logoblog

Cari

Tutup Iklan

SGI Kab. Bima Adakan Seminar Nasional

SGI Kab. Bima Adakan Seminar Nasional

KM TNC. Dalam seminar Nasional dengan Tema: “Penguatan Pendidikan Karakter Di Sekolah, SGI Kabupaten Bima menghadirkan Retno Listyarti, M.Si Komisioner KPAI

Pendidikan

KM. Tembe Nggoli
Oleh KM. Tembe Nggoli
05 Desember, 2017 09:08:49
Pendidikan
Komentar: 0
Dibaca: 3350 Kali

KM TNC. Dalam seminar Nasional dengan Tema: “Penguatan Pendidikan Karakter Di Sekolah, SGI Kabupaten Bima menghadirkan Retno Listyarti, M.Si Komisioner KPAI dan Drs H. Alwi Yasin, M.Ap Kadis Dikbud Kota Bima sebagai Narasumber bertempat di Auditorium SMKN 3 Kota Bima (18/11). Menurut Ketua SGI Kabupaten Bima, Saudara Eka Ilham, S.Pd.,M.Si dalam key notespeaker nya, menjelaskan bahwa penguatan karakter siswa adalah salah satu solusi penting untuk menurunkan dekadensi moral generasi yang terjadi di Kabupaten Bima akhir-akhir ini. Eka melihat bahwa terjadinya dekadensi moral remaja ini adalah indikator kegagalan pendidikan kita. "Akhir-akhir ini, moral generasi khususnya anak muda di kabupaten Bima sangat memprihatinkan, hal itu merupakan suatu kegagalan kita di sektor pendidikan," ungkapnya

Ibu Retno Listyarti, M.Si merupakan Penulis Buku “Pendidikan Karakter Dalam Metode Aktif, Kreatif, dan Inovatif" serta penulis puluhan buku lainnya yang terkait dengan dunia Pendidikan juga menekankan tentang pentingnya peran dunia pendidikan dalam mengatasi dekadensi moral generasi muda ini. Ia melihat bahwa  dunia pendidikan merupakan salah satu kunci dalam mengatasi dekadensi moral anak muda sebagai generasi penerus bangsa. "Dunia pendidikan merupakan salah satu pilar dalam mengatasi dekadensi moral generasi muda," jelasnya
Selain itu, Retno, juga menjelaskan bahwa salah satu tujuan pembelajaran di kelas adalah untuk membentuk karakter siswa, yaitu bagaimana siswa memiliki prilaku baik, memiliki keberanian untuk berbicara, bertanya, dan terbuka pikirannya dalam memahami materi dalam proses pembelajaran yang menarik. "Disinilah dibutuhkan seorang guru yang professional, yang terus menerus memikirkan atau merancang metode pembelajaran," lanjutnya

Retno menyarankan bahwa salah satu metode pembelajaran yang dapat membentuk karakter siswa adalah Literasi Kritis, yaitu pembelajaran yang berbasis Teks berupa buku, artikel, film, novel, lagu, dll yang sesuai dengan konteks lokal dan sesekali memperkenalkan konteks nasional bahkan global. Teks tersebut dianalisis oleh siswa yang kemudian memberikan pendapatnya dan guru dalam hal ini berperan sebagai Fasilitator. Lebih lanjut Katanya, bahwa siswa yang memiliki karakter itu adalah siswa yang memahami kebaikan, mencintai kebajikan, dan mengimplimentasikan kebajikan dalam kehidupannya.

Sementara, Bapak Drs H. Alwi Yasin, M.Ap, menjelaskan bahwa dalam membentuk karakter siswa dibutuhkan peran serta semua stakeholders pendidikan, mulai dari Pemerintah, Kepala Sekolah, Guru, Orang Tua, dan Masyarakat. Katanya, kedepan seorang Kepala sekolah diharapkan totalitas untuk menjadi menjadi Manajer yang Profesional dan menciptakan kultur sekolah yang membentuk karakter semua orang yang ada di sekolah. Salah satu unsur yang berpengaruh dalam membentuk karakter siswa di sekolah adalah Guru. Guru merupakan teladan terbaik bagi siswa. Jika gurunya keras maka siswanya akan keras, jika gurunya baik maka siswanya akan baik pula, dan begitupun sebaliknya. Oleh karena itu, kuncinya adalah merekrut guru yang professional dan meningkatkan kualitas guru agar menjadi professional. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa guru adalah pembuat scenario, sutradara, dan pencipta iklim yang kondusif dalam proses pembelajaran.

 

Baca Juga :


Di akhir seminar, Moderator, saudara Damar Damhuji mencatat beberapa point penting, antara lain: bahwa untuk membangun pendidikan yang karakter dibutuhkan Kepala Dinas yang Visioner dan integritas, guru-guru yang professional, kepala sekolah yang berkualitas, sekolah yang memiliki budaya sekolah, Orang tua yang peduli, dan learning society. Ditambahkan oleh Pak Abdul Barry, bahwa guru adalah episentrum pendidikan dan lebih penting dari kurikulum sekalipun, bahkan guru professional itu adalah kurikulum itu sendiri. Kurikulum itu ibarat menu dan guru adalah peracik menu tersebut agar menjadi special dan enak untuk disantap. Terima kasih SGI Kabupaten Bima atas kepeduliannya terhadap kemajuan pendidikan di Dana Mbojo.

Sumber: Damar Damhuji



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan