logoblog

Cari

Tutup Iklan

Kuliah: Emang Cukup Jadi Sarjana?

Kuliah: Emang Cukup Jadi Sarjana?

Banyak orang bermimpi untuk hidup sukses saat ini dengan memiliki karir bagus, penghasilan di atas rata-rata, dan sejahtera. Tidak jarang, pendidikan

Pendidikan

Galih Suryadmaja
Oleh Galih Suryadmaja
22 Februari, 2018 08:50:39
Pendidikan
Komentar: 0
Dibaca: 4896 Kali

Banyak orang bermimpi untuk hidup sukses saat ini dengan memiliki karir bagus, penghasilan di atas rata-rata, dan sejahtera. Tidak jarang, pendidikan menjadi salah satu jalan untuk mencapai angan-angan itu. Salah satunya dengan mengenyam pendidikan tinggi demi mencapai derajat kesarjanaan. Akhirnya orang berbondong-bondong mencari perguruan tinggi yang populer dan mentereng, dengan harapan masa depan mereka akan terjamin. Apakah hal demikian salah? Tentu tidak seluruhnya, karena sebagian lulusan dari perguruan tinggi favorit pada akhirnya juga mendapatkan apa yang diharap. Tetapi tidak sedikit pula orang yang mengenyam pendidikan di kampus-kampus ternama pada akhirnya mengalami kegagalan dalam meniti karirnya. Hingga kemudian mereka bekerja tidak sesuai dengan bidangnya, atau malah justru ijazah yang diperoleh tidak memberikan manfaat sedikitpun baginya. 

Hari ini kita banyak menyaksikan sarjana yang kesulitan peluang kerja, hingga tertahan cukup lama sebagai pengangguran. Cita-cita orangtua(pun) terkubur dalam-dalam untuk melihat anak-anaknya segera mendapati kehidupan dan penghidupan yang diidamkan. Banyaknya materi, tenaga, pikiran yang dikeluarkan dengan dalih investasipun rasanya terbuang sia-sia. Siapa yang salah? Dunia pendidikan khususnya perguruan tinggi, pada dasarnya memang tidak dapat menjamin seseorang untuk memperoleh pekerjaan yang dicita-citakan. Karena pendidikan bukanlah alat untuk mencari pekerjaan sebenarnya, melainkan dewasa ini dalam memperoleh suatu pekerjaan cenderung memberikan persyaratan administrasi dengan batasan tingkat pendidikan. Padahal jelas, sebagai seorang sarjana seharusnya tidak melulu harus terpaku untuk mencari lading pekerjaan. Paling tidak mereka harus dapat menjadi corong dalam penciptaan lapangan pekerjaan. Bagaimana mereka seharusnya dapat mengelola daya pikir dan kreatifitas dalam menciptakan lapangan pekerjaan, baik bagi dirinya sendiri ataupun bagi orang lain. 

Bagaimana dengan orang-orang yang tetap berfikir bahwa pendidikan adalah jalan untuk mendapati pekerjaan? Tentu mereka harus memiliki strategi yang tepat, agar apa yang dicitakan dapat trewujud sebagaimana mestinya, terlepas dari Kuasa Tuhan. Artinya bahwa rencana dan upaya  yang dilakukan haruslah tepat, seperti halnya tentang bagaimana memilih perguruan tinggi dan jurusan yang tepat. 

Memilih perguruan tinggi, tidak melulu harus terpaku pada perguruan tinggi-perguruan tinggi yang populer atau favorit menurut pandangan masyarakat. Karena jelas, perguruan tinggi semacam ini pastinya akan menjadi tujuan banyak orang. Di mana hal demikian akan menjelaskan ketatnya persaingan untuk masuk atau mendaftar sebagai mahasiswa. Jika diterima, tentu orang akan dapat berbangga. Jika tidak, maka ia harus melaksanakan rencana lainnya. Artinya akan ada waktu yang terbuang, hal lainnya belum tentu ada perguruan tinggi yang sebanding untuk menggantikan kegagalan itu. Hal yang tidak kalah penting adalah, bahwa output dari perguruan tinggi favorit belum tentu lebih baik dari perguruan tinggi pinggiran. Karena selain kualitas dari sistem pendidikan yang dilaksanakan, keberhasilan pendidikan juga ditentukan oleh kualitas manusianya sendiri. 
Setelah menentukan perguruan tinggi tujuan, tentu orang harus memilih bidang atau minat jurusan. Beruntung bagi mereka yang bidang minatnya tersedia di perguruan tinggi yang diinginkan. Jika tidak, tentu ia akan cukup memaksakan diri dengan memilih bidang lain. Di dalam menentukan jurusan, tentu akan muncul begitu banyak pertimbangan. Salah satunya adalah bidang atau minat yang “saat ini” laku dipasaran, atau dibutuhkan banyak orang. Hal ini mengindikasikan bahwa orang membutuhkan sesuatu yang instan dalam memutuskan suatu hal. Tentu akan beruntung jika usai perjalanan studinya, kondisi atau kebutuhan lapangan pekerjaan di bidang itu masih cukup banyak. Karena perjalanan studi untuk mencapai derajat strata satu terhitung cukup lama, yaitu 4 tahun. Jika hendak berfikir instan, tentu yang paling relevan adalah bukan dengan melihat jurusan apa yang “laku” saat ini, melainkan orang harus berfikir apa yang “mungkin laku” setelah mereka lulus nantinya.

Melihat peluang, tentu menjadi penting ketika berfikir bahwa pendidikan ditujukan sebagai sarana untuk mencari kerja nantinya. Melihat peluang, salah satunya dapat dilakukan dengan melihat kebutuhan masyarakat saat ini yang belum terpenuhi dan mungkin masih cukup banyak peluang dalam perjalanan selama studi. Bagaimana melihatnya? Yaitu dengan menentukan jurusan-jurusan yang memang penting, akan tetapi masih sepi peminatnya. Salah satu contoh misalnya, bahwa hari ini di wilayah NTB masih sangat jarang pendidik, jurnalis, ataupun peneliti di bidang seni budaya. Bidang-bidang pekerjaan itu masih banyak diisi oleh orang-orang yang memiliki latar belakang keilmuan di bidang lain. Sedangkan kampus seni di wilayah NTB ini masih sangat jarang ditemukan. Jika toh adapun, peminatnya tidak begitu besar. Karena orang hari ini masih memiliki kecenderungan berfikir, bahwa seni dinilai tidak sanggup menghadirkan kesejahteraan hidup secara materi. Padahal jelas, banyak bidang pekerjaan yang membutuhkan para sarjana dengan kualifikasi tersebut. 

Pendidikan Seni Drama Tari dan Musikl di Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat misalnya, salah satu jurusan yang menawarkan kompetensi menjadi pendidik atau pengajar, jurnalis, peneliti muda di bidang seni budaya masih cukup sedikit peminat. Padahal jelas bahwa di NTB ini masih membutuhkan begitu banyak pendidik atau pengajar di bidang seni budaya. Jika jumlah mahasiswa yang sedang menjalani studi hari ini hanya berjumlah puluhan, tentu selama 4 sampai 8 tahun mendatang peluang pekerjaan itu masih sangat terbuka. Mengingat jumlah sekolah yang begitu banyak di NTB ini. Di sisi lain, keberadaan balai-balai penelitian di bidang kebudayaan, institusi seperti taman budaya, dinas kebudayaan, dan institusi-institusi lain di bidang seni budaya tentu masih banyak membuka peluang bagi lulusan ini. 

Sepinya peminat jurusan Seni di kampus UNU NTB itu saat memang dipengaruhi oleh banyak faktor. Pertama, kampus UNU NTB adalah perguruan tinggi swasta yang baru. Didirikan pada tahun 2014, kampus ini mulai beroperasi atau menjalankan kegiatan pembelajaran di tahun 2015. Karena masih cukup belia, kampus ini memang belum cukup banyak dikenal oleh masyarakat. Keterbatasan informasi yang diterima masyarakat sampai saat ini, mungkin menjadi kendala baginya masuk dalam daftar perguruan tinggi tujuan. Kedua, dengan membawa nama Nahdlatul Ulama (NU), mungkin sebagian masih berfikir bahwa jurusan-jurusan yang tersedia akan sedikit banyak “berbau keislaman”. Padahal perguruan tinggi ini merupakan perguruan tinggi umum yang mengakomodir berbagai bidang disiplin keilmuan, mulai dari jurusan-jurusan pendidikan, jurusan-jurusan kesehatan, jurusan-jurusan teknologi, dan ekonomi. Perguruan tinggi tersebut terbuka untuk siapapun, bagi masyarakat dengan agama apapun. Karena memang pendidikan adalah menjadi hak setiap orang, tidak dibatasi oleh suku, agama, ataupun ras. Ketiga, mungkin dari segi infrastruktur dan fasilitas masih dinilai masyarakat belum cukup mewadahi seperti halnya kampus-kampus besar yang telah hidup selama puluhan tahun. Tetapi hal itu masih terhitung cukup wajar, mengingat usianya yang masih baru dan biaya pendidikan yang terhitung cukup murah sekelas kampus swasta. Tetapi tidak kemudian hal itu akan mengurangi kualitas pendidikan yang diselenggarakan, mengingat komitmen pihak penyelenggara pendidikan yang telah menyediakan tenaga-tenaga professional yang memiliki kompetensi sesuai dengan  bidangnya dan juga berintegritas. 

 

Baca Juga :


Tingkat kepercayaan masyarakat tentu masih cukup rendah terhadap peguruan tinggi yang demikian. Hal itu masih terhitung sangat wajar, karena masyarakat pada dasarnya membutuhkan suatu jaminan. Terlebih dalam hal pendidikan dan masa depan. Tetapi ketika berbicara UNU tidak hanya ada di Nusa Tenggara Barat. Kampus serupa juga banyak tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Hal ini sedikit menjelaskan adanya komitmen kuat dari salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia ini dalam mewujudkan pendidikan tinggi. Komitmen itu mungkin hari ini yang dapat menjadi salah satu jaminan bagi masyarakat ketika memutuskan bergabung menjadi salah satu bagiannya. Puluhan perguruan tinggi NU di Indonesia ini juga memberikan kelebihan bagi UNU NTB di tengah kehidupan masyarakat Nusa Tenggara Barat. Oleh karena persebaran itu kemudian menjadi isyarat adanya bangunan-bangunan jejaring yang memungkinkan bagi civitas akademiknya memperoleh akses dalam rangka memperluas jejaring dan wawasan. 

Nganggur? Tentu tidak menjadi ‘momok’ yang menakutkan bagi mahasiswa di jurusan Seni Drama Tari dan Musik seperti yang dicontohkan itu. Pasalnya sebelum mereka luluspun, telah banyak ruang-ruang pendidikan yang telah ‘memesan’ mereka untuk mengajar setelah lulus nantinya. Hal itu terjadi oleh adanya jalinan komunikasi yang dilakukan oleh pihak lembaga dengan masyarakat yang berkecimpung dalam dunia pendidikan. Di sisi lain, kemampuan mahasiswa yang diasah sedemikian rupa meski belum dapat menghadirkan mereka pada tataran “mahir” berkesenian, paling tidak itu cukup untuk menjadi bekal dalam bekerja nantinya. Ini tentu dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan bagi masyarakat di NTB hari ini. Untuk mau menangkap berbagai peluang yang ditawarkan.

Keberhasilan dari pendidikan tentu tidak semata-mata didasarkan pada ruang pembelajaran. Hal yang paling menentukan tentu saja adalah pelaku itu sendiri. Ketika seseorang memutuskan untuk memilih salah satu jalur, tentu mereka harus melaksanakannya secara serius. Keseriusan yang dimiliki tentu saja akan membawa pada ruang yang lebih terang sesuai dengan apa yang diharapkan. Jangan kemudian hanya berfikir untuk sekedar menjadi sarjana. Tetapi penting kiranya untuk berfikir menjadi sarjana yang seperti apa. Hal menarik lain yang mungkin belum diketahui banyak orang adalah tentang sistem pendidikan atau atmosfer pembelajaran yang diterapkan di jurusan Seni pada kampus UNU NTB. Bahwa menjadi hal lumrah ketika mahasiswa berkumpul dengan para dosen baik di kampus, di warung kopi, atau di atas panggung sekalipun tampak santai. Untuk berdiskusi dalam mengembangkan wawasan dan pengetahuan, bereksplorasi, ataupun hanya sekedar bercanda. Sistem kekeluargaan yang coba diterapkan, mungkin masih belum begitu banyak dijumpai di NTB. Hal ini dimaksudkan agar upaya transfer knowledge dapat berlangsung secara maksimal dan tidak hanya dibatasi oleh ruang formal semata. Mengingat bahwa pembelajaran di kelas tentu saja sangat terbatas, dan tidak memungkinkan bagi setiap orang untuk memperoleh segalanya secara maksimal di dalam kelas. 

Keputusan untuk meraih masa depan adalah kepentingan dari masing-masing orang. Merencanakan dan melaksanakannya secara baik, tentu sedikit banyak akan turut menentukan upaya dalam meraih cita. Memilih tentu saja tidak boleh asal, karena dalam memilih setiap orang harus siap dengan berbagai resiko yang mungkin akan terjadi. Tentu saja hal ini menuntut adanya kesadaran, agar kemudian apa yang dilakukan dapat juga dipertanggung jawabkan. Berbagai opsi tentu akan diberikan kepada masyarakat ke depan, dan masyarakat memiliki otoritas dalam kesadarannya untuk menentukan. Agar kuliah tidak hanya sekedar cukup menjadi sarjana nantinya.  
 



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan