logoblog

Cari

Merawat Generasi Literat

Merawat Generasi Literat

Setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan bermutu, siapapun dia dan darimanapun asalnya. Seperti halnya sebuah

Pendidikan

Muhammad Rustam
Oleh Muhammad Rustam
28 Juni, 2019 15:40:58
Pendidikan
Komentar: 0
Dibaca: 3468 Kali

Setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan bermutu, siapapun dia dan darimanapun asalnya. Seperti halnya sebuah tunas yang butuh air dan cahaya matahari yang cukup untuk menjadi pohon yang besar dan kuat. Anak-anak di pedesaan seharusnya memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati layanan dan akses pendidikan yang bermutu serta dididik oleh guru dan tenaga pendidik yang berkualitas. Faktanya sampai saat ini kesenjangan mutu pendidikan antar daerah-daerah di Indonesia masih terjadi, mutu pendidikan anak-anak di daerah pelosok seperti di Kecamatan Hu’u tidak seideal mutu pendidikan di kota-kota besar dimana peralatan penunjang pendidikan serba ada dan berkecukupan. Kecamatan Hu’u sebenarnya sangat beruntung karena banyak program-program mitra pendidikan yang bekerja sama dengan sekolah-sekolah di kecamatan hu’u untuk meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan. Salah satu program tersebut adalah INOVASI-SLI, sebuah program yang bertujuan untuk meningkatkan performa sekolah yang berbasis Literasi.

 

Dalam program INOVASI-SLI di kecamatan Hu’u saya diberikan tugas untuk menjadi fasilitator daerah yang bertugas untuk mengembangkan mutu pendidikan dengan memberikan pelatihan, sharing, mentoring dan coaching serta menjadi pendamping sekolah dalam menjalankan program.  Saya sangat bersyukur bisa terlibat langsung dalam program ini, karena dengan program ini saya bisa mengenal dan memahami kondisi pendidikan di daerah kelahiran saya dengan ikut mengambil bagian menyelesaikan sedikit banyaknya tumpukan persoalan ketimpangan pendidikan di daerah.  Saya menyaksikan sendiri betapa anak-anak memiliki semangat untuk belajar, guru-gurunya yang masih setia mengabdi ditengah carut-marutnya persoalan nasib guru yang melanda negeri ini. Bukan persoalan bekerja semata, kesempatan yang luar biasa ini benar-benar saya manfaatkan untuk belajar dan mengenal wajah pendidikan di daerah. Saya berupaya sekeras tenaga untuk membagi ilmu dan pengalaman yang saya miliki guna mengakselerasi kemajuan pendidikan. Kami tidak datang untuk langsung menyelesaikan persoalan pendidikan yang terjadi, akan tetapi kehadiran kami sebagai alternatif solusi dalam memberikan semangat dan dorongan kepada guru-guru dan kepala sekolah untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki.

 

Fokus utama dalam program INOVASI-SLI adalah Literasi dan leadership, kedua aspek ini yang terus kami kembangkan di sekolah dampingan. Konsep dasar literasi dan kondisi Literasi di Indonesia telah kami jelaskan pada awal program, selanjutnya kami memberikan pelatihan kelas literasi terpadu dan menjelaskan penerapannya di sekolah. Literasi bukan untuk diajarkan tetapi dibudayakan, budaya tersebut tidak hanya dibangun dalam diri anak-anak namun juga kepala sekolah dan guru. Pertanyaanya adalah kapan terakhir kita membaca buku ? berapa banyak buku yang kita baca dalam sebulan ? Bagaimana kondisi minat baca kita ? dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya yang perlu kita refleksikan bersama. Berbicara mengenai minat baca tidak terlepas dari kemampuan membaca, di kecamatan Hu’u tidak banyak anak-anak yang lancar membaca baik di kelas tinggi lebih-lebih di kelas rendah. Hal tersebut terjadi karena lingkungan membaca di sekolah dan di rumah masih sangat terbatas, guru dan orang tua harus memusatkan perhatian penuh kepada anak-anak agar memiliki hobby membaca. Bebaskan anak-anak untuk membaca apapun dan dimanapun yang mereka suka, jangan memaksa mereka hanya membaca buku-buku pelajaran yang kebanyakan membuat mereka merasa cepat bosan dan jenuh. 

Kegiatan sharing media pembelajaran dengan guru-guru

 

Untuk mengatasi rendahnya kualitas Literasi di Kecamatan Hu’u, program INOVASI-SLI melakukan berbagai macam langkah perbaikan salah satunya adalah setiap sekolah dampingan harus membuat program kekhasan literasi di Sekolah masing-masing berdasarkan kebutuhan dan peluang sekolah. Program kekhasan Literasi tersebut harus benar-benar dilaksanakan dan dibudayakan di sekolah sebagai usaha meningkatkan kemampuan literasi siswa dan guru. Salah satu program kekhasan literasi tersebut adalah Program SADAR Literasi yang di gagas oleh SDN No. 12 Hu’u. Program ini mengandung muatan kegiatan yang bertujuan untuk membangun budaya baca dan meningkatkan kemampuan membaca siswa. Untuk mendukung efektifitas pelaksanaan program Sadar Literasi, SDN No. 12 Hu’u melakukan pemilihan duta perpustakaan sebagai apresiasi bagi siswa yang rajin dan gemar membaca. Hal ini diterapkan untuk melatih karakter Disiplin dan rajin anak-anak, supaya mereka menjadi terbiasa dan kecanduan untuk membaca. Jika praktek-praktek baik ini konsisten dilaksanakan serta budaya literasi sudah mendarah daging dan menjadi kebutuhan bagi mereka, maka akan terlahir peradaban baru yang akan mengangkat harkat dan martabat masyarakat kecamatan Hu’u. Dari yang selama ini hanya puas menjadi anak petani dan nelayan, ke depannya bisa menjadi anak-anak yang berprestasi dan membanggakan. 

 

Baca Juga :


 

Berbicara masalah prestasi, salah satu anak SDN No. 12 yang bernama Muhammad Ghajali sudah dinyatakan lolos beasiswa SMART Ekselensia Indoensia tahun 2019 dan sekarang sedang melanjutkan sekolah di SMP SMART ekselensia Indoensia di Bogor. Gajali merupakan satu-satunya anak yang dinyatakan lolos dari delapan anak yang kami (FASDA) daftarkan di kecamatan Hu’u. Dengan melihat prestasi yang diraih oleh Gajali, Pak Said selaku kepala sekolah berkomitmen untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa sebagai persiapan untuk mendaftar lagi tahun depan. “Pak Rustam, di kelas V ini banyak siswa-siswa yang kemampuan literasinya bagus, jadi saya berencana untuk mendaftarkan lagi mereka tahun depan supaya SDN No. 12 bisa dikenal dimana-mana” ungkapkanya sambil tertawa riang. Sayapun sangat menyambut positif niat baik beliau “boleh pak boleh, yang penting dipersiapkan mulai dari sekarang pak, biar lebih matang nanti pada saat mendaftar” jawab saya. Pada awalnya orang tua Gajali juga sempat was-was karena harus jauh dari anaknya yang masih kecil, “Saya takut Gajali nakal disana pak, saya takut dia tidak mampu mengikuti cara belajar teman-temannya yang lain” ungkapnya dengan nada was-was. “Banyak berdoa saja bu untuk kebaikan Gajali disana, insyaAllah Gajali akan baik-baik saja” jawab saya, mencoba memberikan pengertian kepada beliau. 

Muhammad Ghajali anak yang lolos beasiswa SMART Ekelsensia Indonesia

 

Kisah Gajali dan cerita positif SDN No. 12 Hu’u diatas adalah sepenggal harapan bahwa di ujung-ujung tersulit negeri ini, di tengah carut marutnya persoalan kebangsaan masih ada setitik cahaya dari ujung selatan NTB yang akan menyinari masa depan bangsa ini.  Program INOVASI-SLI membawa sejuta harapan dan memberikan warna baru bagi pendidikan di kecamatan Hu’u. Guru-guru dan kepala sekolah sudah mulai memahami hal-hal yang harus dilakukan untuk meningkatkan preforma sekolah yang berbasis Literasi, namun semuanya kembali ke warga sekolah masing-masing konsisten atau tidaknya menjalankan program. Saya pribadi selaku fasilitator daerah merasa sangat tertantang dalam mengembangkan dan membangun kesadaran guru-guru, karena bukan hal yang mudah untuk mengubah perilaku dan pola pikir orang lain, butuh kesabaran dan kebesaran hati untuk melakoninya.  Namun saya meyakini bahwa ketika kita tidak mampu mengubah orang lain setidaknya kita mampu merubah diri kita sendiri. Terima kasih program INOVASI-SLI telah memberikan kesempatan kepada saya untuk terus belajar dan mengebangkan diri dalam pengembangan pendidikan. 

 



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan