logoblog

Cari

Petilasan Edukasi Di Balik Tirai Bambu

Petilasan Edukasi Di Balik Tirai Bambu

“Utlubulilma walaubissin” (Tuntutlah Ilmu walau ampai di Negeri China). Demikian hadist Rasulullah yang mengisyaratkan semua sahabat dan umat untuk terus menuntut

Pendidikan

KM. BEGIBUNG
Oleh KM. BEGIBUNG
02 Mei, 2019 00:23:46
Pendidikan
Komentar: 1
Dibaca: 5168 Kali

“Utlubulilma walaubissin” (Tuntutlah Ilmu walau ampai di Negeri China). Demikian hadist Rasulullah yang mengisyaratkan semua sahabat dan umat untuk terus menuntut ilmu walaupun dimana saja berada sekalipun samapai ke negara yang diberi julukan negara Tirai bambu. Lalu pertanyaannya Kenapa harus ke China? Jauh sebelum ilmu pengetahuan berkembang, bangsa China sudah mencapai peradaban yang sangat tinggi. Dalam dunia perdagangan, masyarakat china dikenal sangat pandai dibanding penduduk negara lain. Pada dinasti Tang misalnya, masyarakat China sudah mengenal uang kertas yang diedarkan bersama kekaisaran Romawi dan Persia. Dan apa yang telah disabdakan Rasulullah dapat dibuktikan bahwa hari ini negara China merupakan salah satu negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi terbesar kedua serta menjadi eksportir dan importir terbesar di dunia

Penulis sangat bersyukur karena tanpa diduga dan disangka Kemdikbud melalui bidang GTK  memberikan  kesempatan untuk mengikuti pelatihan Kepemimpinan (Leadership) dan Supervisi (Supervision) ke negri China tepatnya di Jiangsu Vocational Institute of Architectural Technology (JSVIAT) yang terletak di salah satu provinsi di China.

Pada hari Jumat, 1 Maret 2019 sekitar jam 22:00 WIB penulis bersama rombongna kepala sekolah, pengawas sekolah dan LP2KS diberangkatkan ke China dengan tujuan Jiangsu Vocational Institute of Architectural Technology setelah sebelumnya mendapat pembekalan di hotel Mellinium Jakarta selama tiga hari pada acara Pre-Departure mulai tanggal 27 s.d 30 Maret 2019.

Rasa  bahagia dan gembira berkecamuk dalam hati karena kesempatan ini merupakan pengalaman pertama untuk pergi keluar negeri. Penerbangan 8 jam tidak terasa lama karena dibenak penulis terbayang bagaimana keindahan dan kehidupan di negara tirai bambu itu, akhirnya tepat jam 06:00 pagi pesawat mendarat di bandara Beijing Capital international Air port dengan mulus. Hawa dingin yang tidak pernah penulis rasakan di tanah air menerpa wajah dan seluruh tubuh menyambut kedatangan kami, untung saja penulis telah mempersiapkan sweater, syal dan topi sehingga bisa mengurangi rasa dingin.

Sebelum memasuki ruang kedatangan (Arrival room), satu persatu diantara kami diperiksa kelengkapan administrasi imigrasi dan beberapa saat kemudian urusan imigrasi  selesai, kamipun diperbolehkan k. Ketika penulis dan rombongan pelatihan keluar dari ruang kedatangan, penulis melihat tulisan di atas potongan kartun berukuran kira-kira 20 x 10 cm bertuliskan Kemdikbud dilambai-lambaikan oleh seorang gadis bersama seorang laki-laki yang ternyata gadis itu adalah pemandu perjalanan (tour guide) bernama Lina  bersama seorang supir bus yang rupanya sudah dibooking oleh panitia program sebelumnnya.

Lina sang tour guide memulai pekerjaannya sebagai pemandu dengan menjelaskan rute perjalanan yang harus dilalui. Tujuan pertama adalah mengunjungi salah satu cagar budaya bernama Tian’anmen. Sekitar 3 jam di perjalanan maka sampailah ke tempat tujuan kami. Tempat tersebut sangat luas di dalamnya terdapat bangunan-bangunan bersejarah salah satunya adalah patung pendiri negara China Mou Zedong yang sangat dihormati dan dikagumi oleh rakyat China seperti halnya bapak proklamator Indonesia Bapak Soekarno.

Tempat itu juga dibuat taman-taman yang tertata rapi dan bersih sehinggah terasa indah dipandang mata. Tak henti-hentinya penulis berdecak kagum melihat keindahan wisata budaya Tian’anmen. Raut wajah kagum terpancar juga dari anggota rombongan pelatihan. Foto bareng dan selfypun mulai dilakukan dengan berbagai pose dan angle.

Perjalanan selanjutnya yaitu kesebuah tempat yang sangat fenomenal dan terkenal bahkan tercatat sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia yaitu Tembok Raksasa (Great Wall). Tembok yang sangat panjang dan sangat tinggi menggambarkan semangat dan kerja keras pantang putus asa untuk menggapai impiannya.

Dan tempat wisata terakhir yang kami kunjungi pada hari itu adalah The bird cage yaitu sebuah stadion olah raga yang berbentuk sarang burung dimana tempat dilaksanakan Olypiade tahun 2008. Tempat inipun sangat indah dan bersih karena bentuk stadion seperti sangkar burung, Stadion berbentuk sarang burung ini dapat penulis maknai betapa rakyat China memiliki rasa seni yang tinggi serta sangat mengapresiasi hasil karya seni. 

Keesokan harinya kami berangkat ke kota Xuzhao. Alat transportasi yang kami tumpangi adalah kereta cepat dengan kecepatan 305/jam sehingga segala sesuatu harus dipersiapkan dengan cepat dan tepat waktu. Sebelum naik kereta para penumpang harus berada di stasiun bus 30 menit sebelum menaiki kereta kalau tidak, kita akan ketinggalan.

Waktu turun dari kereta juga demikian, kami hanya diberikan waktu 2 menit untuk turun dari kereta tersebut, kalau terlambat maka kita akan terbawa kereta entah kemana. Begitulah betapa rakyat China sangat menghargai waktu, waktu adalah emas kalau kita tidak bisa menghargai waktu maka, kitalah yang akan tergilas oleh waktu itu sendiri.

Sekitar pukul 17:00 kami tiba di stasiun Xuzhou. Pihak Panitia dari kampus JSVIAT telah menunggu dengan membawa 2 bus besar yang kami akan tumpangi. Kami disambut dengan sangat ramah dan bersahabat sehingga suasana terasa akrab serasa bertemu sahabat lama yang lama tak jumpa. Dengan dipandu oleh tim yang ditunjuk oleh pihak kampus kami bersama rombongan berangkat menuju kampus dimana kami akan dilatih.

Rupanya di kampus, kami sudah ditunggu dan disambut oleh petinggi kampus bersama mahasiswa dengan sangat ramah. Para mahasiswa membantu kami membawa barang bawaan kedalam asrama yang kamai akan tempati selama 3 minggu.

 

Baca Juga :


 Pada hari Senin, 3 Maret 2019, pukul 10 pagi merupakan hari pertama program pelatihan. Kegiatan pertama diisi dengan masa orientasi berupa tour keliling kampus. Pada program ini kami diajak menyaksikan fasilitas yang dimiliki oleh kampus. Salah satunya adalah mengunjungi museum kampus. Ternyata museum tersebut bukan saja  menyimpan benda-benda bersejarah seperti bahan-bahan bangunan kuno, rumah-rumah tradisional China tetapi di museum tersebut di simpan peta kota berupa miniatur beberapa kota yang ada di provisi Jiangsu.

Dari penjelasan pemandu tour ternyata banyak bangunan-bangunan pencakar langit yang ada di beberapa kota di provinsi Jiangsu didisain oleh alumni Jiangsu Vocational Institute of Architectural Technology. Hal ini menunjukkan bahwa visi universitas bagaimana mengahsilkan lulusan-lulusan professional yang bisa langsung bekerja untuk kehidupan mereka.

Pada jam 14:00 siang acara pembukaan dilaksanakan di Gedung Perpustakaan kampus yang diberi nama Liya Building dimana bangunan ini merupakan karya alumni kampus. Acara pembukaan dihadiri oleh Bapak Direktur Pendidikan Dasar Kemdikbud yaitu Bapak Suprapto. Dalam sambutannya beliu memotivasi kami bahwa kami sangat beruntung dapat kesempatan belajar di China, karena kami adalah orang-orang terpilih. Beliau juga berharap agar kami benar-benar memanfaatkan waktu untuk menimba ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya untuk bisa diadopsi dan diadaptasi di sekolah tempat tugas masing-masing.

Pada hari-hari berikutnya kami mengikuti kuliah yang diisi oleh para dosen, pejabat pendidikan China serta kepala-kepala sekolah baik dari SD sampai kepala sekolah menengah dan sekolah tinggi. Selain itu kami juga melakukan kunjungan ke beberapa sekolah yang ada di kota Xuzhou dari jenjang SD sampai kejenjang Akademi. Di sana kami bisa melihat bagaimana menajemen sekolah, fasilitas sarpras, kurikulum dan bagaimana proses pembelajaran dilaksanakan. Disamping itu juga kami mendapat kesempatan berkunjung ke bengkel tempat praktik siswa vokasi dan latihan memanah.

Dari kunjungan tersebut banyak sekali pelajaran yang penulis dapatkan seperti reformasi kurikulum dan metode pembelajaran. Bidang kurikulum misalnya, pemilihan materi pembelajaran sangat bersifat aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan siswa dalam kehidupan dan dunia kerja. Sekolah benar-benar ditujukan untuk hidup bukan untuk sekedar memintarkan otak. Pembelajaran dilaksanakan secara aktif dimana anak-anak ditekankan untuk belajar mandiri,  belajar berkelompok dan belajar dengan mengajar dimana para siswa diberikan kesempatan mengajarkan hasil diskusi kelompok baik secara visual maupun dengan lisan. Sekolah dikondisikan menjadi sumber belajar dimana disetiap pojok disediakan pojok baca.

Dinding-dinding sekolah dipenuhi slogan-slogan motivasi dengan ungkapan-ungkapan filosofis menjadi sugesti motivasi kuat bagi setiap yang membacanya terutama bagi peserta didik. Karena itu Pendidikan vokasi di China berkembang dengan pesat.

Disela-sela perkuliahan penulis bersama teman-teman menyempatkan diri jalan-jalan kesekitar kampus dan ketempat wisata seperti danau Yan Long. Dengan melihat alam yang tertata indah, rapi dan bersih, serta masyarakatnya yang bergerak cepat dan bekerja keras baik laki maupun perempuan dapat dipetik sebagai pelajaran yang berharga bahwa dalam menghadapi era yang penuh dengan tantangan dan persaingan kita harus benar-benar mampu berfikir cermat dan kreatif, serta bekerja cepat dan tepat, kalau tidak maka kita akan menjadi pecundang.

Dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia pantaslah orang China bertekad untuk menjadi nomor satu di dunia pada segala bidang. Sebagai realisasi dari tekad tersebut, salah satunya dengan mengirimkan rakyatnya keluar negeri untuk meniru apa yang menjadi keunggulan negara lain dan dipatenkan di negaranya. meskipun demikian, Rakyat China sangat menghargai budaya. Prinsip mereka boleh mengikuti perkembangan zaman namun tidak boleh melupakan budaya nenek moyang. Hal ini terbukti dari kuil Konfusius dan The Kong Family mansion masih terawat dengan baik dan dijadikan cagar wisata budaya.

Contoh lain seorang professor lulusan luar negeri sekalipun tidak mau mengunakan bahasa asing ketika memberikan kuliah. Mereka ingin bangsa lain yang belajar bahasa mereka, bukan mereka yang belajar bahasa asing. Sehingga walaupun bahasa Ingris diajarkan di setiap sekolah namun hanya dijadikan sebagai bahasa asing (foreign Language) bukan sebagai bahasa ke-2 (second language). Ini menunjukan bahwa rakyat China memiliki rasa patriotisme dan cinta tanah air yang tinggi.

Tiga minggu sudah penulis bersama rombongan pelatihan menjalani napak tilas di balik Tirai Bambu, semoga setiap petilasan yang penulis lalui dengan penuh romantika menjadi perjalanan yang sangat berharga demikian pula, kekayaan pengalaman yang penulis peroleh dapat diadopsi, diadaptasi dan diimplementasi di negara kita tercinta. Tekad dan semangat harus terus dikobarkan dalam rangka memajukan pendidikan di negara kita agar setara dengan bangsa-bangsa lain. Semoga.



 
KM. BEGIBUNG

KM. BEGIBUNG

Sekretariat KM. Begibung berlokasi di Dusun Bujak, Desa Bujak, Kec. Batukliang. Lombok Tengah. KM. Begibung diinisiasi oleh Zulkarna, S,Pd., MBA, Anggota: Tanzil, Azima, Tustiana dan Filza Iyama HP. 087865194075

Artikel Terkait

1 KOMENTAR

  1. Pangkat Ali

    Pangkat Ali

    25 Juli, 2019

    Diam diam, ternyata sampai ke China juga JJ.....biar tlat, oleh oleh masih kan?


 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan