.  Penerapan nilai- nilai industri di dalam budaya Sekolah sangat di harapkan sehingga siswa  terbiasa dengan sikap profesional ini.

Kedua, Keterbatasan Potensi Sekolah, Pembangunan sektor pendidikan merupakan bagian dari anggaran pembangunan nasional. Keterbatasan anggaran  yang ada mengharuskan  manajemen Sekolah mengatur dan melakukan inovasi – inovasi dalam manajemen pengelolaan Sekolah.  Kerja sama industri merupakan salah satu alternatif mengatasi keterbatasan ini. 

Ketiga, Ketersediaan lapangan Kerja,  merupakan suatu hal yang harus diperhatikan secara seksama, walaupun ketersediaan industri dipengaruhi oleh perekonomian  nasional. Namun analisis terhadap ketersedian lapangan kerja untuk tamatan dan pembekalan terhadap kompetensi  sesuai kualifikasi industri tetap harus dilaksanakan sebaik mungkin.

Pengembangan SMK  mendapat dukungan penuh oleh pemerintah  saat ini . dengan dibuatkan berbagai kebijakan  yang memberikan ruang yang lebih untuk pengembangan diri SMK.  Beberapa faktor pendukung SMK dapat di identifikasi sebgai berikut;

satu, Kondisi politik nasional, yakni peningkatan anggaran pendidikan  APBN sebesar 20 % dan kebijakan Mendiknas tentang kuato proporsi siswa SMA dan SMK sebesar 30 : 70.  dengan adanyan dua kebijakan ini, menjadi angin segar bagi pengembangan SMK dengan adanya prioritas  pembangunan di bandingkan SMA.

Kedua, Perkembangan Industri,  Indonesia sebagai sebuah negara yang berkembang, untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat  maka masyarakat harus memproduksi barang dalam jumlah besar.  Kebutuhan industri menjadi besar dan berimbas pada kebutuhan tenaga kerja trampil. 

Ketiga, Dukungan Industri,  banyaknya industri ynang berpartisipasi dalam melakukan kerjasama-kerjasama aktif dengan SMK menjadi angin segar dalam  pengembangan SMK . dukungan  yang diharapkan dari industri berupa, penyusunan kurikulum, tempat praktek, bantuan fasilitas dan lain- lain.

Kerja sama dengan Industri merupakan sebuah keharusan  bagi SMK, karena SMK sendiri indentik dengan industri. Oleh karenanya pengetahuan tentang kondisi atau budaya – budaya serta nilai- nilai di dalam industri wajib untuk  pahami.  Pemahanan terhadap budaya industri, diharapkan Sekolah mampu mengambil sikap dan langkah untuk dipersiapkan. 

Budaya iindustri  yang perlu di sikapi dan diterapkan dalam lingkungan Sekolah, bahwa industri itu ; Profit Oriented, Effesiensi dan Effektifitas, disiplin  waktu,  dan menjunjung tinggi perencanaan.   Nilai- nilai ini merupakan  nilai dari budaya industri yang harus di pahami oleh siswa dengan baik.

Untuk itu penyelenggaraan Partnership  antara Sekolah dan industri  sangat dibutuhkan. Sekolah harus memandang industri sebagai  mitra yang sangat penting, dan dibutuhkan, sehingga jalinan  kerjasama yang solid dan pemahaman yang sama sangat dibutuhkan dalam  membangunan  kerjasama.   Beberpa prinsip yang harus dipamahi oleh Sekolah dalam menyelenggarakan partnership dengan industri, adalah.

Pertama,  Sekolah harus mampu menjaga keharmonisan hubungan dengan industri dengan selalu menjaga silaturahmi/ kunjungan  industri secara berkala dan menyusun program yang saling menguntungkan. 

Kedua, Sekolah harus mampu menjaga kualitas kompetensi siswa sesuai dengan kebutuhan  kompetensi yang dibutuhkan industri.  Kemampuan kompetensis siswa  yang terjaga saat melaksanakan  prakerin menjadi modal dalam menjaga keharmonisan hubugan dengan indutri.

Bentuk kegiatan partnership antara Sekolah dan industri dalam penyelenggaraan pendidikan kejuruan bertujuan untuk    meningkatkan kualitas.   Kualitas yang dimaksud adalah kesesuaian antara kompetensis siswa dengan kebutuhn industri.  Ada beberapa kegiatan yang dilaksanakan oleh Sekolah dan industri sebagai sebuah bentuk partnetship, yakni ;

(1). Pengembangan Kurikulum, dilakukan setiap tahun dengan memperhatikan masukan-masukan selama proses baik yang terjadi di Sekolah maupun di industri.  Masukan dari industri dalam pengembangan kurikulum adalah kompetensi dan informasi IPTEK industri serta budaya kerja.

(2). Praktek industri.  Dalam rangka unutk meningkatkan dan menjamin kualitas  hasil didikan, maka dibutuhakn proses pembelajaran di dunia nyata, yakni industri.  Proses pembelajaran dan pengajaran  ditempuh melaui praktek Industri (Prakerin).  Ketersedian industri yang sesuai dengan kebutuhan program studi, menjamin kelancaran proses pembelajaran di industri.  Prakerin di samping untuk siswa juga untuk meningkatkan kualitas guru, dengn melihat langsung perkembangan teknologi yang ada di industri sehingga di dalam proses pembelajaran  ada kesesuaian materi yang disampaikan dengan ketersedian teknologi yang ada di industri.

(3).  Outsoursing tenaga pengajar.  Keterbatasan  teknologi yang dimiliki Sekolah menyebabkan keterbatasan transfer pengetahuan pada siswa.  Keterbatasan tersebut disebabkan oleh perkembangan yang terjadi di Industri sangat cepat dan tidak mampu di ikuti oleh pihak Sekolah.  Untuk tetap memenuhi kebutuhan terhadap transfer teknologi, maka  pembelajaran di Sekolah dapat dilakkukan oleh guru tamu dari industri.

(4). Dukungan fasilitas,  kompetensi yang ada dalam silabus, harus disampaikan kepada siswa.  Fasilitas menjadi kebutuhan vital untuk dapat melaksanakan pembelajaran secara maksimal.  Kerjasama dengan industri  merupakan alternatif ketika Sekolah tidak memiliki kemampuan untuk melakukan pengadaan  peralatan yang dibutuhkan.  Kebutuhan peralatan pada industri dapat dilaksanakan dengan cara peminjaman ataupun dengan menggunakan fasilitas industri.

(5). Teaching factory.   Pembelajaran praktik pada dasarnya sama dengan proses produksi.  Guru mempersiapkan  tugas praktek dalam bentuk jobsheet, meliputi; teori dasar, gambar kerja, prosedur kerja, alat dan bahan, penilaian dll. Siswa melaksanakan praktek berdasarkan jobsheet dan arahan guru.  Dalam proses produksi di industri, tenaga kerja melaksanakan pekerjaan sesuai gambar kerja (termasuk ukuran dan bahan) dengan fasilitas yang dimiliki mengikuti prosedur yang ditetapkan perusahaan.

(6). Penempatan tamatan.  Bagi SMK keterserapan/ penerimaan  tamatan merupakan target yang harus dicapai.  Berbagai kegiatan partnership harus diupayakan untuk dapat mendukung penempatan dan penyerapan tamatan.

(7). Pengembangan SDM. Pengembangan sumber daya manusia yang dimiliki sekolah merupakan upaya peningkatan kualitas layanan pendidikan kepada masyarakat secara terus menerus.  Upaya  ini harus dilakukan meningkatkan kalifikasi kompetensi terus berkembang seiring dengan perkembangan peralatan dan  teknologi di industri.  Pengembangan komptetensi SDM sekolah bekerja sama dengan dengan Industri.  Pengembangan SDM  dimulai dengan analisa kebutuhan tiap komponen sekolah meliputi ; manajemen, teknologi, teknisis, laboraturium dan lain-lainnya. 

(8) Sertifikasi Tamatan, sertifikasi tamatan merupakan modal utama bagi calon tenaga kerja untuk memasuki dunia kerja.  Sertifikasi tamatan merupakan jaminan bahwa tenaga kerja tersebut memiliki kualifikasi sesuai dengan persyaratan  industri. 

Partnertship akan terjalin dengan baik jika ada proses take and give pada kedua belah pihak, dalam hal ini sekolah dan industri.  Proses ini merupakan  dasar terbangunnya kerjasama saling menguntungan kedua belah pihak dan bertahan lama. 

Untuk itu sekolah harus mampu menjaga partnership agar bertahan lama,  semakin lama bertahan maka semakin bermanfaat untuk sekolah sehingga pengembangan SMK yang maju dapat dipercepat.  Bila tidak, maka kita hanya akan membangun SMK  yang tidak mampu menyediakan tenaga kerja yang siap mandiri, trampil dan inovatif. Bila ini  yang terjadi, tidak ada bedanya SMK dengan Sekolah umum, karena SMK tak mampu menyediakan tenaga yang memiliki kompetensi siap kerja.  Dan  ini adalah kegagalan bagi SMK.

( FATHUR RAHMAN, ST  Staf Pengajar SMK Negeri 2 Bima – Woha) - 01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru