logoblog

Cari

Tutup Iklan

Semangat Santri Sirajul Huda Membaca Untuk Menulis

Semangat Santri Sirajul Huda Membaca Untuk Menulis

          Ahad (4/3) lalu saya diundang kembali membagi pengalaman, kiat dan motivasi menulis bagi santri-santri Ponpes

Pendidikan

KM HIDAYATUDDARAIN
Oleh KM HIDAYATUDDARAIN
08 Maret, 2018 13:40:51
Pendidikan
Komentar: 0
Dibaca: 2618 Kali

Ahad (4/3) lalu saya diundang kembali membagi pengalaman, kiat dan motivasi menulis bagi santri-santri Ponpes Sirajul Huda, Paok Dandak, Desa Durian, Kecamatan Janapria, Lombok Tengah. Selain karena pengundangnya Ahmad Jumaili, hal lain yang membuat saya semangat datang kesana karena tema dan tempatnya.

Temannya cukup menarek,”Melejitkan Potensi Diri : Membaca untuk Menulis”. Apa itu membaca dan menulis ? bagaimana pengertian membaca dan menulis yang mudah, tidak ribet dengan definisi panjang ? Bagaimana sih membaca yang menghasilkan tulisan ? Apa yang dilakukan orang setelah membaca akan bisa menghasilkan tulisan ? Pertenyaan-pertanyaan itu yang menuntun saya dating kesana. Tentu saja tak lupa juga dibahas kiat-kiat mengusir rasa ngantuk, bosan, males ketika membaca dan menulis.

Bagi saya membaca dan menulis itu dua paket yang saling melengkapi. Ibarat dua keping mata uang logam. Membaca akan jauh lebih bermakna manakala hasil bacaan kita ditulis. Tentu yang saya maksud disini bukan memindahkan apa yang telah ditulis dari sumber bacaan. Namun bagaimana kita menangkap, mengikat dan memberi makna secara tertulis apa yang telah kita baca itu.

Membaca bukan hanya sekedar tahu tapi membaca untuk memahami, mendalami bahkan bila perlu mengkritisi kalau memang ada hal-hal yang tidak kita setujui dalam tulisan yang kita baca tersebut. Kalau kita ibaratkan membaca itu ‘betina’ dan menulis itu ‘jantan’, maka mengawinkan keduanya tentu tujuannya supaya menghasilkan anak. Dan anak yang kita maksud disini berupa karya.

Bila semangat membaca untuk menulis ini digabungkan, dikawinkan – tentu kita berharap santri-santri bukan hanya suka membaca, mampu mengatasi kendala-kendala dalam membaca dan menulis. Membaca menulis secara bersamaan atau tepatnya membaca menulis secara beriringan. Setelah membaca ia mendapatkan gagasan, ide atau inspirasi menulis.   

Lebih maju dari itu bagaimana membaca-menulis menjadi kebiasaan (habbit) dalam dirinya. Membaca-menulis akan menjadi kebutuhan bagi dirinya. Entah untuk mengekspresikan diri, menyampaikan pikiran dan gagasan termasuk skill untuk mendapatkan penghasilan.

Kalau saja menulis dan membaca bisa dilakukan secara kontinyu, saya percaya potensi diri mereka akan nampak melalui tulisan-tulisan yang mereka buat. Kemampuan, keahlian, kompetensi, kegemaran dan focus yang ia tekuni akan dibaca oleh banyak orang melalui tulisan-tulisannya. Kemampuan membaca-menulis pun akan membantu, mempermudah dan meningkatkan produktivitas proses belajar mereka.

Bukankah masa-masa nyantri, mondok dan sekolah masa-sama emas untuk menata mimpi masa depan. Banyak cerita-cerita pahit, manis, asem, manis, indah akan kita alami selama masa-masa itu. Sayang kalau tidak dituliskan dan diabadikan. Fasilitas dan sarana untuk melakukan hal itu sekarang tersedia luas. Asalkan ada keinginan dan kemauan.

Hal-hal inilah yang kami maksud melejitkan potensi diri melalui aktivitas membaca – menulis. Saya percaya mereka punya potensi dan semangat yang besar manakala diberikan ruang, dorongan dan fasilitas untuk mereka mengeksplorasi ide-idenya. Tentu banyak hal yang saya sampaikan disana tidak tergambar dan terurai dalam tulisan ini.

 

Baca Juga :


Dan setiap memberikan motivasi membaca dan menulis, saya selalu melengkapinya dengan praktek. Pertemuan yang lalu walau setengah hari, mereka juga mendapatkan kesempatan untuk praktek. Mereka saya minta praktek menulis dengan alat yang mereka miliki. Kalau yang punya hp, menulis dengan hp. Kalau yang bawa leptop tentu mengerjakannya dengan leptop. Bagi yang tidak punya tentu menulis pakai buku. Hasilnya kemudian dilangsung diposting dihalaman facebook masing-masing.

Untuk tema tulisan, saya membagikan mereka 3 pilihan tema. Mau nulis tentang buku yang telah dibaca, pelaksanaan kegiatan itu dan kondisi alam persawahan dan perdesaan tempat mereka. Dari sana lalu lahir beberapa tulisan, “Terbakarnya Surban Maulana Syekh” oleh Putri Nms, “Renungan Malamku’ oleh Dina Farida, “Berugak Buku Sirajul Huda” oleh Safa Ria Ningsih, “Belajar dari Rumpun Padi” oleh Mukmin, Lalu ada tulisan “Anak Yang di Tinggal Ibu dan Bapak” oleh M. Abdul Majid, “Kenangan Dalam Perpisahan” oleh Uswatun Hasanah (Ann Uswa), “Tokoh Pak Ucup” oleh Halun Abdul Wali (Ali Eboy), “Pertemuan Singkat Membuatku Baper” oleh Hesti Nurul Mayanti (Hesty). 

Selesai kegiatan mereka mulai inbok saya via FB untuk minta datang kembali menyemangati mereka. Selain bertanya mereka juga berencana mau menulis catatan harian selaku santri. Tentu saja saya senang mendengarnya. Saya bilang kepada mereka,“Tetaplah menulis. Jangan menyerah dengan kendala-kendala kecil yang kalian hadapi. Itu tidak seberapanya dengan manfaat besar yang kalian dapatkan. Persis seperti balon yang menerbangkan beban yang saya ceritakan kembali. Kalau kalian bisa mengalahkan kendala-kendala kecil itu, yakinlah kalian akan terbang tinggi dimasa yang akan datang”

“Menulislah hal-hal yang positif, bukan hal-hal cengeng dan lebay. Tunjukkan diri kalian yang optimis dan semangat meraih masa depan yang lebih baik dari sekarang. Kalian punya kesempatan yang sama dengan orang lain untuk maju. Tempat kalian belajar saat ini sudah tepat. Pesantren yang memadukan ilmu-ilmu agama yang memadukan ilmu-ilmu sosial. Memadukann skill untuk hidup didunia, dann investasi di aherat”.

Kalian ingatkan pesan Lintang kepada sahabatnya Arai dalam novel “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata yang saya ceritakan saat itu “Satu-satunya hal berharga yang dimiliki orang miskin seperti kita adalah mimpi Arai, maka perjuangkan lah mimpi kita” kata Lintang kepada sahabatnya Arai.

Dalam kisah Laskar Pelangi tokoh Lintang dikisahkan memang tidak bisa melanjutkan cita-citanya kuliah dan keliling Eropa karena ia harus menjaga dan membesarkan adek-adeknya setelah ditinggal melaut oleh ayahnya. Namun sahabatnya Arai akhirnya berhasil kuliah di Eropa. Sebuah pembelajaran menarek.       

Penyemangat kedua saya datang kesana, keberadaan “Berugak Buku” lain kali saya tulis. [] 



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan