Ada yang berbeda dikampungku

KM. Krens Lotim Kemajuan pendidikan disetipa sektor tidak terlepas kontrol orang tua dan guru, salah satu upaya yang dilakukan adalah bagaimana memberikan pelayanan pendidikan sesuai ketentuan.

MABIWA NW Rensing adalah salah satu lembaga pendidikan yang masih lumayan baru, berdirinya sekitar tahun 2003 silam dengan hasil yang tidak kalah dengan lembaga lainnya.

Berbagai upaya dilakukan untuk memperoleh hasil yang maksimal dan memberi pelayanan bagi guru dan murid sehingga lembaga ini disorot oleh masyarakat tidak hanya di Sakra Barat tetapi sampai keluar wilayah kecamatan bahkan kabupaten.

Beberapa orang siswa yang berasal dari kabupaten Lombok Tengah, tepatnya desa Lekor Kecamatan Janapria mengaku bahwa salah satu lembaga pendidikan favorit yang digandrungi adalah MABIWA NW Rensing karena cara penyelesaian masalah pada anak sangat mendidik.

Muhammad Jari Fadli, salah seorang diantaranya pernah mengalami alfa karena menunggu orang tuanya yang sedang sakit dan tidak pernah membuat surat izin tidak masuk sekolah. Pada hari berikutnya dipanggil oleh guru BK didampingi Wakil Kepala Urusan Kesiswaan dan beberapa orang guru memberikan hukuman kepada Jari.

Hukumannya agak aneh, anak disuruh membaca ayat suci al-Qur’an dan setelah itu dipersilahkan menyantap makanan yang disediakan didepannya sampai habis disaksikan oleh gurunya.

Hukuman seperti itu ternyata membuat Jari kapok dan bercerita kepada teman – temannya untuk tidak mengulangi lagi perbuataannya itu.

Hukuman yang diterapkan tentunya menginginkan nilai-nilai yang positif yang akan dilahirkan. Menurut Jamaal Abdur Rahman seorang ahli pendidikan Islam mengungkapkan sebagai berikut :

Tujuan menjatuhkan hukuman dalam pendidikan Islam tiada lain hanyalah untuk memberikan bimbingan dan perbaikan, bukan untuk pembalasan atau kepuasan hati. Oleh karena itulah, harus diperhatikan watak dan kondisi anak yang bersangkutan sebelum seorang menjatuhkan hukuman terhadapnya, memberikan keterangan kepadanya tentang kekeliruan yang dilakukannya, dan memberinya semangat untuk memperbaiki dirinya, serta memaafkan kesalahan-kesalahan dan kealpaannya mana kala anak yang bersangkutan telah memperbaikinya.

Disamping ini, menurut Asma Hasan Fahmi mengungkapkan tujuan hukuman dalam pendidikan Islam sebagai berikut:

Tujuan hukuman mengandung arti positif, karena ia ditujukan untuk memperoleh perbaikan dan pengarahan, bukan semata-mata untuk membalas dendam, oleh karena itu orang Islam sangat ingin mengetahui tabi’at dan perangai anak-anak sebelum menghukum mereka, sebagaimana mereka ingin sekali mendorong anak-anak ikut aktif dalam memperbaiki kesalahan mereka sendiri, dan untuk ini mereka melupakan kesalahan anak-anak dan tidak membeberkan rahasia mereka.

“saya malu, sebab saya kurang fasih baca al-Qur’an, disamping itu perut saya sakit karena terlalu banyak menyantap” jelas Jari setelah keluar dari kantor. (http://krens-lotim.com)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru