logoblog

Cari

Tim Singapura Adakan Pelatihan Trauma Healing

Tim Singapura Adakan Pelatihan Trauma Healing

Pemerhati pendidikan dari Singapura tidak bosan-bosannya datang lagi ke Lombok dari sejak sebelum gempa memang sudah berlangganan dengan Kecamatan Sembalun dan

Pendidikan

KM Madayin
Oleh KM Madayin
01 November, 2018 15:15:11
Pendidikan
Komentar: 0
Dibaca: 6154 Kali

Pemerhati pendidikan dari Singapura tidak bosan-bosannya datang lagi ke Lombok dari sejak sebelum gempa memang sudah berlangganan dengan Kecamatan Sembalun dan Sambelia dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Namun kali ini dengan tim yang berbeda datang untuk melatih guru-guru pendidikan dasar dalam penanganan trauma healing bagi anak- anak usia sekolah tingkat dasar. Sasarannya adalah guru-guru TK, SD dan SMP dengan jumlah peserta 28 orang. Pelatihan dilaksanakan selama dua hari yaitu hari Senin dan Selasa tanggal 29 - 30 Oktober 2018 bertempat di SDN 2 Obel - obel.  Kegiatan ini tidak terprogram dari sebelumnya, kegiatan yang spontanitas saja saat tim ini berkunjung pertama pada awal bulan Oktober. Rencana program ini muncul setelah melihat kondisi anak - anak di lapangan, yang walaupun kelihatan ceria, namun sesungguhnya mereka masih trauma. Dengan melihat kondisi tersebut maka teman-teman dari singapura ingin membagikan ilmu mereka yang berkaitan dengan trauma healing. Mereka ingin mendedikasikan ilmu yang telah mereka dapat di bangku kuliah. Mereka datang dengan biaya sendiri, dan juga ada support dari beberapa orang yang mau berkomitmen memberikan kontribusi dalam kegiatan tersebut. Peserta pelatihan merupakan guru - guru yang berasal dari wilayah Desa Belanting, Desa Obel - obel dan Desa Madayin yang memang daerah terdampak gempa di lombok Timur. Kegiatan ini bisa terlaksana tidak lepas dari komunikasi dan koordinasi dengan seorang penghubung yaitu bapak Alex. Melalui beliaulah banyak program mahasiswa dan volunteer singapura sampai ke Lombok, jauh dari sejak sebelum terjadinya gempa mahasiswa- mahasiswi singapura sudah memberikan kontribusi di dunia pendidikan dari tingkat PAUD, TK, SD dan SMP bahkan SMK.

Dalam sambutan pembukaannya Pak Tatan selaku Pengawas Pembina Pendidikan Dasar di Kecamatan Sambelia mengatakan bahwa guru - guru di wilayah binaannya sudah beberapa kali mendapatkan pelatihan untuk Penanganan Trauma tapi cenderung masih bersifat teorinya saja,  harapannya untuk kali ini pelatihan lebih diarahkan kepada praktik sehingga mudah difahami dan peserta bisa tampil aktif dalam menangani trauma healing di tempatnya. Selanjutnya dalam sesi perkenalan Tim, Ibu Venny sebagai ketua tim memperkenalkan anggotanya satu persatu yang pertama ada ibu Koba dari Sumba tinggal di Mataram,  Yarmin Halawa dari Sumatera Utara. Steffanie dari Singapura asal medan, dan ibu Venny sendiri dari Singapura adalah  lulusan S1 Bahasa Jepang dan  S2nya Jurusan Konseling.

Sesuai dengan harapan, pelatihan ini lebih banyak menitik beratkan kepada praktik, sehingga dalam proses kegiatan penyampaian materi pelatihan, selain diisi dengan diskusi dan ice breaking peserta juga diminta untuk mempresentasikan  drama teaterikal yang diperankan oleh peserta itu sendiri secara berkelompok. Materinya diambil dari bahan-bahan yang sudah ada,  tinggal menyesuaikan dengan budaya setempat. materi yang disampaikan berkaitan dengan teknik penanganan kelainan mental atau perubahan mental anak akibat situasi di luar dirinya supaya bisa menjadi normal kembali ke arah yang positif. Dan diharapkan peserta yang mendapat pelatihan bisa menularkan ilmunya kepada lingkungan pendidikan maupun wali murid, supaya bisa bersama-sama berharmonisasi dalam gerakan membebaskan anak dari trauma dan gangguan mental.

Pertama - tama dijelaskan pengertian trauma dan penyebabnya serta bagaimana solusi penanganannya. Selanjutnya masuk ke materi penanganan, yaitu tips membantu balita, anak- anak usia SD dan SMP, peserta diajarkan keterampilan mendengarkan, latihan pernapasan, stabilisasi dan grounding, aktifitas positif yang sifatnya therapeutic, PMR (Progressive Muscle Relaxation) versi anak-anak. Dalam pembahasan materi grounding yaitu mengembalikan fokus anak- anak yang jadi pendiam akibat mengalami traumatic, tiap regu diwakili dua orang anggotanya untuk maju mempraktikkan bagaimana tehnis memancing supaya si anak bisa bercerita tentang apa yang dirasakannya. Ada yang berperan sebagai guru, sedang satu guru lagi berperan sebagai anak yang menjadi pendiam. Dengan media gambar yang seolah-olah itu merupakan hasil coretan anak tersebut, guru memancing siswa itu berbicara dengan mempertanyakan objek yang digambarnya. Sedangkan dalam menghadapi anak-anak yang kasar dalam bermain yang suka memukul temannya, masing - masing regu lagi di minta maju untuk beradegan, seorang guru berperan menjadi orang tua dan satunya menjadi anak, seorang lagi sebagai pembaca narasi cerita. Banyak hal lucu terjadi oleh tingkah polah guru –guru peserta ini, terutama yang berperan sebagai anak saat mereka tampil bermain peran. Hal itu membuat suasana riuh oleh gelak tawa para peserta dan mentor yang menyaksikan, menambah hangat dan cairnya kelas pelatihan. Selain itu ada permainan menjadi patung yang bisa berubah ekspresinya sesuai instruksi, ada latihan fokus dengan menyanyikan lagu-lagu disertai gerakan-gerakan tubuh yang semuanya menyenangkan membuat riang gembira.

 

Baca Juga :


Di hari kedua dalam sesi penutupan disampaikan bahwa setelah pulang nanti Tim dari singapura akan sharingkan pengalaman mereka ini dengan teman-teman se-profesi untuk mengajak mereka  datang secara sukarela untuk menolong anak-anak dan guru-guru yang terdampak gempa. (Izzy)



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan