logoblog

Cari

Tutup Iklan

Di Tangan Dua Doktor, (akan) Seperti Apa Pendidikan NTB?

Di Tangan Dua Doktor, (akan) Seperti Apa Pendidikan NTB?

Di  Tangan Dua Doktor, (akan) Seperti apa Pendidikan NTB? OLeh : Lalu Mungguh, S.Pd. M.Pd. (Guru SMAN 1 Gunungsari-Lombok Barat, NTB)

Pendidikan

Lalu Mungguh
Oleh Lalu Mungguh
19 Oktober, 2018 05:34:13
Pendidikan
Komentar: 0
Dibaca: 3519 Kali

Di  Tangan Dua Doktor, (akan) Seperti apa Pendidikan NTB?

OLeh : Lalu Mungguh, S.Pd. M.Pd.

(Guru SMAN 1 Gunungsari-Lombok Barat, NTB)

Bagi penulis sendiri, dipimpin oleh pemimpin yang memiliki gelar dan titel pendidikan tertinggi merupakan sebuah kebanggaan. Kebanggan ini sejalan dengan harapan besar bahwa dunia pendidikan daerah tercinta ini, NTB, akan mengalami tata kelola yang baik untuk menuju kualitas yang berdaya saing. Syukur-syukur visi sebagai daerah gemilang dan mampu bersanding dengan daerah-daerah maju lainnya. Bahkan level internasional sekalipun.

Berdasarkan data kementerian pendidikan dan kebudayaan, anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) NTB tahun 2016 untuk pendidikan berada di kisaran 10.9%. Angka ini masih berada di angka 50% dari 20% anggaran pendidikan yang diamanatkan undang-undang. Dengan kata lain, bahwa APBD pendidikan kita, masih belum sesuai dengan amanat undang-undang.

Keadaan APBD tersebut tentu merupakan permasalahan utama, jika keadaan finansial tersebut, kita jadikan sebagai masalah utama lemah dan lambatnya kemajuan pendidikan. Memang, di berbagai daerah dan negara yang memiliki pendidikan maju dan berkualitas, selalu didukung oleh keadaan finansial  yang memadai. Namun, daya dukung finansial, tidak selalu menjadi modal utama guna mencapai pendidikan yang bermutu dan berkualitas. Daya dukung berupa motivasi dan tekad yang kuat untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu dan berkaulitas, jauh lebih penting dibandingkan yang lainnya.

Kondisi Pendidikan NTB

IPM NTB pada tahun 2017 menduduki urutan ke 29 dari 34 provinsi. IPM ini masih dikategorikan IPM sedang. Kategori sedang ini dilihat dari angka Harapan Lama Sekolah (HLS) 13,46 tahun, dan Rata-rata lama sekolah (RLS) di angka 6.90 tahun. Angka RLS  tersebut berkisar di 46 % dari angka 15 tahun RLS menurut indikator yang ditentukan oleh IHD. (diolah dari berbagai sumber)

Persentase angka RLS yang masih di bawah 50% tersebut, menjadi salah satu pekerjaan bersama yang harus dituntaskan. Berdasarkan data kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2016/2017, angka putus sekolah di NTB berjumlah 1.263 atau 1.27 % dari angka nasional. Angka ini menempatkan NTB sebagai provinsi teratas penyumbang angka putus sekolah.

Fenomena atau keadaan tersebut bertalian erat dengan keadaan atau tingkat ekonomi masyarakat. Angka putus sekolah biasanya disebabkan oleh keadaan ekonomi keluarga yang kurang mendukung. Pertalian antara tingkat kesejahteraan masyarakat dengan tingkat ekonomi keluarga, tak terbantahkan lagi. Hal ini tetap berlaku, meski berbagai program pemerintah diluncurkan untuk mengatasi angka putus sekolah ini. Kartu Indonesia Pintar, Bantuan Operasional Sekolah/Madrasah, ataupun yang lainnya, belum mampu menjadi daya tarik atau daya dorong masyarakat kita untuk mengenyam pendidikan. Bersekolah ternyata masih dipandang mahal oleh masyarakat di daerah ini.

Mahalnya biaya bersekolah ini, memang belum sepenuhnya diambil alih pemerintah. Ini bertujuan untuk ‘mengikat’ masyarakat agar menjadi bagian tri pusat pendidikan. Tri pusat yang memiliki peran dan fungsi secara bersama-sama dalam mencapai tujuan pendidikan. Namun, aturan pemerintah berkaitan dengan biaya pendidikan tersebut, tidak memberikan ruang bagi sekolah, untuk membebani masyarakat prasejahtera. Masyarakat prasejahtera, dibebaskan dari segala beban finansial yang berkaitan dengan biaya operasional sekolah.

Selain permasalahan tersebut, pendidikan di daerah ini belum didukung dengan kompetensi para tenaga kependidikan yang memadai. Masih terbatasnya akses dan motivasi para tenaga kependidikan untuk mengembangkan diri merupakan persoalan utama. Terbatasanya akses kesempatan untuk mengembangkan diri ini, lebih disebabkan karena kemampuan finansial lembaga pendidikan/sekolah ataupun intstansi/dinas terkait. Sekolah di NTB  yang berjumlah 6.957 buah, tentu jumlah tenaga kependidikannya akan lebih banyak pula. Begitu pula jumlah anak didiknya. Jumlah yang banyak tersebut, sangat diyakini bahwa, belum semua mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan diri dan meningkatkan kompetensi yang dimilikinya secara merata.

Persoalan ini adalah persoalan serius. Bagaimanapun, para tenaga kependidikan merupakan tulang punggung utama pemerintah dan masyarakat dalam mencapai tujuan pendidikan. pendidikan yang berkualitas. Pendidikan yang bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan yang menjamin masa depan bangsa. Masa depan bangsa berupa masyarakat yang adil, makmur, sentosa. Masyarakat yang berkehidupan layak dan sejahtera.

Di lain hal, perlu kiranya pemerintah daerah, melalui dinas terkait, memberikan apresiasi dan penghargaan yang layak kepada para tenaga kependidikan. Para tenaga kependidikan yang telah berusaha, berjuang membawa nama baik pendidikan daerah ke kancah nasional, maupun intenasional. Meskipun usaha dan perjuangan itu belum mendapatkan hasil maksimal sesuai keinginan.

 

Baca Juga :


Apresiasi atau penghargaan ini, dapat dalam berbagai macam dan bentuk. Misalnya pemberian reward, piagam penghargaan ataupun  bentuk-bentuk apresiasi lainnya. Bila diperlukan, para tenaga kependidikan yang telah mampu meraih prestasi luar biasa pada level-level tertentu, mendapatkan diapresiasi secara khusus. Salah satu cara mengapresiasi khusus adalah promosi jabatan, seperti menjadi pemimpin sebuah lembaga/sekolah.

Prestasi para tenaga kependidikan yang luar biasa ini, bukanlah diraih  dengan serta merta. Ada proses panjang yang dilaluinya. Proses belajar, berlatih, berpikir, bertanya, meneliti, mencari solusi, mengapilaksi dan menyimpulkan permasalahan-permasalahan yang dirasakannya. Proses panjang tersebut, merupakan indikator seseorang telah mampu dan terbiasa menganalisis keadaan atau permasalahan. Kemampuan menganalisis dan memecahkan permasalahan inilah yang dibutuhkan dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan pendidikan. Permasalahan-permasalahan yang semakin hari, semaki kompleks dan global.

Para tenaga kependidikan yang telah berprestasi luar biasa ini, harus pula diberikan kesempatan yang luas dan terbuka. Kesempatan untuk memberikan sumbangsih melalui penerapan ide-ide, gagasan-gagasan yang dibutuhkan untuk pembangunan pendidikan. Ide-ide dan gagasan yang akan diterapkannya dalam menghadapi permasalahan-permasalahan pendidikan yang ada. Sehingga, ada harapan bahwa benang kusut pendidikan yang selama ini dihadapi, akan mampu terurai satu per satu.

1000 Beasiswa Mahasiswa ke luar negeri pertahun

Program lain yang dicanangkan Gubernur Zul dalam bidang pendidikan  yang spektakuler adalah 1000 Beasiswa mahasiswa ke luar negeri per tahun. Program ini tentu luar biasa dan sangat perlu mendapat dukungan dari semua kalangan. Program ini tak ada tujuan lain selain menjadikan masyarakat NTB berpendidikan. Berpendidikan dan menyejahterakan taraf hidupnya.

Program yang luar biasa ini, sayangnya, dirasakan belum menyinggung keberadaan guru dan tenaga kependidikan lainnya. Guru dan tenaga kependidikan lainnya, juga perlu mendapat perhatian yang serius dalam meningkatkan kapasitas dan kompetensi profesionalisme mereka. Bagaimanapun, guru-guru dan tenaga kependidikan yang berkualitas, adalah jaminan mendapatkan output pendidikan yang berkualitas pula.

Program 1000 beasiswa mahasiswa ke luar negeri tersebut, perlu juga diseimbangkan dengan program beasiswa untuk guru. Bila tidak memungkinkan dalam bentuk beasiswa, cukuplah program-program insedentil yang berkesinambungan dan menyeluruh untuk meningkatkan kompetensi para tenaga kependidikan. Sehingga, dikotomi pendidikan/sekolah antara kota dengan desa, antara favorit dan nonfavorit, antara unggulan dan nonunggulan yang selama ini terbentuk, mulai terkikis karena telah berkualitas sama dan merata.

Harapan

Terpilihnya pemimpin NTB yang memiliki gelar dan titel tertinggi dalam jenjang pendidikan, tentu merupakan harapan besar terhadap kemajuan ‘gumi paer’ ini. Kemajuan dalam segala bidang kehidupan, terlebih lagi dunia pendidikan. Dunia pendidikan kita yang masih ‘betah’ bertahan di papan bawah dalam ururtan indeks pembangunan manusia (IPM).

Langkah-langkah dan strategi-strategi besar gubernur dan wakil gubernur dalam mengentaskan segala permasalahan pendidikan, sangat diharapakn.  Sehingga masyarakan bisa merasakan perbedaan besar antara dipimpin oleh orang yang pendidikan tinggi atau dan tidak. Antara pemimpin yang memiliki gelar pendidikan tinggi dan tidak. Semoga harapan-harapan masyarakat, terutama masyarakat pendidikan, terhadap gubernur dan wakil gubernur, mampu menjawab dan mengatasi persoalan-persoalan pendidikan yang ada. Karena bagaimanapun juga, Pendidikan yang berkualitas adalah satu-satunya bekal menuju masyarakat yang sejahtera dan bermartabat, menuju NTB gemilang. Aamiin.

 



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan