logoblog

Cari

Tutup Iklan

Perjalanan TPQ NU Hidayatuddarain

Perjalanan TPQ NU Hidayatuddarain

USIA Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ)  NU HIDAYATUDDARAIN Dasan Geres, Gerung, Lombok Barat kini baru berusia 5 bulan berjalan. Usia yang belum

Pendidikan

KM HIDAYATUDDARAIN
Oleh KM HIDAYATUDDARAIN
27 Desember, 2017 14:09:33
Pendidikan
Komentar: 0
Dibaca: 4002 Kali

USIA Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ)  NU HIDAYATUDDARAIN Dasan Geres, Gerung, Lombok Barat kini baru berusia 5 bulan berjalan. Usia yang belum seberapa ketika dimulai pada tanggal 30 Juli lalu. Meski baru berusia beberapa bulan TPQ NU HIDAYATUDDARAIN sudah membina 100 orang santri untuk diajar membaca kitab suci Al Qur'an. Ada yang heran kok banyak sekali yang daftar sementara mereka mengalami kesulitan membangun TPQ.

TPQ ini salah satu ranting Yayasan Pendidikan dan Pondok Pesantren HIDAYATUDDARAIN yang dirintis oleh almarhum TGH.Ahmad Asy'ari atau biasa dipanggil Tuan Guru Ahmad oleh warga Gerung, Sekotong dan sekitarnya. Warisan beliau yang masih dilihat bangunan MA, MTs dan TK. Pondok pesantren yang pertama kali beliau rintis terpaksa bubar karena tidak ada yang mau melanjutkan.

Ibarat pohon, HIDAYATUDDARAIN sebenarnya sudah melahirkan ranting, daun dan buah diberbagai tempat. Alumninya sudah banyak, beberapa alumni yang dulu sempat mengaji dan bersekolah dimasa almarhum TGH. Ahmad Asy'ari masih hidup kini banyak yang berhasil, menjadi tokoh agama dan masyarakat. Ada yang jadi guru, pengusaha, ustazd-ustazah, tuan guru dan mendirikan lembaga pendidikan yang ternyata kini jauh lebih maju dan berkembang dari 'pohon asal' tempatnya dulu berguru.

Untuk tenaga pengajar TPQ sekarang kami sudah punya sekitar 14 orang ustazd dan ustazah yang punya jadwal mengajar setiap hari. Untuk memudahkan mengajar kita membagikan beberapa kelompok berdasarkan usia dan kemampuan membaca Al Qur'an anak. Termasuk juga kelompok tahfizdnya.

Tentu modal membangun TPQ ini yang utama adalah keberanian dan insya Allah keihlasan. Tanpa itu kita pasti akan berpikir sekian kali untuk memulai apa lagi mengajar dan mengurus anak-anak usia TK sampai SD setiap hari yang kadang cara memberi tahu, mengajarkan dan mengingatkan tidak sama seperti orang dewasa.

Untuk gaji dan penghargaan kepada ustazd dan ustazah tentulah belum apa-apa. Tapi dengan ketekunan, keihlasan serta do'a dari para guru dan wali santri pasti dibukakan jalan untuk itu. Selama 5 bulan ini baru satu orang donatur yang telah mensedekah harta untuk kami jadikan sebagai dana operasional.

Tapi bagai kami TPQ walau dengan keterbatasan dan kekerungan - ini bagian dari upaya merawat dan mengembangkan lembaga pendidikan agama yang dibangun oleh orang tua terdahulu. Selain itu tentu sebagai tempat kita mulai memperkenalkan, mendidik dan mengembangkan kreativitas anak berdasarkan nilai-nilai ke Islaman dan budaya yang kita anut serta dikembangkan oleh guru dan orang-orang tua kita. Karena ditempat lain belum tentu sama behkan bertentangan dengan paham keagamaan Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja) nahdliyah sebagaimana dibangun oleh Nahdlatul Ulama. TPQ dan lembaga pendidikan ini cara kita menjaga anak-anak kita termakan oleh doktrin keagamaan yang ekstrim dan ekslusif.

Untuk tenaga pengajar TPQ sekarang kami sudah punya sekitar 14 orang ustazd dan ustazah yang punya jadwal mengajar setiap hari. Untuk memudahkan mengajar kita membagikan beberapa kelompok berdasarkan usia dan kemampuan membaca Al Qur'an anak. Termasuk juga kelompok tahfizdnya.

Tentu modal membangun TPQ ini yang utama adalah keberanian dan insya Allah keihlasan. Tanpa itu kita pasti akan berpikir sekian kali untuk memulai apa lagi mengajar dan mengurus anak-anak usia TK sampai SD setiap hari yang kadang cara memberi tahu, mengajarkan dan mengingatkan tidak sama seperti orang dewasa.

 

Baca Juga :


Untuk gaji dan penghargaan kepada ustazd dan ustazah tentulah belum apa-apa. Tapi dengan ketekunan, keihlasan serta do'a dari para guru dan wali santri pasti dibukakan jalan untuk itu. Selama 5 bulan ini baru satu orang donatur yang telah mensedekah harta untuk kami jadikan sebagai dana operasional.

Saya sendiri tidak bisa setiap hari ikut mengajarkan langsung anak-anak itu mengaji karena saya sendiri bekerja dari pagi kadang sampai malam. Bila ada waktu dan libur saya baru ikut mengajar. Namun saya merasa perlu ada orang untuk memikirkan konsep dan strategi pengembangan kedepan. Termasuk metode dan pendekatan belajar yang tepat untuk memudahkan mereka membaca kitab mulia itu.

Terkait dengan metode Iqro' saya menemukan metode yang berbeda dengan yang dipakai sekarang dengan yang kita pakai dulu. Metode sekarang lebih mengedepankan model bacaan ketimbang lebih dulu mengenal nama-nama hurup sampai hapal. Sekarang langsung diajarkan membaca dengan barisnya.

Kelemahan metode ini sebagian besar anak akhirnya tidak mengenal secara pasti nama hurup. Ketika ditanya hurup alif mareka jawab A' karena alifnya baris atas. Ditanya hurup Jim bacanya Ja. Ditanya Lam dibaca La. Begitu seterusnya. Beda metode kita dulu. Kuta diajarkan mengejak alif atas a' ba atas ba dan seterusnya. Kedepan metode pengajarannya perlu dievaluasi atau diperbaiki.

Beberapa nama ustazd dan ustazah yang terlibat membangun TPQ NU HIDAYATUDDARAIN diantaranya Ust.H Ahmad Maliki, Ust. Hakim Usman, Ust. Abdul Muhid, Ust. Muhammad Zamroni, Ust. Hul Hamdani, Ust. Muhammad Naharuddin, Ustazah Hayatun Nufus, Ustazah Hudiana, Ustazah Khusnul Khotimah, Ustazah Huriana, Ustazah Fadlina Azmi, Ustazah Siti Aminah, Ustazah Santi Agustiarini Arinie Manies, Ustazah Sukartini, Ustazah Nikmatul Khairani, Ust. Khairil Anwar Elung Dasta.

Sebuah awal yang baik memulai dan mengahiri tahun 2017 dan memasuki tahun 2018.  Semoga langkah dan agenda-agenda kedepan dimudahkan oleh Yang Maha Menentukan. []

 



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan