logoblog

Cari

Tutup Iklan

Fakta pendidikan

Fakta pendidikan

PENDIDIKAN adalah upaya memanusiakan manusia, dijalankan oleh orang-orang yang sadar untuk orang-orang yang belum sadar. Memberikan penyadaran kepada orang yang belum

Pendidikan

Muhammad Yakub
Oleh Muhammad Yakub
13 November, 2015 13:33:23
Pendidikan
Komentar: 0
Dibaca: 3239 Kali

PENDIDIKAN adalah upaya memanusiakan manusia, dijalankan oleh orang-orang yang sadar untuk orang-orang yang belum sadar. Memberikan penyadaran kepada orang yang belum sadar adalah hal utama dilakukan oleh mereka selaku pendidik dalam membangun perubahan serta meningkatkan pertumbuhan SDM. System pendidikan yang keliru akan menjebak setiap pendidik dalam mewujudkan hasil/output pendidikan itu sendiri, sehingga peserta didik yang direncanakan dijadikan manusia seutuhnya lahir tidak sempurna disebakan pendidik yang belum sempurna dilahirkan oleh pendidik sebelumnya, “profesionalisme guru”…….(?)

Bagaimana dengan system pendidikan di Indonesia (?). Melihat pertanyaan ini, penulis akhirnya teringat dengan pendapat salah seorang tokoh di Nusa Tenggara Barat, yakni Fairuzzabadi atau yang akrab disapa “abu macel”. Dikatakannya bahwa pendidikan formal di Indonesia selama ini berjalan mulus, namun hanya diterapkan melalui ruang-ruang, “banyangkan sejak kita duduk di bangku sekolah dasar (SD) s/d bangku kuliyah kita terdiddik di ruang-ruang kelas oleh guru dan dosen kita”. Anehnya dengan system yang seperti itu, proses pendidikan dinilai hanya mampu melahirkan orang-orang yang hanya berani mengandalkan Ijazah, “banyak orang setelah keluar dari kampus bermodal Ijazah mereka sibuk mencari ruang-ruang pekerjaan, sedikit dari mereka yang pada akhirnya berani membuka lapangan kerja untu dirinya sendiri atau untuk orang lain”.

Hal demikian adalah sebuah fakta, banyak diantara mereka yang kini sudah meraih gelar seorang sarjana terpaksa mereka GEGANA atas situasi dan kondisi di negrinya sendiri. Ya….Indonesia yang dikenal Negara besar, namun masih belum mampu mewujudkan serta memenuhi harapan-harapan besar bagi rakyatnya.

Negara melalui pemerintahan yang ada semestinya memperhatikan dan memberikian solusi atas fakta yang dialami para sarjan di negri ini, banyak diantara mereka tergolong penggangguran terdidik, tidak memiliki akses untuk bekerja selayaknya mereka orang terdidik karena lapangan pekerjaan disiapkan Negara ini jumlahnya terbatas, di sisi lain karena mereka tidak memiliki mentalitas tersendiri dalam membuka lapangan kerja untuk dirinya dan orang lain.

Seorang sarjana baik yang tinggal di kota ataupun di desa, mereka sama-sama mengeluh soal lapangan kerja disipakan Negara ini yang jumlahnya terbatas. Seorang sarjana yang ada di desa/kampung mereka kesulitan masuk diterima kerja ke kota, sebaliknya sarjana yang dari kota masuk ke desa terkadang begitu mudah. Ada apa sebetulnya dalam system pendidikan kita sehingga harus membedakan mereka yang tinggal di kota dan di desa, padahal latar belakang mereka sama, bahkan kualitasnya juga sama, mereka rata-rata keluar dari lembaga pendidikan swasta dan negeri yang ada di masing-masing daerah.

Ada yang menarik bilamana kita bicara soal pendidikan swasta dan pendidkkan negeri. Berdasarkan hasil diskusi-kajian penulis dengan abu macel beberapa minggu lalu saat “betemoe” di kediamannya, lalu abu macel menyebutkan bahwa “yang berkontribusi besar di Negara ini adalah orang-orang yang lahir dari pendidikan swasta”. Penegasan dari pendapat ini adalah kita bisa lihat bagaimana mereka; pedagang di pasar, tukang ojek, buruh kasar yang sedang “meroyek” di proyek pembangunan gedung besar di kota-kota, mereka adalah orang-orang swasta yang rata-rata terlahir dari pendidikan swasta.

Berbeda dengan orang-orang yang terlahir dari pendidikan negeri, disebutkan juga bahwa tidak sedikit dari oknum para pejabat daerah yang keluyuran malam “nyurak” di tempat-tempat karaokean, tidak sedikit anak pejabat yang masih suka menganggu ketertiban lalu lintas dengan “trek-trekan” dengan speda motor mewahnnya. Bahkan tempat-tempat tongkrongan malam, seperti di Udayana Mataram, juga di tempat-tempat tongkrongan yang terdapat di daerah lain, mereka secara mayoritas adalah anak-anak pejabat yang atau anak-anak yang tergolong mampu di negeri ini.

 

Baca Juga :


Seberapa besar kontribusi para petani yang ada di desa-desa dalam menyiapkan kebutuhan pangan untuk negeri ini, seberapa besar kontribusi para tukang parkir dalam menambah pajak serta mengurangi kasus curarmor di negeri ini, seberapa besar kontibusi buruh kasar yang selama ini rela meninggalkan sanak kelurganya untuk pergi “meroyek” di proyek-proyek bangunan besar yang ada di permukiman kota, seberapa besar kontribusi Pedagang Kaki Lima (PKL) serta para pedagang di pasar dalam mempertahankan serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi di negeri ini…?

Selama ini mungkin mereka tak pernah diperhitungkan, atau bisa jadi sedang dipikirkan oleh pemerintah, namun pihak-pihak pejabat pemerintahan belum tau caranya karena rata-rata mereka terlahir dari sekolah-sekolah Mahal yang dulunya hanya mengandalkan ijazah untuk bisa bekerja sebagai pejabat di Negara ini.

Tukan ojek bila disuruh menjadi anggota DPR atau Bupati, Wali Kota Bahkan seorang Gubernur, maka mereka pasti mau dan berani. Tetapi sebailiknya, bila seorang anak pejabat, atau seorang pejabat daerah (PNS) disuruh mengganti tugas tukang ojek atau tugas juru parkir, pasti mereka tidak akan pernah mau, apalagi berani. Lalu kemudian apa yang dimaksud dengan istilah “pelayan” bagi mereka yang saat ini duduk sebagai anggota DPR (legislative), Bupati-Wali Kota (eksekutif) serta pejabat-pejabat Negara lainnya, seperti yang ada di lembaga yudikatif (?).

Itulah mentalitas warga negara yang selama ini terlahir dari sejumlah lembaga pendidikan yang ada, dan bila disdari bahwa “keberanian dan sikap pantang menyerah” hanyalah dapat kita lihat pada orang-orang swasta, juga lahir dari sekolah-sekolah/atau perguruan tinggi swasta yang ada. [] - 05



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan