logoblog

Cari

Tutup Iklan

“Kurikulum 2013” Antara Bekerja dan Wirausaha

“Kurikulum 2013” Antara Bekerja dan Wirausaha

Pendidikan kita hari ini mulai amburadul, laksamana bnang kusut yang melilit yang tak tahu dimana ujung dan akhirnya. Terbukti dengan pernyataan

Pendidikan

Saofa Meliana bapadal
Oleh Saofa Meliana bapadal
10 Desember, 2014 20:08:36
Pendidikan
Komentar: 0
Dibaca: 3162 Kali

Pendidikan kita hari ini mulai amburadul, laksamana bnang kusut yang melilit yang tak tahu dimana ujung dan akhirnya. Terbukti dengan pernyataan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Anis Baswedan yang memberhentikan untuk sementara Kurikulum 2013. Dengan sikap pemerintah seperti ini tentunya akan menjadi buah bibir masyarakat awam terhadap ke inskonsistensi pemerintah kita hari ini. Pendapat ini terlontar dikarenakan pemerintah belum menemukan kemana arah pendidikan Indonesia akan dibawa. Ma¬sih hangatnya topik pergantian kuri¬kulum di telinga kita dengan berbagai macam alasan dan pertimbangan. Per¬gan¬tian ini sejalan dengan pergantian menteri atau periode kepemimpinan presiden baru tanpa memperhatikan dampak bagi masyarakat. Celakanya lagi pemberhentian kurikulum yang terjadi tanpa melalui need analysis dan policy analysis, sehingga ada ketimpangan-ketimpangan pada saat pelaksanaan dilapangan. Jika berkaca pada tujuan pendidikan yang sudah dirumuskan dalam Undang-Undang No. 20, Tahun 2003. Pasal 3 menyebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” Mencermati tujuan pendidikan di Negara kita ini yang sudah dirumuskan begitu mendetail tentunya tergambar pada wajah kurikulum yang didalamnya terdapat kemampuan kecerdasan intelektual, spiritual dan emosional peserta didik. Selain tiga kecerdasan ini sebagai peserta didik juga perlu mengedepankan kompetensi dari masing-masing individu. Ini yang dalam kurikulum pendidikan Indonesia belum mampu di realisasikan. Jika sama-sama kita coba pahami pendidikan nasional yang sudah diru¬mus¬kan akan tergambar pada kurikulum yang akan bermuara kepada kompetensi yang didalamnya sudah tergambar kemampuan kecerdasan (Intlektual), sikap mental (spiritual) dan keterampilan kerja (emosional) yang sejalan dengan tujuan pendidikan na¬sio¬nal. Sehingga kompetensi menjadi suatu hal yang sangat penting baik disekolah maupun di perguruan tinggi. Melalui kompetensi inilah anak memiliki bekal untuk dapat bertahan di tengah mas¬ya¬rakat. Sehingga sama-sama bisa kita maknai kurikulum yang dibuat mem¬per¬siapkan siswa atau mahasiswa untuk bekerja. Hal ini sejalan dengan prinsip pendidikan kejuruan yaitu mem¬per¬sipakan orang untuk bekerja. Namun kenyataan yang ditemukan di masyarakat masih juga banyak ditemukan lulusan yang tidak bekerja dan tidak dapat pekerjaan, tidak terkecuali pada jenjang pendidikan SMK, Politeknik, maupun pada Fakultas Teknik di setiap Universitas. Melihat dari perspektif mahasiswa, lulusan sarjana kita hari ini belum mampu langsung terjun ke dunia kerja akibat dari kompetensi lulusan yang tidak dimiliki. Kondisi yang terjadi ini dikenal dimasyarakat dengan istilah pengangguran terdidik, yang jumlahnya dari tahun ke tahun semakin bertambah. Ini tentunya akan menjadi penyakit dan pandangan yang sangat tidak enak untuk dilihat mengingat pengangguran ini adalah orang-orang yang menyandang gelar sebgai seorang sarjana, dan sudah tentu pe¬ngang¬gu¬ran akan menimbulkan pandangan negatif dimasyarakat, bertambahnya tingkat kriminalitas membuat keamanan didaerah tersebut menjadi rawan. Dengan apa yang terjadi di mas¬ya¬rakat kita sekarang perlu adanya tero¬bo¬san serta perubahan ke arah kebijakan dan pola pikir yang lebih baik, yaitu terjadinya pergeseran paradigma dari yang mencari kerja atau bekerja menjadi menciptakan lapangan kerja atau yang dikenal dengan wirausaha. Pendapat ini sejalan dengan semangat wirausaha nasional dan industri kreatif yang dica¬na¬ngkan pemerintah. Sejenak kita ber¬kaca kepada negara-negara maju seperti Amerika, berdasarkan sumber yang diperoleh negara ini termasuk memiliki stabilitas ekonomi yang baik dikarenakan hampir semua generasi mudanya yang produktif memiliki usaha dan bekerja pada sektor-sektor penting. Nah, sudah seharusnya pemerintah Indonesia ber¬kaca kepada negara-negara yang sudah sukses dengan konsep wirau¬sa¬ha mu-danya. Salah satu alternatif solusi yang penulis tawarkan dengan me¬ngin¬teg¬ra-sikan nilai-nilai dan prinsip-prinsip wirausaha ke dalam proses pembelajaran, terutama pada pembelajaran praktikum di SMK, Politeknik dan Universitas yang terdapat Fakultas Teknik. Secara umum konsep wirausaha terdapat dua kata kunci penting yang wajib diterapkan pada proses pem¬be¬lajaran yaitu kreativitas dan inovasi. Proses pembelajaran selama ini belum menyentuh konsep kreativitas dan inovasi sehingga arah pembelajaran hanya sebatas tuntutan mata pelajaran atau mata kuliah. Selanjutnya proses pembelajaran yang coba diterapkan bukan hanya sebatas menghasilkan output tetapi juga outcome, hal ini terlihat dari proses pembelajaran pada mata pelajaran atau mata kuliah praktikum yang akan menghasilkan produk yang sudah melalui need analysis di mas¬yarakat dengan harga yang terjangkau dan berkualitas. Misalkan kebutuhan masyarakat akan penerangan baik di desa dan diperkotaan sangat menjadi kebu¬tu¬han utama, namun penerangan ini masih tergantung dari sumber listrik dan lampu yang memiliki keterbatasan usia pema¬kaian. Nah, dari kasus ini siswa atau mahasiswa dapat mengembangkan dan membuat sebuah produk lampu yang berfungsi sebagai penerangan dengan usia pemakaian yang dapat bertahan lama serta tidak menggunakan sumber energi listrik. Sudah saatnya generasi muda Indonesia menjadi lokomotif perubahan bangsa yang didukung oleh semua stakeholder baik tingkat peme¬rintah maupun masyarakat. Pada akhir¬nya penulis mengajak kita semua berfikir ber¬sama betapa banyaknya warga negara Indonesia yang menjadi Tenaga Kerja di Luar Negeri yang diperas dan ditindas, salah satunya terjadi kesenjangan antara yang di pelajari selama ini belum men¬yen¬tuh kebutuhan dan belum menjawab problematika di masyarakat, sehingga yang ada masyarakat Indonesia hanya di bentuk sebagai konsumtif bukan sebagai crea¬tor. Sehingga sudah saatnya peme¬rin¬tah Indonesia melakukan evaluasi terhadap kurikulum, yang bukan hanya menjadikan lulusan dari sekolah maupun perguruan tinggi sebagai pekerja dan mencari kerja namun mampu membuka lapangan kerja.

 

Baca Juga :




 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan