logoblog

Cari

Tutup Iklan

Fenomenologi Dalam Riset Kualitatif

Fenomenologi Dalam Riset Kualitatif

By. Junaidin. (Mahasiswa Doktoral pada Pendidikan Geografi Universitas Negeri Malang) Sharing untuk Berbagi Pengalaman, Saling Melengkapi. Malang, 5122008 Metode Fenomenologi menjadi

Pendidikan

KM SANGAJI MBOJO
Oleh KM SANGAJI MBOJO
06 Desember, 2018 20:25:14
Pendidikan
Komentar: 0
Dibaca: 3434 Kali

By. Junaidin.

(Mahasiswa Doktoral pada Pendidikan Geografi Universitas Negeri Malang)

Sharing untuk Berbagi Pengalaman, Saling Melengkapi. Malang, 5122008

Metode Fenomenologi menjadi trend dikalangan riset kualitatif, mungkin ada beberapa konsepsi yang perlu kita kuatkan. Ada beberapa hal yang perlu dipahami dalam melakukan riset dengan metode Fenomenologi. Yang pertama, apa sih fokusnya metode Fenomenologi?. Nah teman-teman perlu pahami bahwa dalam metode Fenomenologi, fokus riset kualitatif terletak pada pengalaman informan menjadi sangat penting tetapi yang paling penting dari pengalaman itu adalah kesadaran murni yang berhubungan dengan pengetahuan dari pengalaman itu sendiri. Artinya yang dicari oleh peneliti fenomenologi adalah makna murni dari pengalaman informan. Fenomenologi pencetusnya adalah Husserl, fenomenologi merupakan kajian filosofis yang bertujuan untuk menggambarkan pengalaman-pengalaman manusia. Dalam Fenomemologi, untuk mencapai tujuan dari makna murni, yang dicari oleh peneliti adalah EPOCE, memisahkan prakonsepsi dan praduga terkait objek penelitian, tujuannya menyajikan makna murni itu apa adanya. Untuk menjalankan EPOHE, ada tiga Reduksi Eidetis (pengalaman murni informan harus dipisahkan dari tempat, ruang waktu dari makna murni pengalaman informan) Reduksi fenomenologis (prasangka-prasangka peneliti terdahulu harus dilepaskan) dan fase berikutnya Reduksi Ttransdental (harus dihapus prasangka dan aksidental-aksidental pada saat mau wawancara dengan informan secara utuh mengenai tidak ada lagi, presepsi, prakonsepsi dan praduga yang dimiliki oleh peneliti secara utuh harus dilepaskan, peneliti sudah benar-benar kosong itu yang menjadi penting diawal, kesadaran murni peneliti yang hadir dalam diri kita, sudah benar-benar bersih, sudah tidak ada lagi pemahaman-pemahaman tentang objek yang sedang diteliti, namanya dalam fenomenologi Intensionalitas, Intensionalitas itu memberikan obor, memberikan pencerahan, penerang bagi peneliti bahwa, segala sesuatu yang berhubungan dengan kesadaran pasti ada yang disadari, setiap kesadaran pasti ada yang disadari, contoh ketika kita merenung pasti ada yang direnungi itulah konsep Intensionalitas, disitu akan muncul noema dan neosis, menyadari itu noesis, disadari itu neoma.

 

Baca Juga :


Setiap ada noesis pasti ada noema. Setiap ada subjek kesadaran pasti ada objek kesadaran. Penelitian dalam konsep Intensionalitas, ada empat elemen yang digunakan Inheren dalam kesadaran, yaitu (1) objektifikasi, (2) identifikasi, (3) korelasi, dan (4) konstitusi. Pemahaman baru bahwa yang namanya realitas itu selalu ada pembentuk begitu juga makna, setiap makna selalu ada yang membentuk makna, kita diarahkan pada pemahaman ketika kita ingin mencari makna maka ada yang membutuhkan, sehingga, nanti pada saat kita menemukan makna itu kita akan memahami proses pembentukan mana itu, ini biasanya ditulis dalam Bab Hasil metode Fenomenologi, lalu bagaimana cara membentuk makna itu karena makna yang sebenarnya sudah ada di informan, kita sebagai peneliti tidak bisa memberikan makna sama persis seperti yang dimiliki oleh informan, tetapi dalam membentuk makna kita harus menjadi informan, pada saat diri kita sudah kosong pada saat diri kita sudah tidak memiliki pemahaman apa-apa tentang objek yang kita selidiki yang berhubungan dengan pengalaman informan, maka peneliti sebenarnya kita sudah menjadi informan, setelah Intensinalitas itu mengarahkan peneliti membentuk makna, maka sebenarnya peneliti adalah informan yang akan membentuk maknanya sendiri.

Kemudian makna yang sesungguhnya ada pada informan, makna yang sifatnya konsep ada pada peneliti, makna yang dihasilkan riset fenomenologi makna yang sifatnya konseptual, makna yang mendekati makna yang sesungguhnya yang ada pada informan, pada saat kita membentuk makna, pertama kita harus kita gunakan adalah Imajinasi, dalam fenomenologi diperkenalkan ada variasi Iimajinasi, Apa fungsi variasi imajinasi itu?, yaitu  mencari kemungkinan makna yang mendekati makna yang sesungguhnya yang ada dan terasa oleh informan, kita mencari kemungkinan-kemungkinan makna yang dibentuk mendekati makna yang sesungguhnya, disitulah akan muncul tema-tema dalam riset kualitatif menulis hasil tidak cukup satu Bab, bisa saja banyak Bab tergantung pada topik yang di bahas diturunkan ke tema-tema. Bagaimana mendapatkan tema? yaitu dengan variasi imajinasi, variasi imajinasi itu funginya untuk mendapatkan kemungkinan-kemungkinan makna yang mendekati makna sesungguhnya, variasi inilah yang memberikan petunjuk bahwa riset yang sedang dilakukan bisa muncul empat kemungkinan makna yang mendekati makna yang sesungguhnya, tema satu, tema dua,sampai tema empat, lalu kita meramu dan membentuk, menyatukan empat tema menjadi satu kesatuan itu yang namannya SINTESA dalam Fenomenologi, untuk memastikan sintesa berjalan baik, kita membentuk INTUISI, intuisi inilah yang membantu peneliti untuk membedakan makna murni yang paling mendekati makna murni yang sesungguhnya, lalu kemudian bias juga kita gunakan Intersubjektif peneliti terkait dengan rasa, empati fungsinya untuk ikut merasakan perasaan informan (sama rasa), peneliti dan informan harus ada koneksitas. Peneliti bisa memiliki keyakinan dalam menjastifikasi inilah makna murni yang mendekati makna yang sesungguhnya.



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan