logoblog

Cari

Agus Fn : Pendidikan Indononesia Kehilangan Hikmah

Agus Fn : Pendidikan Indononesia Kehilangan Hikmah

KM. Sukamulia - Dunia pendidikan Indonesia saat ini betul-betul kehilangan hikmah sehingga tidak salah jika Agus Fn mengisyaratkan bahwa pendudidikan Indonesia

Pendidikan

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
24 Mei, 2019 01:51:42
Pendidikan
Komentar: 0
Dibaca: 3791 Kali

KM. Sukamulia - Dunia pendidikan Indonesia saat ini betul-betul kehilangan hikmah sehingga tidak salah jika Agus Fn mengisyaratkan bahwa pendudidikan Indonesia saat ini sebagai sebuah industri yang menghasulkan kardus yang pada ahirnya dibuang di tempat-tempat sampah.

Kamis (23 Mei 2019), Hikayat Suluk menyelenggarakan kegiatan bertema Shaum di Musium "Qur'an, Pendidikan dan Kebangkitan". Pada kesempatan tersebut, Budayawan NTB (Agus Fn) menyampaikan pandangan beliau mengenai gambaran pendidikan Indonesia saat ini. 

Berikur adalah pemaparan yang beliau sampaikan kepada segenap hadirin yang mengikuti acara yang berlangsung di beranda Musium NTB sebagai bagian dari penjelasan mengenai Tembang Dandang yang dijadikan bagian rangkaian acara Hikayat Suluk Tradisi saat itu. Mari kita simak dan renngkan bersama.

Pendidikan mengalami reduksi makna. Pendidikan menjadi sesuatu yang sangar deramatis. Pendidik sebagai sebuah industri yang menghasilkan kardus-kardus, pembungkus kardus yang diterima oleh kardus dan ahirnya kembali menjadi kardus yang dibuang di tempat-tempat sampah. Inilah pendidikan kita saat ini.

Orang-orang tua kita dahulu, sedemikian merancang pendidikan. Dia memiliki kurikulum yang sangat efektif untuk keberhasilan anak cucu mereka. 

Pendidikan kita hanya kita ukur dengan nilai angka-angka yang angka-angkanya tidak bisa kita gunakan untuk hidup di dunia yang benar. Kita memiliki pendidikan dasar yang sama sekali tidak memiliki tapak. Kita mengikuti pendidikan lanjutan yang sama sekali tidak memiliki anak tangga untuk kita daki menuju lanjutannya. Kita mengikuti pendidikan tinggi, tinggi sekali sehingga ahirnya menjadi menara gading tuk bebas ketika hidup di atas dunia dan ia kecewa dengan apa yang dipelajarinya.

Hal tersebut dijawab oleh Al-Qur'an. Pendidikan Al-Qur'an, sangat jelas siapa obyeknya, siapa subyeknya, jelas kurikulumnya, jelas indikatornya. Sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur'an surat maryam, "hai Yahya peganglah kitab dengan kuat dan berikanlah kepada anak-anak mu hikmah dan tanamkan hikmah itu sejak ia lahir".

Kurikulum pendidikan kita jelas, "pegang kitab dengan kuat", inilah kurikulum kita. Bukan pengetahuan yang kita tanamkan, melainkah hikmah yang kita perlihatkan kepada mereka dan mereka mendapatkan hikmah dan menemukan pengetahuan di dalamnya. Barang siapa yang memberikan hikmah maka ia diberikan seluruh kemuliaan pada hidupnya. Hikmah inilah yang hilang sekarang. 

Lalu bagaimana cara mendirikan hikmah itu. Ingatlah bahwa tuhan telah menetapkan dirinya dengan sifat rahmat, maka apapun yang kita temukan di dalam kehidupan dunia ini, pahit atau manis, setiap pikiran dan ucapan kita adalah rahmat dari Allah SWT tetapi kita tidak memahaminya dan selalu yang kita katakan rahmat adakah yang nikmat-nikmat, nikmat di dalam pengecap kita, nikmat di dalam perasaan kita, enak di dalam membangun mimpi-mimpi kita.

Sifat inilah yang sekarang sudah hilang, kasih sayang kita gantikan dengan kasih uang. Anak-anak zaman sekarang merasa tidak di sayang kalau tidak dikasih uang. 

Dari kecil, kita mendidik anak kita dengan rupiah (uang). Ini yang kita lakukan sekarang yang akan melahirkan generasi matrialistis seperti kita saat ini. Sungguh kita kehilangan rahmat, kehilangan kasih sayang. 

 

Baca Juga :


Kemudian, secara metodologis pendidikan itu dilaksanakan dengan cara apa ? "dengan zakata", dengan suci. Guru sekarang mengajar karena kontrak SK, berbeda dengan dulu. Dulu orang-orang tua kita mengantar anaknya mengaji, ada izab qabulnya dengan kalimat "saya serahkan anak saya" kata orang tua kepada guru ngajinya.

Kepercayaan orang tua kepada sang guru menyebabkan ia ikhlas anaknya diperlakukan apasaja oleh gurunya, tetapi sekarang, guru dibatasi langkahnya oleh HAM dan gurupun kehilangan kemerdekaan. Karena kehilangan kemerdekaan maka ia hanya  mengajar, mendidik tiada lagi. Dia hanya mengajar berdasarkan jadwal yang ditetapkan oleh kepala sekolahnya. Kita kehilangan makna pendidikan yang sesungguhnya.

Orang-Orang tua kita dahulu sudah sangat jelas model pendidikannya. Materinya dari Al-Qur'an, metodenya hanan sadrohmah, yang diberikan hikmah, tujuannya bukan untuk keberhasilan sama sekali. 

Menurut konsep pendidikan orang tua kita terdahulu, yang merupakan wujud keberhasilan seseorang adalah setelah ia melakukan dua hal, yaitu berbuat baik kepada orang tua dan melakukan segala sesuatu dengan ikhlas.

Dan sekarang, hal inilah yang hilang sehingga bagaimana kita bisa selamat pada saat lahir, selamat pada saat kita mati dan selamat kelak pada saat kita dibangkitkan. Dan orang-orang yang mendapatkan keselamatan di dunia dan ahirat hanyalah orang-orang yang melakukan segala sesuatu dengan ikhlas. 

Dengan demikian, bagaimana kesimpulan pendidikan kita saat ini ? Maka renungkan sendiri situasi pendidikan kita di masa ini. Saat ini anak-anak kehilangan adat, bukan hanya anak-anak , bahkan orang tua pun kini banyak yang kehilangat adat. Sementara inilah yang menjadi kurikulum utama dalam pendidikan keluarga. 

Produk pendidikan kita saat ini adalah buruh-buruh yang dibayar murah. Dan untuk itu mari kita renungkan apa yang terjadi pada Indonesia Pusaka.

Mengacu dari pemaparan tokoh Budaya NTB (Agus Fn) dalam kegiatan Hikayat Suluk bertema Shaum di Musium "Qur'an, Pendidikan dan Kebangkitan" ini, maka jelaslah bahwa kondisi pendidikan Indonesia saat ini sangatlah menyedihkan. Pendidikan bangsa ini sudah kehilangan hikmah sehingga produknya diisyaratkan ibarat kardus yang pada ahirnya di buang di tempat-tempat sampah.
_By. Asri The Gila_



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan