logoblog

Cari

Jejak Kelam Bangsa SASAK (Refleksi Hari Pahlawan)

Jejak Kelam Bangsa SASAK (Refleksi Hari Pahlawan)

Devide it inviera atau istilah belah bambu adalah strategi perang yang diperkenalkan kepada masyarakat indonesia semenjak 1667 oleh portugis, yang berbuntut

Pendidikan

Chairil Anwar
Oleh Chairil Anwar
04 November, 2017 08:24:22
Pendidikan
Komentar: 0
Dibaca: 12825 Kali

Devide it inviera atau istilah belah bambu adalah strategi perang yang diperkenalkan kepada masyarakat indonesia semenjak 1667 oleh portugis, yang berbuntut panjang dan sangat membekas dalam teater perpolitikan tanah air dari tingkat yang paling afdhal hingga tingkat yang paling illegal, logaritma scientifik semacam ini adalah bentuk dari tarik ulur kepentingan pelaku politik terhadap ordinat eficentrum kekuasaan yang akan di tukar dengan laba pribadi,kelompok atau golongan tanpa merasa bersalah terhadap masyarakat yang menjadi korban kekerasan.

Kisruh yang mewarnai pentas dan melatar belakangi aksi lapor melapor di kabupaten lombok timur terhadap kriminalisasi politik telah menampar dan memerahkan wajah demokrasi lombok timur yang berselogan gumi patuh karya, nuansa yang mencekam yang mencekik leher rakyat hingga takmampu bersuara nyaring dan lantang atas aspirasi politik mereka adalah determinasi yang nyata terhadap anomali politik yang masih hambar.

Menarik ketika kejadiannya bertepatan dengan awal musim penghujan 2017, sekejap terlintas dalam benak kita ritual yang membudaya dan melekat sangat kuat sebagai identitas masyarakat, pepadu mungkin saja dari keluarga dan trah yang sama harus saling menumpahkan darah sebagai bentuk kesungguhan terhadap sangmaha pengatur alam untuk meminta hujan, mungkinkah apabila konteksnya adalah politik sehingga perang saudara antara warga dan rakyat jelata harus pecah hanya dengan alasan budaya dan dengan tujuan kemakmuran.

Secara akumulatif konteks semacam ini menuntut kesadaran kita secara kolektif untuk tidak mengorek dan mengungkit duka lama sejarah kelam bangsa sasak yang harus rela membunuh dan mengorbankan saudara sendiri hanya untuk kepentingan yang bersifat temporal. Sampai titik ini kenyataan ini harus membangunkan kesadaran kita akan pentingnya pesaudaraan, egaliter dan kebebasan berpendapat, pemahaman kita terhadap konstitusi parlemen dan lembaga peradilan tak harus kita gerus sedimikian jauh hingga melewati batas “KETINDIHAN” sebagai bangsa timur yang berbudaya.

Sekali lagi disi pada faragrap yang terakhir ini kita harus memahmi secara integratif maksud dan tujuan penyelenggaraan Pemilu yang menyedot dana Triliyunan dari “KELOK BOKAH” APBN Kita, uang rakyat adalah amanat rakyat untuk kesejahteraan bukan untuk perang saudara antar jelata dan rakyat miskin kota dan desa, mari kita buang jauh-jauh rasa primordialisme, feodalisme,dan watak jurakan yang selama ini kita banggakan.

 

Baca Juga :


Politik harus kita fahami sebagai sebuah siyasah, rancangan muslihat atau dalam teater wayang adalah aksentris dalang sebagai pelaku utama atau meminjam teori Rudat Donang sebagai perwujudan dari seluruh aktor menyetakan diri sebagai individu yang baru belajar dengan kata lain “Sebab Kami Baru Belajar”.
Bebucu Masjid Nurul Yaqin Jerua
Jumat,03 November 2017
#JELANG HARI PAHLAWAN

 



 
Chairil Anwar

Chairil Anwar

Menjadi tua adalah sebuah kebiasaan, sedangkan menjadi dewasa adalah sebuah pilihan, dari KMKrens untuk NTB yang berdaya saing. HP 087763256047

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2020 | Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan