logoblog

Cari

Tutup Iklan

Satu Semester Sekolah Adat Bayan

Satu Semester Sekolah Adat Bayan

TAK terasa sudah enam bulan Sekolah Adat Bayan (SAB) dibuka. Itu artinya SAB sudah berlangung selama satu semester kata seorang tenaga

Pendidikan

KM HIDAYATUDDARAIN
Oleh KM HIDAYATUDDARAIN
12 Juni, 2018 14:03:07
Pendidikan
Komentar: 0
Dibaca: 3128 Kali

TAK terasa sudah enam bulan Sekolah Adat Bayan (SAB) dibuka. Itu artinya SAB sudah berlangung selama satu semester kata seorang tenaga pengajar di SAB. Sejak pertama kali dilauncing dan dimulai penerimaan peserta belajar pada 20 Desember 2017 – sambutan dari peserta belajar cukup baik. Ini bisa dilihat dari banyaknya anak-anak muda yang mendaftar sebagai peserta belajar. Pada penerimaan pertama ini tercatat 27 orang peserta belajar aktif di SAB. Hal lain tentu saja adanya dukungan positif dari tokoh-tokoh adat Bayan dan pemerintah desa (Pemdes).

Ide pendirian sekolah adat ditengah masyarakat adat Bayan ini dimaksudkan menjadi ruang belajar baru bagi anak-anak muda untuk mempelajari, mendalami dan mengkaji adat istiadat atau kearifan lokal masyarakat adat Wetu Telu Bayan. Kebutuhan ini dianggap sangat penting untuk menjawab berbagai persoalan dan tantangan sosial yang dialami oleh masyarakat adat.

Di antara persoalan yang dikhawatirkan para tokoh adat Bayan saat ini, semakin berkurangnya minat anak-anak muda dalam mempelajari dan memahami tradisi budaya yang diwariskan para leluhurnya. Seorang Pembekel Dusun Barong Birak, Desa Sambi Elen mengeluh banyak anak-anak muda dikampungnya yang yang kerap menggritik, mencela bahkan menolak berbagai ritual adat yang dilakukan orang tua mereka.

Kalau gejala  sosial ini tidak segera disikapi kedepan dapat mengancam kelangsungan dan masa depan budaya Wetu Telu Bayan. Menurut para tokoh adat itu, penolakan anak-anak muda terhadap berbagai ritual adat disebabkan oleh ketidaktahuan mereka terhadap makna dan tujuan dari ritual adat tersebut. Satu sisi anak-anak muda itu dianggap telah mendapat model pemahaman baru yang anti terhadap tradisi budaya lokal. Persoalan lain, sulitnya mencari calon penerus selaku pejabat adat.

Menjawab berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat adat itu, beberapa anak muda yang berasal dari desa Bayan, Karang Bajo, Anyar dan Loloan memberanikan diri untuk memulai dan membuka SAB. Tentu saja SAB ini merupakan pendidikan non formal yang melakukan proses belajar didalam ruangan dan luar ruangan. Ada pertemuan dilakukan dalam bangunan, berugak, ditengah persawahan dan rumputan. Walau pendidikan non formal bukan berarti tidak memiliki kurikulum, bahan belajar, tenaga pengajar dan tempat belajar.

Melalui SAB inilah diharapkan kedepan anak-anak muda bukan hanya dapat mengerti, memahami dan tertarek untuk menjaga, merawat dan siap menjadi pemimpin masyarakat adat kedepannya. Mereka juga diharapkan bisa memahami persoalan dan tantangan masyarakat adat kedepannya. Meski masyarakat adat adat Bayan memiliki cara tersendiri dalam mengkader penerusnya namun itu sifatnya terbatas bagi keluarga perusa saja.

Dan sebelum gagasan SAB ini berhasil diwujudkan, telah lakukan berbagai kegiatan peningkatan kapasitas kepada anak muda dan tokoh adat Bayan. Mulai dari diskusi, seminar, workshop dan pelatihan. Mereka juga terlibat menulis buku, “Dari Bayan untuk Indonesia Inklusif” termasuk mendirikan perpustakaan adat di Desa Karang Bajo dan Desa Bayan. Kini perpustakaan itu kerap didatangi oleh anak-anak usia sekolah dan orang dewasa untuk menambah wawasannya.  

 

Baca Juga :


Maka materi utama (pelajaran) yang dipelajari dalam SAB diantaranya Jati diri dan Identitas Masyarakat Adat Wetu Telu Bayan, Pranata Adat, Hukum Adat (Awiq-awiq), Ritual Adat, Sistem Pertanian, Seni Tradisi, Bangunan Adat (Arsitertur), Penanggalan, Periwisata dan Bahasa Inggris. Kegiatan lain untuk menambah keterampilan peserta belajar diantara penulisan dan pembuatan video berbagai ritual serta seni tradisi yang sering dimainkan di masyarakat adat.

Untuk membahas dan mengevaluasi SAB yang telah berlangsung selama ‘satu semester’ itu, Solidaritas Masyarakat Untuk Transparansi (SOMASI) NTB, selaku lembaga yang ikut mendorong lahirnya SAB ini kemudian membuat workshop dan training of trainer (TOT) Pengelolaan dan Pembengangan SAB selama dua hari, Senin-Selasa 11-12 Juni 2018 di Pondok Senaru, Desa Senaru, Kecamatan Bayan. Tentu saja melalui kegiatan ini diharapkan bisa menghimpun masukan, saran, kritik dan ide-ide kreatif untuk mengevaluasi pelaksanaan SAB selama ini. Para pihak yang diundang dalam kegiatan ini peserta belajar, tenaga pengajar, pengelola, tokoh masyarakat dan kepala-kepala desa dari empat desa.

Banyak sekali masukan, saran dan kritikan yang diberikan para tokoh yang hadir untuk mengembangkan SAB kedepan. Pada hari pertama isu utama yang disampaikan oleh peserta mulai dari penyempurnaan kurikulum, tenaga pengajar, bahan bacaan, tempat belajar, pengurus sampai sampai legalitas (badan hukum) SAB. Hari keduanya dibahas evaluasi dan strategi proses belajar supaya berjalan dengan baik dan efektif. []

 



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan