Demi Gengsi Kualitas Pendidikan Terlupakan

Pendidikan merupakan suatu usaha untuk mencapai suatu tujuan pendidikan. Usaha pendidikan menyangkut tiga unsure pokok, yaitu input, proses dan output. Input pendidikan adalah siswa/peserta didik yang terdiri dari berbagai ciri masing-masing. Proses pendidikan terkait dengan berbagai hal, seperti pendidik/guru, kurikulum, gedung sekolah, buku pelajaran, dan keterampilan mengajar (metode dan pendekatan pembelajaran). Sedangkan output adalah hasil pendidikan yang berupa pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperoleh peserta didik.

Kualitas atau mutu merupakan hal yang penting dalam dunia pendidikan. Kualitas menciptakan lingkungan bagi pendidikan, orang tua, pejabat pemerintah, wakil-wakil masyarakat, dan pemuka bisnis untuk bekerja bersama guna memberikan pelayanan pendidikan yang baik dan berkesinambungan bagi peserta didik beserta sumber daya yang dibutuhkan.

Dari sudut pandang peserta didik, sekolah harus dapat melayani proses belajar mengajar dengan sebaik mungkin serta memberikan kepuasan kepada peserta didik ketika mereka sedang mengikuti pendidikan di sekolah tersebut. Dari sudut pandang proses, suatu lembaga pendidikan/sekolah harus memiliki guru yang berkompetensi dalam memberikan pelayanan pendidikan kepada peserta didik dan mengajar sesuai dengan basic pendidikannya, baik dengan penguasaan metode dan pendekatan pembelajaran, penguasaan kurikulum, penyediaan buku pelajaran bagi siswa, pengadaan gedung sekolah beserta sarana pendukung belajar lainnya, serta pemberian ekstra kulikuler untuk meningkatkan moralitas dan mental peserta didik. Selanjutnya dari sudut pandang lulusan, sekolah harus dapat membekali ilmu yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik di lapangan kerja/terutama bagi peserta didik setingka SMA/SMK.

Untuk memperoleh lulusan/outpun yang bermutu maka sangat dibutuhkan proses pembelajaran yang efektif dan efisien, pengayaan, pelatihan, dan penggodokan mentalitas serta karakter yang mulia. Dengan demikian maka mutu output akan tinggi dan berkualitas. Hanya saja pendidikan di Indonesia memang sudah melakukan usaha untuk menciptakan pendidikan yang bermutu dengan planning dan organizing yang sangat jitu. Namun dilain sisi pendidikan di Indonesia tidak dapat menjalankan manajemen pendidikan dengan sebaik mungkin.

Manajemen pada dasarnya adalah perencanaan, pengorganisasian, dan evaluasi. Sesunguhnya manajemen itu memiliki lima fungsi yang utama, yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penyususnan staf (staffing), pengarahan organisasi (leading), dan pengendalian (controlling). Ke lima fungsi manajemen itu tidak dapat terpisahkan, artinya semua fungsi tersebut harus dijalankan dengan seimbang, seiring dan sejalan. Jika ada diantara fungsi itu yang tidak dilaksanakan maka akan terjadi tumpang tindih dalam pelaksanaan program. Oleh sebab itu diperlukan organizing yang baik guna terciptanya pendidikan bermutu di Indonesia yang kita cintai ini.

Terkait dengan hal tersebut, ahir-ahir ini pendidikan di Negara kita kelihatannya lebih mementingkan kuantitas dari pada kualitas. Hal inilah yang kemudian menyebabkan terjadinya degradasi moral pada generasi muda bangsa Indonesia, bertambahnya angka pengangguran, dan kriminalitas yang umumnya disebabkan oleh generasi muda. Hal ini tentunya sangat menyedihkan untuk menjadi bahan tontonan kita bersama. Hal ini terjadi akibat tidak dijalnaknnya semua fungsi manajemen yang ada dalam dunia pendidikan kita.

Pendidikan di Indonesia memang mencanangkan penyelenggaraan yang bermutu dengan berbagai program, seperti memperbaiki kualitas kurikulum, pengadaan bangunan sekolah dengan pemberian bantuan DAK berupa RKB, Rehab, Perpustakaan, Laboraturium, dan lain sebagainya. Hanya saja penyempurnaan kurikulum yang dilakukan dalam waktu yang relative cepat menyebabkan kebingungan bagi guru yang merupakan ujung tombak pelaksana program pendidikan. Bagaimana tidak, kurkulum yang seyokyanya diganti dalam gurun 10 tahun sekali harus diganti/disempurnakan dalam waktu 2 tahun dan yang paling membingungkan adalah dalam kurun waktu 2004 hingga sekarang sudah terjadi 3 kali pergantian kurikulum, yakni kurikulum 2004 (KBK), kurikulum 2006 (KTSP), dan kurikulum 2013 yang disebut dengan kurikulum berkarakter. Hal ini tentunya menyebabkan kebingungan bagi guru sebab banyak materi pelajaran yang ditambah dan dikurangi sehingga penyususnan perangkat pembelajaran cukup merepotkan sedangkan dana untuk melakukan kegiatan itu sangat minim. Lalu inilah yang menyebabkan pendidikan di Indonesia kelihatannya semakin amburadul.

Belum lagi dengan tidak terlaksananya penyususnan staff (staffing) di lingkungan Dinas Pendidian Pemuda dan Olahraga serta di setiap sekolah yang  tidak mempertimbangkan mutu dan standar. Artinya kebanyakan pegawai/staff yang ada di Dikpora adalah orang-orang yang berkualitas dan tentunya adalah orang-orang pilihan, hanya saja banyak diantara mereka yang ditugaskan tidak sesuai dengan basic pendidikan dan keahlian yang mereka miliki. Misalnya saja, Soarang Master Hukum menjadi Kepala Dinas atau Sarjana Hukum, Sarjana Ekonomi, dan Sarjana Peternakan yang ditugaskan sebagai Kepala Bagian dalam lingkup dinas pendidikan. Belum lagi di berbagai sekolah, guru memegang bidang study yang tidak sesuai dengan jurusan dan Izasah Pendidikan mereka.

Hal lain yang masih belum diperhatikan dalam dunia pendidikan kita adalah controlling/pengawasan yang lemah lemah dalam dunia pendidikan. Artinya staff yang yang bertugas melakukan pengawasan belum menjalankan fungsinya dengan baik. Hal inilah yang kemudian menyebabkan tidak terselanggaranya pendidikan yang bermutu pada dunia pendidikan kita.  Misalnya, pengawas pendidikan yang ada di wilayah Dikpora Kabupaten dan UPTD Pendidikan di wilayah kecamatan yang tidak menjalankan tugasnya dengan maksimal dalam mengawasi penyelenggaraan pendidikan pada sekolah-sekolah yang ada di sekitar wilayah kerjanya. Demikian juga dengan pengawasan pada program-program lainnya, seperti pengawasan pelaksanaan kurikulum dan pengelolaan bantuan-bantuan dana yang dikucurkan ke sekolah. Menurut pandangan penulis sesuai dengan apa yang sering penulis temui di lapangan, ternyata para pengawas hanya terpokus di kursi kantornya. Direktorat dan pengawas keuangan juga tidak menjalankan poksinya dengan baik, kebanyakan mereka tidak mendatangi lokasi/subjek yang harus mereka awasi dan yang paling menyedihkan adalah kebanyakan direktorat dan pengawas keuangan senang diobok-obok oleh petugas dari dinasi dan kepala sekolah dengan memberikan mereka uang dan mengajak mereka jalan-jalan ketempat wisata, serta menyewakan mereka penginapan supaya tidak langsung turun ke lokasi padahal di lokasi yang harus mereka kunjungi kerap terjadi penyimpangan dan penyalah gunaan dana bantuan.

Hal yang paling naif dalam dunia pendidikan kita terlihat dalam penyelanggaraan Ujian Nasional. Ujian Nasional adalah satu-satunya acuan bagi pemerintah untuk mendapatkan informasi  mengenai muti/kualitas pendidikan kita. Padahal sesungguhnya system yang dijalankan pada saat penyelenggaran Ujian Nasional hanya mementingkan kuantitas dari pada kualitas. Hal ini sudah bukan menjadi rahasia umum sebab sebagian besar masyarakat tahu bahwa ketika Ujian Nasional berlangsung yang bekerja menjawab soal, bukanlah siswa namun ada tim rahasia yang dibentuk oleh sekolah dengan kerjasama dengan dinas terkait. Siswa hanya bertugas duduk manis dan mengarsir jawaban yang sudah diberikan oleh guru atau tim yang sduah ditunjuk oleh sekolah mereka masing-masing. Ahirnya apa yang terjadi, nilai yang didapatkan oleh peserta didik tidak ada yang tidak memuaskan tapi otak mereka kosong dan setelah tamat dari sekolah itu, mereka tidak mampu berbuat apa-apa sebab pengetahuan mereka yang rendah. Hal ini juga menyebabkan rendahnya minat belajar adik-adik tingkatb mereka sebab mereka tahu bahwa nanti saat mereka menghadapi Ujian Nasional, mereka akan diberi jawaban oleh guru-guru mereka. Permasalahan ini cukup pelik bagi kita semua.

Contoh kecil, saat sayaa memberikan motivasi belajar kepada peserta didik saya. Dengan bangganya saya berkata “anak-anak sekalian, tingkatkanlah motivasi belajar kalian supaya kalian memiliki keterampilan yang berkualitas dan mendapatkan nilai yang baik supaya nantinya kalia keluar dari sekolah ini dengan niali yang memeuaskan’. Lalu apa jawan mereka, dengan antosias mereka menjawab “Achhhhh, biarpun kita tidak belajar toh kita tetap akan lulus pak guru, kan nanti kami akan diberi jawaban oleh guru, jadi tentunya kami akan lulus 100% seperti kakak-kakak kami yang telah tamat”. Itulah jawaban mereka, maka rusaklah karakter bangsa ini dan rusak pula dunia pendidikan di Negara kita ini.

Seharusnya kualitas dan kuantitas berjalan dengan seimbang. Kalau hanya mengejar kuantitas dalam dunia pendidikan lalu melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan atauran dan ketentuan yang berlaku saya rasa itu tidak ada gunanya. Jika kita ingin output pendidikan kita berkuantitas tinggi maka hendaknya kita melakukan proses peruses pendidikan dengan mengutamakan pelayanan yang bermutu dan member pelayanan pendidikan yang terbaik bagi anak bangsa, bukan dengan membantu mereka untuk mendapatkan nilai tinggi dengan member tahu mereka saat berlangsungnya ujian dan yang paling penting adalah kita selaku pengelola pendidikan harus berani melakukan penilaian yang objektif bagi siswa-siswi kita supaya mereka terus termotivasi untuk belajar demi tercapainya tujuan pendidikan nasional yang dicanangkan dalam Undang-Undang. Dan hal itu akan terwujud apabila itu kita laksanakan secara bersama-sama.

Untuk itu, melalui tulisan ini saya dan kita semua berharap supaya Menteri Pendidikan dan pihak-pihak terkait memperhatikan hal-hal dimaksud guna terciptanya pendidikan yang bermutu dalam lingkup pendidikan. Tentunya opini saya ini bertentangan dengan opini kawan-kawan lainnya, namun inilah kenyataan yang saya lihat dan temukan di dunia pendidikan kita. Heheee,,, saya seperti orang yang berpengalaman saja, mohon maaf yang sebesar-besarnya jika opini ini tidak berkenan bagi para pembaca sebab saya juga hanyalah manusia biasa yang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang tidak setara dengan apa yang tiang ungkapkan. Semoga lewat informasi dan diskusi di Halaman Kampung Media, pendiidikan kita semakin maju dan bermutu, aminnnnn ya robbal alaminnn.

Mari kita perbaiki bangsa ini dengan menyelenggarakan pendidikan dengan objektif dan sejujur mungkin demi terciptanya output pendidikan yang berkualitas dan berkuantitas tinggi sehingga generasi bangsa ini dapat membangun bangsa dengan kemampuan dan pengetahuan yang mereka miliki pada masa yang akan datang. Kalau bukan kita yang memperbaiki bangsa ini, siapa lagi. Mari kita coba memulai membangun bangsa ini dengan menanamkan kejujuran pada diri kita sendiri, supaya kita tidak menjadi teroris yang akan menciptakan kehancuran bagi masa depan bangsa ini.

Mohon maaf jika ata hal-hal yang tidak berkenan dalam tulisan ini, saya bukan bermaksud untuk menjelek-jelekan system pendidikan yang kita jalankan namun ini saya katakana supaya dapat menjadi renungan bagi kita semua demi kebaikan dan kemajuan bangsa Indonesia yang kita sama-sama cintai dan sayangi ini. [] - 05

_Asri ASA_

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru