logoblog

Cari

Menjadi Guru Kompenten di Era Digital

Menjadi Guru Kompenten di Era Digital

Menjadi guru merupakan dambaan semua orang. Bahkan profesi sebagai guru paling banyak di antara profesi-profesi lain. Tidak heran, jika perguruan tinggi

Pendidikan

Suparman
Oleh Suparman
15 November, 2019 14:14:14
Pendidikan
Komentar: 0
Dibaca: 1343 Kali

Menjadi guru merupakan dambaan semua orang. Bahkan profesi sebagai guru paling banyak di antara profesi-profesi lain. Tidak heran, jika perguruan tinggi di seluruh Indonesia dapat mencetak ratusan ribu sarjana guru setiap tahunnya. Meski jumlah sarjana guru kian meningkat, namun lapangan kerja yang tersedia tidak memadai.

Jika pun lapangan kerja ada, tapi apresiasi terhadap profesi itu tidak mencerminkan tugas dan tanggung jawab seorang guru yang mulia. Terutama bagi guru honerer mengabdi bertahun-tahun dengan upah yang sangat kecil. Belum lagi, cara kerja dan metode mengajar para pendidik selama ini dianggap terlalu monoton. 

Di era digital yang berkembang saat ini. Memberi angin segar bagi seorang guru agar mampu berberinovasi, melahirkan gagasan baru sesuai dengan kebutuhan zaman. Apalagi peserta didik saat ini berada di era generasi milenial. Artinya, generasi  yang tidak terlepas dari akses internet. Baik itu akses informasi yang tak terbatas maupun akses untuk kebutuhan lainnya.

Dalam seminar yang diinisiasi oleh mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mataram di Arena Budaya kampus, Kamis (14/11). Kepala Kampungmedia.com Provinsi NTB, Fairuz Abadi mengatakan, seorang guru harus mampu membaca peluang di tengah perkembangan teknologi yang kian hari kian canggih. Peluang itu tentu memiliki tujuan yang searah dengan tuntutan zaman. Karenanya, peran seorang guru tidak cukup hanya berdiri di dalam ruang kelas saja.

"Bagi calon guru, kalian harus smart (pintar). Karena guru adalah pendidik yang profesional. Jadi tidak cukup menjadi seorang guru dalam ruang kelas. Menjelaskan materi di hadapan siswa dengan papan tulis dan dibayar," tegas pria berkumis dihadapan ratusan mahasiswa.

Dengan dibumbui candaa kecil yang menggugah semangat mahasiswa, Fairuz yang juga dikenal dengan Abu Macel sebagai sapaan akrabnya menegaskan, di era digital tidak demikian, seorang guru harus mampu menemukan inovasi baru dalam mengajar. Perkembangan era digital yang ditandai dengan platform media sosial yang semakin banyak, dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran yang mumpuni para siswa bisa belajar di mana pun dan kapan pun.

"Misalnya, seorang guru bisa membuat chanel youtube dan konten-kontennya harus di isi dengan materi pembelajaran yang sesuai dengan kejuruan masing-masing," jelasnya.

Sehingga ke depannya, lanjut kepala Kampung media, peserta didik bisa belajar di manapun mereka mau. Meski kegiatan belajar mengajar formal tetap berjalan seperti biasanya. Untuk itu, mindset seorang guru benar-benar di tuntut agar menemukan gagasan baru dalam setiap kegiatan belajar mengajarnya. Terutama memanfaatkan media sosial yang berkembang saat ini.

 

Baca Juga :


"Bukan hanya ilmu yang mereka dapat, tapi peluang ekonomi juga meningkat," kata pria sekaligus menjabat sebagai kepala bidang kebudayaan pada Dinas Pendidikan NTB.

Ia menjelaskan, seorang juga jangan hanya berpikir bahwa ruang lingkup belajar hanya sebatas dalam ruang sekolah. Objek alam bebas dengan kesan terbuka dan lestari dapat menopang semangat belajar siswa. tidak hanya berpatokan dengan ruang tertutup dan terbatas. Begitu juga membuat video mengajar harus didukung pula kelestarian alam yang indah.

"Contohnya, Chanel Youtube "ruang guru" merupakan chanel yang menyampaikan materi seputar materi pelajaran dengan beberapa guru bimbel yang menjelaskan macam-macam mata pelajaran. Banyak yang menonton. Mereka pun dapat pundi-pundi ekonomi," ujarnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, menjadi guru yang kompenten di era digital saat ini membutuhkan pendidik yang kaya akan wawasan dan inovasi yang matang. Teknologi merupakan harapan baru bagi kemajuan hidup manusia. Terutama dalam mengembangkan dunia pendidikan. Sehingga perkembangan zaman yang ada tidak dibiarkan berlalu begitu saja. Sebelum mendorang perubahan yang signifikan.

"Tentu inovasi dan gagasan itu harus didukung oleh guru yang ramah IT," tambahnya.

Dipilihnya, Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan bukan tanpa alasan. Meski tidak memiliki latar belakang sebagai seorang akademis atau profesor. Namun, ia telah  berkontribusi besar bagi negara dengan inovasi teknologinya "Gojek" yang mampu membukan lapangan kerja bagi masyarakat dan meningkatkan ekonomi negara. Karena itu, Presiden Joko Widodo berharap kepada CEO Gojek tersebut dapat menciptakan inovasi teknologi baru untuk mengembangkan lembaga pendidikan di seluruh Indonesia.(Man)



 
Suparman

Suparman

nama Suparman, biasa di panggil Man. lahir di desa O,o Kec. Dompu, Kab. Dompu pada Tanggal 12 Februari 1992. anak pertama dari enam saudara. saya lahir dari pasangan Bapak A. Talib dengan Ny. Uniriyah. No HP 085337689025

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan