logoblog

Cari

Tutup Iklan

:: SEBUAH PESAN DARI KEJADIAN UNTUK MASA ::

:: SEBUAH PESAN DARI KEJADIAN UNTUK MASA ::

Hari Senin, 19 Oktober 2015 yang lalu saya menerima pesanan buku dari salah satu penulis di Bima, yaitu Bang Alan Malingi.

Pendidikan

Khairunnisah
Oleh Khairunnisah
22 Oktober, 2015 08:42:31
Pendidikan
Komentar: 0
Dibaca: 20689 Kali

Hari Senin, 19 Oktober 2015 yang lalu saya menerima pesanan buku dari salah satu penulis di Bima, yaitu Bang Alan Malingi. Beliau adalah salah satu sastrawan yang kerap menulis tentang sejarah, kebudayaan dan kesenian Bima. Buku yang saat itu saya terima judulnya adalah Bunga Rampai Legenda Tanah Bima dan Novel Wadu Ntanda Rahi.

 

Setelah buku tersebut saya terima, saya membawa buku itu ke sekolah karena beberapa eksemplar buku Bunga Rampai Legenda Tanah Bima adalah buku khusus yang saya pesan untuk perpustakaan di tempat saya mengajar, SD Integral Luqman AlHakim Kota Bima. Mengapa saya memesan buku itu? karena buku tersebut bisa dijadikan penunjang untuk pembelajaran. Beberapa diantaranya adalah pelajaran Muatan Lokal, khususnya Sejarah Bima. Selain itu buku ini juga bisa menjadi salah satu referensi untuk pelajaran Tematik di kelas 4 yaitu tentang keanekaragaman budaya dan kekayaan Indonesia berupa cerita rakyat. Jangan sampai anak- anak hanya mengenal cerita rakyat tentang Malin Kundang dari Sumatera Barat, Sangkuriang dari Jawa Barat dan lain- lain. Padahal di Provinsi Nusa Tenggara Barat sendiri, khususnya Bima juga memiliki cerita rakyat yang seharusnya juga diketahui oleh para pelajar Bima khususnya.

Buku tersebut berisi beberapa cerita rakyat Bima yang jarang sekali diangkat ke permukaan. Beberapa cerita diantaranya memang sering didengar dari mulut- ke mulut. Tapi untuk cerita dalam bentuk tulisan masih jarang sekali ditemui. Hal ini menjadi keprihatinan saya. Ada sedikit ketakutan bahwa cerita- cerita rakyat Bima tidak dikenal oleh rakyatnya sendiri, khususnya anak- anak Bima. Padahal cerita- cerita tersebut mengandung pesan moral dan nilai- nilai luhur tentang Bima masa lampau. Kenyataannya, masih jarang sekali literatur maupun buku- buku yang menuturkan tentang kisah itu. Buku- buku tentang Bima yang beredar di kalangan anak- anak pun hanya sebatas buku pelajaran Muatan Lokal yang dari jaman saya SD (tahun 90-an) masih dipakai sampai sekarang. Itupun dalam wujud “Fotokopian”. Dengan tahun terbitnya yang juga tertulis dalam angka 90-an. Hanya itu. Bagaimana anak- anak bisa tertarik dengan cerita dan kisah jika bukunya saja masih seperti itu? Fotokopian pula. Entah kenapa buku- buku Muatan Lokal itu tidak lagi diproduksi secara massal, dengan cover yang menarik minat anak untuk belajar.

Kembali ke buku Bunga Rampai Legenda Tanah Bima (Saya tidak membahas tentang novel Wadu Ntanda Rahi karena fokus ke buku yang saya pesan untuk sekolah saja), ada beberapa cerita dalam buku tersebut yang diceritakan oleh sejarahwan dan budayawan Bima. Salah satunya cerita yang berjudul “Lopi Penge”. Kisah ini diperoleh dari cerita yang dikisahkan oleh Alm. M. Hilir Ismail. Beliau adalah salah satu sejarahwan dan budayawan Bima yang juga banyak menulis buku- buku tentang sejarah dan beberapa buku Muatan Lokal untuk siswa sekolah dasar dan menengah. Buku pertama yang beliau tulis adalah Peran Kesultanan Bima dalam Perjalanan Sejarah Nusantara. Buku lainnya berjudul Kebangkitan Islam di Dana Mbojo dan masih banyak lagi.

 

Ketika saya membaca nama beliau di akhir cerita Lopi Penge. Saya jadi teringat dengan almarhum. Beliau biasa saya sapa dengan sebutan Muma. Anak perempuan beliau adalah teman baik saya. Saat itu saya jadi terpikir untuk bersilaturrahim ke rumah almarhum. Tujuannya adalah mencari lebih banyak lagi referensi- referensi kisah dan cerita yang beliau tulis dan belum sempat dibukukan karena beliau lebih dulu menghadap-Nya. Walaupun tidak bisa bertemu langsung dengan alm. Muma, paling tidak masih ada istri dan anaknya yang bisa saya ajak ngobrol. Satu yang saya yakini saat itu, beliau pasti punya banyak cerita lagi selain cerita tentang Lopi Penge.

Sepulang sekolah akhirnya saya memutuskan untuk menyambangi kediaman beliau di Rabangodu Kota Bima. Disana saya disambut hangat oleh istri almarhum, Ibu Siti Linda Yuliarti. Bagi yang sering terlibat dengan kesenian tari adat Bima insyaAllah mengenal sosok tersebut karena beliau adalah salah satu pendiri Sanggar Tari Paju Monca Bima. Ketika tiba di rumah Muma, saya diajak untuk melihat beberapa dokumen- dokumen milik Muma. Sontak saya kaget, karena dokumen- dokumen tersebut banyak sekali dan beberapa diantaranya adalah dokumen tentang cerita, kisah dan tulisan- tulisan Muma tentang sejarah, seni dan budaya Bima. Namun sayangnya dokumen- dokumen tersebut tidak sempat dijadikan buku. Padahal banyak karya almarhum yang juga berupa cerita nonfiksi untuk siswa- siswi SD.

Dalam cerita- cerita tersebut, beliau sengaja menamai tokoh- tokohnya dengan nama anak- anaknya. Termasuk nama lengkap teman saya itu. Teman saya pernah cerita, ketika ia membaca kembali tulisan- tulisan ayahnya, ia sangat terkesan dan terharu karena tulisan- tulisan itu bisa mengingatkannya kembali dengan nilai -nilai dan pesan moral yang pernah disampaikan oleh ayahnya. Pesan dan nilai yang sarat dengan nilai luhur Dana Mbojo kala itu. Oh ya, Alm. Muma Hilir selain menjadi sejarahwan juga pernah dipercaya menjadi Kepala Museum Asi Mbojo selama bertahun- tahun. Bahkan beliau juga termasuk orang yang intens berhubungan dan berkomunikasidengan Sultan Bima ke-15, Sultan Abdul Kahir II (Ruma Mone). Jadi, almarhum Muma faham betul bagaimana seluk beluk Bima, kerajaan dan kesultanan Bima. Sehingga tulisan- tulisannya pun berasal dari sumber yang bisa dipertanggungjawabkan.

Kembali ke masalah sekolah. Ada satu kekecewaan yang saya rasakan ketika melihat dokumen- dokumen tersebut. Kekecewaan itu karena buku maupun cerita. Tapi karena KURIKULUM. Entah mengapa saya merasa pengembangan kurikulum Muatan Lokal di Bima ini kurang mendapat perhatian. Bahkan mungkin bisa dibilang tidak diperhatikan. Memang, kurikulum yang dipakai saat ini mengacu pada kurikulum KTSP, tetapi yang bermasalah adalah pengembangannya. Mulai dari pembelajaran, kapasitas guru, buku referensi, sumber belajar dan lain- lain.

1. Pembelajaran

Proses pembelajaran Muatan Lokal menurut pengamatan saya selama ini masih sebatas proses belajar tradisional. Biasanya dengan metode ceramah. Tidak jarang guru memberikan catatan untuk disalin di buku masing- masing anak. Kemudian pada saat ulangan catatan tersebut baru dibuka kembali. Biasanya muatan yang menggunakan metode ini adalah pelajaran Sejarah Bima. Padahal konten sejarah Bima sangatlah luas. Tidak cukup dipahami hanya dengan metode ceramah dan tanya jawab saja. Perlu ada proses belajar yang lebih variatif dan menyenangkan sehingga anak- anak tertarik mempelajari sejarah daerahnya sendiri. Bukan saja mempelajari karena tuntutan pelajaran sekolah, tapi memaknainya lebih dari itu. Sebagai wujud mencintai tanah kelahiran maupun tempat tinggalnya.

2. Kapasitas guru

Entah mengapa saya agak miris melihat banyak guru Muatan Lokal yang hanya menguasai metode pembelajaran dengan cara ceramah dan tanya- jawab. Datang masuk kelas, memberikan catatan dengan cara CBSA (Catat Buku Sampai Abis). Sesekali gurunya pergi entah kemana lalu kembali tinggal memeriksa buku catatannya sudah lengkap atau belum. Bagaimana mau menanamkan nilai- nilai kearifan lokal jika proses pembelajaran masih seperti itu. Belum lagi bicara Sejarah. Entah sejauh apa guru- guru Muatan lokal memahami dan menguasai materi tentang sejarah Bima, nilai -nilai historisnya dan lain- lain. Belum lagi bicara tentang Seni Budaya Daerah, Keterampilan Khas Daerah, maupun Bahasa Daerah. Banyak kompetensi dan keahlian yang seharusnya dikuasai oleh para guru pengampu pelajaran Muatan Lokal. Melihat saat ini banyak putera dan puteri daerah yang kurang memaknai nilai- nilai “Kebimaan” dalam arti yang dalam. Satu pertanyaan saya tentang hal itu, Bagaimanakah kualitas guru Muatan Lokalnya?.

3. Buku dan Sumber Belajar

 

Baca Juga :


Seperti yang saya ulas di awal tulisan ini, masih banyak buku- buku yang tidak diketahui oleh para generasi Bima. Kisah- kisah fiksi maupun nonfiksi, referensi sejarah, sosial maupun budaya Bima. Buku- buku tersebut memang ada. Tapi tidak beredar di kalangan anak sekolah. Hanya dimiliki oleh para pecinta buku, penikmat sejarah maupun para peneliti. Betapa sering saya mendengar dan menyaksikan orang- orang yang membaca buku- buku tentang Bima (bukan anak sekolah) merasa takjub dengan semua hal tentang Bima. Ada banyak nilai yang dapat dipetik dan diamalkan dalam kehidupan sehari- hari serta dapat memberikan pemahaman yang baik tentang daerahnya.

Namun sayang, itu hanya dirasakan oleh mereka- mereka selain anak sekolah. Selain generasi penerus yang saat ini duduk di bangku sekolah dasar dan menengah. Padahal, generasi- generasi inilah yang seharusnya diberikan asupan “gizi” tentang kebimaan dengan lebih serius dan perhatian lebih. Mengingat moral pelajar dan generasi Bima saat ini sudah sangat jauh dari nilai- nilai kebimaan yang dimiliki oleh Bima masa lampau. Bahasa sederhana saya, “Sejarah aja nggak paham gimana mau amalin nilai kebimaan?”.

Beberapa waktu yang lalu saya dan siswa- siswi SD Integral Luqman Al Hakim pernah berkeliling ke beberapa tempat peninggalan sejarah dan cagar budaya Bima. Salah satunya adalah lingkungan Museum Asi Mbojo, Masjid Sultan Muhammad Salahuddin, dan Makam Keluarga Kesultanan Bima. Satu hal yang membuat saya kembali kecewa adalah betapa tempat- tempat tersebut sangat jauh dari perhatian. Satu contoh, di lingkungan Istana Bima saat sebelum diadakan kegiatan Festival Keraton Nusantara (FKN) IX, belum ada satu pun kamar kecil atau toilet di sekitar lingkungan tersebut. Hanya ada sumur tua yang kalau dilihat tidak pantas untuk dibilang “Sumur Istana”.

Belum lagi saat masuk ke dalam museum. Ruangan di dalam sana banyak sekali yang kosong. Benda- benada sejarah pun tidak banyak yang disimpan disitu. Hanya ada pajangan- pajangan foto yang menjelaskan tentang beberapa peristiwa sejarah masa lampau.

Selain lingkungan Asi Mbojo, lingkungan pemakaman keluarga sultan juga tidak kalah mirisnya. Beberapa diantaranya adalah nisan makam beberapa sultan sudah tidak terurus. Bayangkan saja, penanda makam sultan hanya di tulis di atas papan kayu sederhana yang di cat putih. Itu pun papan kayu itu tergeletak di tanah. Batu- batu yang penuh ukiran pun sudah banyak yang hancur. Beberapa makam malah tidak diketahui identitasnya. Hal ini menunjukkan betapa perhatian kita terhadap “Muatan Lokal” sangat- sangat kurang. Di daerah Kota Bima saja perawatannya kurang, apalgi di daerah- daerah pelosok di Kbaupaten Bima sana. Mungkin bnayak peninggalan sejarah yang sudah tidak terawat.

Mengapa hal ini bermasalah? karena tempat- tempat peninggalan sejarah tersebut merupan sumber belajar yang tidak kalah penting dalam pelajaran Muatan Lokal. Coba kita bandingkan dengan daerah di Jawa sana. Masyarakatnya masih sangat menjaga dan merawat peninggalan sejarahnya dengan baik. Sehingga generasi yang ingin mempelajarinya bisa menemukan sumber yang baik pula.

Dari ketiga hal di atas, dapat saya simpulkan bahwa pembelajaran dan pengembangan Muatan Lokal serta hal- hal tentang kebimaan harus mendapat perhatian yang serius. Jangan sampai generasi Bima tidak mengenal, memahami dan memaknai kearifan daerahnya sendiri. Jangan pula sampai BUTA tak bisa menemukan “siapa” daerahnya.

Ya, ini PR kita semua. Ada banyak hal yang mulai harus kita perhatikan. Terutama bagi para pemerhati Bima dan semua isinya. Saya yakin, banyak diantara kita yang ingin sekali Bima ini bisa lebih maju semua masanya. Masa lalunya, Masa di hari ini dan Masa Depan. Ingin agar nilai- nilai dan pesan moral kebimaan tetap dipegang teguh oleh Dou Mbojo (Orang Bima). Siapapun, dimanapun dan kapanpun itu. Salah satu cara untuk itu adalah, “Antarkan Bima Hingga Sampai kepada Para Generasi Penerusnya”.

-9-

*terinspirasi saat dapat kiriman buku, jalan- jalan silaturrahim dan lihat anak- anak di sekolah... barakallah semesta... semoga Dou Labo Dana Mbojo hari esok lebih baik dari hari ini dan hari kemarin...aamiin...*

 

 

 

 

 

 

 

 



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan