logoblog

Cari

Tutup Iklan

Bermain Dengan Paragraf

Bermain Dengan Paragraf

Banyak petunjuk-petunjuk tentang menulis yang telah kita peroleh baik pada waktu duduk di bangku sekolah atau ketika kita sedang kuliah. Bahkan

Pendidikan

KM. Sopo Ate
Oleh KM. Sopo Ate
16 Oktober, 2017 07:31:59
Pendidikan
Komentar: 1
Dibaca: 1140 Kali

Banyak petunjuk-petunjuk tentang menulis yang telah kita peroleh baik pada waktu duduk di bangku sekolah atau ketika kita sedang kuliah. Bahkan kita cenderung melahap sampai dikatakan sudah di luar kepala karena dia menjadi bahan untuk menjawab soal yang mungkin dikeluarkan oleh guru atau dosen. Materi  yang akan mengisi otak kita sebagai pengetahuan secara teoritis. Namun sekarang kita hendak keluar dari wilayah teoritiis menuju lahan pratis yang berarti kita harus meninggalkan wilayah teoritis melalui pintu berlatih. Latihan menulis bukanlah wilayah berhantu yang menakutkan, namun kita juga tidak boleh memasang sikap meremehkan.

Kita harus sadar bahwa berlatih itu memahaminya sebagai melakukan pekerjaan yang berulang-ulang. Maka, sikap bosan yang selalu mengintai kita harus dibuang jauh-jauh. Pengetahuan secara teoritis sebagai modal dasar untuk melaju. Kelancaran melaju tergantung pada kelihaian memainkan paragraf yang nota benenya telah kita kuasai. Jika kita mengingat kembali maka kata induktif dan deduktif bukanlah suatu istilah aneh bagi kita. Paragraf induktif dan paragraf deduktif bukanlah bahan baku yang kaku dan menjadi aba-aba harus begini atau begitu. Yang jelas pada saat kegiatan menulis kita lakukan pengetahuan teori itu kita lepas untuk sementara. Otak dan jari tangan yang menyapa huruf-huruf pada stut komputer kita biarkan bergerak melaju lancar, mengalir bagai air dalam selokan irigasi.

Namun demikian, penulis yang baru memasuki dunia tulis menulis ini ingin membagi pengalaman bahwa selain kita dituntut mahir dalam tiknik juga memainkan kemampuan pada level pemaparan paragraf juga tidak bisa dikesampingkan. Pemaparan paragraph yang dimaksud bergandengan erat dengan gaya penulisan. Maka, melalui tulisan singkat ini penulis sajikan sekilas tentang tiknik pemaparan paragraf sebagai berikut:

  1. Paragraf deskriptif, disebut juga paragraf lukisan. Suatu kemampuan penulis untuk menggambarkan suatu obyek secara detail atau lebih rinci. Dengan paragraf deskriptif seorang penulis mampu mengahanyutkan perasaan pembacanya, sehingga mereka seolah-olah turut di dalam peristiwa yang dilukiskan. Tata ruang atau tata letak yang dilukiskan oleh penulis tampak nyata tertangkap panca indra.

Contoh:

Pasar Bertais adalah sebuah pasar yang hampir sempurna. Semua barang ada di sana. Di sebelah utara berderet took-toko sepatu produksi dalam negeri. Kalau kita berbelok ke timur kita akan menemukan barang-barang pecah belah yang tertata rapi di teras took. Apabila kita teruskan perjalanan kea rah timur, took-toko kain dari berbagai jenis dengan kualitasnya masing-masing akan menyambut kita dengan ramah. Setelah itu, kita akan disambut dengan deretan warung-warung kecil penjual nasi. Belum lagi kita harus berdesak-desakan masuk ke dalam pasar untuk membeli daging, telur, dan lain-lain.

2.Paragraf Ekspositoris atau Eksposisi.

Paragraf ini juga disebut paragraph Paparan. Paragraph ini berupaya member penjelasan kepada pembaca tentang suatu gagasan atau pristiwa. Titik fokusnya satu yaitu memberi penjelasan kepada pembaca bagaimana suatu prose situ terjadi. Dengan paragraph ekspositoris, orang menjadi tahu apa yang sebelumnya mereka tidak tahu atau kerang jelas.

Contoh:

Pasar bertais adalah pasar yang lengkap. Tiga puluh kios penjual kain. Setiap hari rata-rata terjual dua puluh meter kain untuk setiap kios. Dari data ini dapat diperkirakan berapa besarnya uang yang masuk ke kas Kodya Mataram dari Pasar ini.

3. Paragraph Argumentasi.

Titik tekan paragraph argumentasi ini adalah kemampuan penulis untuk dapat meyakinkan atau memantapkan pengetahuan pembaca tentang suatu masalah. Oleh sebab itu, penulis harus memberikan alas an-alasan yang kuat yang didukung oleh data atau fakta-fakta.

  •  

Unutk tujuan tersebut di atas, buku ini berguna karena meskipun ditulis hamper semuanya oleh orang asing, tetapi antara lain juga merupakan hasil interaksi mereka dengan berbagai kalangan dari Indonesia seperti dinyatakan Papanak dalam kata pengantarnya. Hal ini bisa mengurangi kemungkinan kekurangan buku ini karena ditulis oleh orang asing, yang mungkin kurang menghayati permasalahan yang sebenarnya, kurang menyadari masalah yang penting dan bukan penting serta hubungan sebab akibat dari permasalahan. Kekurangan lain yang juga diakui oleh para penulis adalah masalah yang berkaitan dengan data, mengenai kelengkapan dan kebenarannya. Namun di samping itu perlu pula dikemukakan sebagai factor plus dari buku ini bahkan banyak kajian yaqng dilakukan dengan membandingkan perkembangan perekonomian Indonesia dengan Negara-negara sedang berkembang. (Kompas, 23 Agustus 1987, dalam modul Lemjuri pelajaran 4 hal: 15-16).

Contoh 2.

Dalam pelajaran matematika, murrid kelas XI IPA mempunyai nilai yang cukup baik. Ihsan mendapat nilai 9, Joni dan Nita mendapat nilai 8, Putu, Arya, dan Iwan mendapat nilai 7. Tidak seorang pun mendapat nilai jelek. Dapat dikatakan bahwa murid kelas XI IPA cukup pintar.

 

Baca Juga :


4. Paragraf Narasi.

Paragraf narasi berupaya menyusun materi tulisan secara urut dari awal hingga akhir. Titik tekan paragraf narasi ini adalah rentetan kejadian berdasarkan waktunya ditata sedemikian rupa sehingga masalah terurai jelas.

Contoh 1.

Azan subuh membangunkan Tukiman, leleki tua yang tinggal di rumah mungil berukuran 3 x 8 meter. Usai mandi dan serapan seadanya, ia mulai mengayuh sepeda mininya kea rah Senayan. Dari rumahnya di daerah Joglo, sekitar waktu 40 menit waktu yang dibutuhkannya untuk menempuh jarak 8 km. tak peduli hujan, setiap pagi ia harua menjalankan itu. “Kalau saya libur, dapur keluarga juga ikut libur dong,” ujar pria berusia 57 tahun. Satu dari sekitar 80 ballboy (pemungut bola) yang bertugas di lapangan tenis Senayan. (Kompas, 23 Agustus 1987).

Contoh 2.

Kini, Sersan Kasim berjalan kembali ke Jawa Barat. Kali ini, jarak Yogya-Priangan harus ditempuh berjalan kaki. Tidak ada truk Belanda yang mengangkut, tidak ada kereta api Republik yang menjemput. Mereka sama sekali berjalan kaki, menempuh jarak lebih dari 300 kilo. Turun lembah, naik gunung, menyeberangi sungai kecil dan besar. Akhirnya, mereka telah tiba kembali di tepian sungai serayu, akan tetapi jauh di hulu, di kaki pegunungan daerah Banjarnegara. Kini tiada jembatan, titian. Mereka harus terjun ke dalam air. (Cerpen Sungai, karya Nugroho Notosusanto, dalam buku berbahasa Indonesia untuk SMA Kelas XI, hal. 174).

Penulis yakin bahwa kita pasti bisa menulis. Kita tinggal menentukan pilihan akan bentuk tulisan yang hendak kita buat. Tulisan fiksi atau non fiksi. Jika kita memilih tulisan fiksi, maka selanjutnya dia berbentuk cerpen atau novel. Kedua jenis tulisan ini tak jauh berbeda. Jika cerpen karangan yang pendek dan novel adalah karangan fiktif yang panjang. Tetapi pendek dan juga panjangnya tidak memiliki standar ukuran yang baku. Gerak laju kedua tulisan itu sangat tergantung kemampuan pengarangnya dalam hal berimajinasi. Di sinilah kreativitas penulisnya teruji, karena tulisan fiksi lahir dari realita yang ada disuatu wilayah tertentu.

Berbeda dengan tulisan non fiksi. Tulisan ini berangkat dengan fakta lapangan. Sebagai sebuah fakta, maka data menjadi bahan tulisan nomor satu. Bahan tulisan berupa data tersebut tidak terlalu sulit untuk diperoleh. Penelitian lapangan atau melalui kajian pustaka sebagai referansi untuk menulis. Biasanya tulisan ini tergolong serius dan formal, harus dibuat sesuai petunjuk yang telah baku.

Namun demikian, banyak jenis tulisan yang lain sebagai lahan untuk berlatih menulis, misalnya artikel, opini, dan lain-lain. Kedua jenis tulisan itu tidak terlalu berat, namun bukan pula tergolong tulisan yang dapat dipandang sebelah mata. Tulisan mampu mengoncang dunia. Sebagaimana dicontohkan oleh R.A.Kartini, tokoh wanita kita yang legendaris sepanjang masa atau proklamator kita Muhammad Hatta dengan kawan-kawannya

yang mampu membingungkan pihak penjajah dengan kekuatan tulisan. Tulisan adalah nuklir dunia yang tak pernah mati. Jadi, kesuburan terjaga karena tulisan, kekeringan terjadi juga karena tulisan.

Karena itu, penulis pun yang merangkai paragraf-paragraf tulisan ini adalah bagian kecil dari upaya melertarikan budaya tulis. Sejurus makna dalam benak bahwa menulis itu hanya berkutak-katik pada kemampuan merangkai paragraf. Banyak yang sudah ahli menulis, ada yang sedang menulis, ada pula yang mengisi waktu luangnya dengan belajar menulis, termasuk penulis sendiri. Andai ada orang lain yang mengikuti itu bukan mengajak, tetapi dia adalah sebuah magnit kecil untuk merakit ion-ion yang masih bertebaran. (a.jafar)



 
KM. Sopo Ate

KM. Sopo Ate

Sekretariat KM. Sopo Ate di Dusun Petak Desa Kopang Rembiga Kec. Kopang Lombok Tengah. Ketua :Abd. jafar m.nur: Anggota : L. Agus Jamaludin, Lily, Siti Nur, Asmul Hidayah. No. Hp. 081917290855

Artikel Terkait

1 KOMENTAR

  1. Pangkat Ali

    Pangkat Ali

    18 Oktober, 2017

    Manthabbb, tulisan pndidikan memang pakarnya.....


 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2017 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan