logoblog

Cari

Tutup Iklan

Chang Dong, Peluang Replikasi di Daerah

Chang Dong, Peluang Replikasi di Daerah

  Kunjungan ke Desa Chang atau Chang-dong mengawali kegiatan Tim 9 Top Inovasi Nasional di Korea Selatan. Desa ini berhasi memenangkan United

Pendidikan

fairuz abadi
Oleh fairuz abadi
12 Mei, 2016 23:06:58
Pendidikan
Komentar: 8
Dibaca: 8993 Kali

 

Kunjungan ke Desa Chang atau Chang-dong mengawali kegiatan Tim 9 Top Inovasi Nasional di Korea Selatan. Desa ini berhasi memenangkan United Nation Public Service Award (UNPSA) 2014 – Penghargaan Pelayanan Publik Dunia yang diselenggarakan PBB. Bagaimana desa ini bisa menjadi perhatian dunia dan bagaimana peluang replikasi di derah?

Kereta cepat Korea Train eXpress disingkat KTX membawa 18 peserta yang dikomandani Asdep Koordinasi Pelaksanaan, Pemantauan, dan Evaluasi Pelayanan Publik III KemenPANRB Damayani Tyastianti menuju Changwon. Sebuah kota di Korea Selatan, ibu kota provinsi Gyeongsang Selatan atau Gyeongsangnam-do. Kereta cepat ini hasil produksi masyarakat korea

Diterima oleh Park Jay Hyun, First Deputy Mayor Changwon City Hall dan langsung menjelaskan tentang gambaran umum Changwon. Selanjutnya penjelasan tehnis mengenai Chang Dong sebagai desa percontohan yang kemudian menang dalam UNPSA dijelaskan oleh Human Resources & Organization Division Manager Jin Jong Sang.

Jin Jong Sang menjelaskan perjuangan Chang Dong dalam memperoleh penghargaan dunia bidang pelayanan public tak lepas dari semangat pemerintah dan masyarakat Changwon yang ingin dikenal dunia. “Alasan utama kami adalah agar Changwon dikenal dunia.” Jelas Jong Sang bersemangat.

Semangat ini yang mendorong pemerintah Changwon menemukan Chang Dong sebagai desa percontohan untuk kemudian menghadirkan sejumlah program peningkatan kapasitas masyarakat dan ekonomi kreatif.

Seperti halnya di Indonesia, Chang Dong yang sebelumnya padat kumuh dan miskin atau istilah di Kota Mataram NTB adalah PAKUMIS, kini menjadi tertata rapi, potensi warga yang banyak terlibat seni dan perdagangan difasilitasi pemerintah Changwon dan ahirnya desa lainpun mengikuti.

Mengelilingi Desa Chang seperti juga melihat beberapa kota di Indonesia. Ada beberapa kemiripan seperti tata ruang pemukiman dengan lorong-lorong sempit seukuran dua sepeda motor berpapasan yang menghubungkan pemukiman warga.

“Semisal daerah Braga dan Dago di Bandung Jawa Barat lah” Kata Andy dari Bappeda Jabar membandingkan penataan lingkungannya.

“Ya, di NTB juga banyak desa yang berpotensi dijadikan percontohan untuk diikutsertakan lomba ditingkat dunia.” Tambah Agung Hartono.

 

Baca Juga :


Berkeliling menyusuri lorong demi lorong di Changdong menyimpan sejumlah inspirasi yang berpeluang direplikasikan di daerah. Rumah tinggal dijadikan Artshop bagi pengrajinnya. Beragam karya seni ditampilkan dibalik kaca setiap rumah. Hasil buah tangan warga.

Ada juga ruang expressi warga berupa gedung seni dan panggung hiburan tempat warga mengapresiasi seni. Saat melintas di salah satu lorong, ada area terbuka sebagai tempat pentas seni warga.

Di semua dindingnya dimanfaatkan sebagai ruang informasi tentang Chang Dong melalui sejumlah foto dan info tertulis lainnya. Informasi itu menggambarkan Chang Dong sebelum perubahan hingga kondisi sekarang. Bahkan di beberapa dinding rumah warga menempel sejumlah foto dari tokoh-tokoh pendiri desa.

Dokumen visual inilah yang menjadi salah satu alasan perolehan penghargaan pelayanan publik dunia selain gerakan pemberdayaan masyarakat dan lainnya.

Kunjungan mengelilingi Chang Dong berakhir di ujung desa. Perubahan wajah desa terlihat dari penataan ruang terbuka hijau yang asri. Para pejalan kakai dan pesepeda sangat menikmati kebebasannya menggunakan jalur yang ada disepanjang trotoar. Bangunan stasiun kereta tua diperindah dengan goresan mural tangan terampil warga. Meski rel kereta sudah tak berfungsi sebagai lintasan, namun tetap terawatt indah dipandang mata.

Hawa dingin Kota Changwon mulai terasa menjelang matahari tenggelam. Jamuan makan malam dari pemerintah Changwon menutup perjalanan awal di Korea Selatan.

Hidangan menu masakannya banyak yang mirip dengan lidah dan selera Indonesia. Nasi putih yang gurih, ikan laut dengan bmbu rempah sedikit pedas yang menghangatkan badan ditambah sayuran mentah ala lalapan Indonesia menghiasi meja panjang bergaya “saprah” bagi kebanyakan orang sasak Lombok yang kemudian dinikmati dengan “begibung” atau dimakan bersama menggunakan sumpit. [] -03



 
fairuz abadi

fairuz abadi

kepala kampung media ntb - sampaikan informasi bermanfaat meski satu kalimat. email : fairuz.kampung@gmail.com

Artikel Terkait

8 KOMENTAR

  1. KM JONG CELEBES

    KM JONG CELEBES

    13 Mei, 2016

    Ketenaran Desa Chan Dong tentu tidak terlepas dari peran media sosial. Sekarang saya kenal Desa Chan Dong Karena media Kampung media. Untuk pengembangan wilayah NTB pun juga akan terkenal jika peran media sosial seperti kampung media tetap EXIS.


  • Abdul Azis

    Abdul Azis

    05 November, 2014

    semoga Kampung-media mampu meraih prestasi yang terbaik. dan NTB mampu bersikap seperti chang dong oleh kampung media. (Indonesia bila perlu)


  • KM. Sambang Kampung

    KM. Sambang Kampung

    04 November, 2014

    Semoga di NTB terjadi perubahan sikap dan prilaku masyarakat sehingga mampu seperti di Korea Selatan


  • Fahrurizki

    Fahrurizki

    04 November, 2014

    korea sangat menjaga budaya mereka, bukan fasilitas maupun tekhnologi yg membuat majunya suatu daerah, tapi kesadaran masyarakatnya yg tinggi..


  • KM Bolo

    KM Bolo

    04 November, 2014

    Meskipun masih kurangx dukungan fasilitas moderen seperti yg digambarkan dlm tulisan tersebut, tetapi semestinya kita tak perlu kalah saing, karena memang di sejumlah desa di NTB memiliki sesuatu yg mungkin belum dimiliki oleh desa Cang-Dong, di korea selatan. Artinya, dg kesederhanaan serta didukung kesadaran kita utk membangun serta menunjukkan kemampuan dan kreatifitas masyarakat yang kemudian kita suguhkan secara tradisional, mungkin akan lebih tinggi nilainya dibanding di desa Cang-Dong-KORSEL. Ini mungkin yg terpenting....


    1. fairuz abadi

      fairuz abadi

      04 November, 2014

      Kemenangan Chang Dong tahun 2014 bukan persoalan Fasilitas, namun pada kemauan warga yang berubah dan didukung kemauan pemerintah yang serius kemudian diikuti oleh sejumlah desa lainnya. Pemenang Pelayanan Pubim 2013 adalah Kamerun dengan Program SANITASI.... jadi bukan soal modernitas tapi kesadaran masyarakat dan pemerintah untuk MAU BERUBAH


  • KM LENGGE

    KM LENGGE

    04 November, 2014

    SEPERTI DESA-DESA DI NTB BANYAK YANG BISA DIKUTKAN DI LOMBA PELAYANAN DUNIA PAK FAIRUZ..... KARENA KARAKTERISTIK DESA KITA DI NTB ADALAH BENAR-BENAR DESA YG BELUM MEMILIKI FASILITAS MODERN SPERTI DESA Desa Chang atau Chang-dong DI KOREA SELATAN. KALAU DI IKUTKAN DESA DI NTB AKAN DISUGUHI BENAR-BENAR ALAM DESA DENGAN BUDAYA MASYARAKAT YG MASIH TRADISIONAL.....TAPI KALAU MASALAH GOTONG ROYONG DAN PEMBERDAYAAN KITA INDONESIA NOMOR 1 DI DUNIA PAK.... PENASARAN CERITA SELNAJUTNYA.


    1. fairuz abadi

      fairuz abadi

      04 November, 2014

      Ya benar... bedanya adalah Interfensi pemerintah pada satu objek/desa benar2 tuntas..... jika kita bisa demikian kemungkinan semua desa di Kabupaten/Kota akan juara dunia... hahahaha....


  •  
     

    TULIS KOMENTAR

    Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.